Iman dan Kebudayaan

Iman pertama-tama dan terutama menyangkut hubungan manusia dengan Allah. Akan tetapi, manusia tidak hidup sendirian melainkan di dalam masyarakat, dan khususnya bersama dengan orang di kanan-kirinya. Maka, benar juga bahwa “Allah menyelamatkan orang-orang bukannya satu persatu, tanpa hubungan satu dengan lainnya” (LG 9). Hidup sosial dan kebudayaan menentukan hidup manusia yang konkret dan oleh karena itu juga menentukan iman dan agamanya. Iman yang lepas dari kehidupan masyarakat dan kebudayaan, bukanlah iman yang konkret dan sebetulnya bukan iman yang benar. Iman yang konkret selalu menyangkut hidup yang konkret, dan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat serta kebudayaan. Maka kebudayaan bukanlah sesuatu yang asing bagi iman. “Inkulturasi” sebetulnya sesuatu yang aneh, seolah-olah ada iman di luar kebudayaan dahulu, yang kemudian mencoba masuk ke dalam suatu kebudayaan tertentu dan “mengenakan” kebudayaan itu bagaikan pakaian. Iman dari semula dihayati dalam suatu kebudayaan tertentu dan senantiasa mendapat bentuk yang baru. Namun iman tidak pernah terikat pada satu kebudayaan atau bahasa. Konsili Vatikan II malah berani berkata, bahwa Allah sendiri “telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman” (GS 58). Tidak semua orang akan setuju dengan pernyataan ini. Ada agama yang berpendapat bahwa wahyu Allah terikat pada bahasa dan kebudayaan tertentu, dan bahwa “terjemahan” dalam kebudayaan lain, bukan lagi wahyu Allah yang asli.

Dalam agama Kristen, khususnya dalam Gereja Katolik, ada pandangan yang lain. Wahyu berarti Allah yang menyapa manusia, dan iman itu jawabannya. Maka, supaya wahyu itu berarti bagi manusia, Allah berbicara dengan bahasa manusia, dan manusia menjawab dengan bahasa serta kebudayaannya sendiri. Khususnya kalau orang mulai berpikir mengenai imannya dan berbicara dengan orang lain, mau tidak mau, ia harus memakai bahasa dan kebudayaan yang ada di dalam masyarakat. Kalau tidak, ia tidak dapat berpikir dan tidak dapat berbicara. Maka di tempat yang sama Konsili Vatikan II juga berkata, “Gereja, di sepanjang zaman dan dalam pelbagai situasi, telah memanfaatkan sumber-sumber aneka kebudayaan, untuk menyebarluaskan dan menguraikan pewartaan Kristus kepada semua bangsa, untuk menggali dan makin menyelaminya, serta untuk mengungkapkannya secara lebih baik dalam perayaan liturgi dan dalam kehidupan jemaat beriman yang beranekaragam”. Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang sangat istimewa, sebab “kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa adalah kenyataan kebudayaan yang hidup dan dihayati oleh sebagian bangsa kita. Pada dasarnya, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu merupakan warisan dan kekayaan rohaniah rakyat kita” (Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 1978). Semua agama besar yang sekarang diakui oleh pemerintah, datang dari luar negeri: Hindu dan Budha datang dari India (abad ke-5 dan ke-6), Islam dari Arab melalui India (abad ke-13), Kristen dari Palestina lewat Eropa (abad ke-12 dan ke-16). Semua ditampung dan disambut dalam kebudayaan Indonesia dan mendapat bentuknya sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Supaya dapat dihayati secara konkret, semua agama mengambil wujud kebudayaan masyarakat. Maka dari sudut kebudayaan dan bahasa tidak ada perbedaan yang terlampau besar antara agama-agama di Indonesia. Sama-sama berbahasa dan berkebudayaan Indonesia, dan sama-sama juga menghadapi masalah perubahan kebudayaan Indonesia dalam zaman modernisasi dan globalisasi. Perubahan dalam cara berpikir dan dalam cara bergaul serta dalam penghayatan hidup sendiri, tak dapat tidak mempengaruhi penghayatan iman juga, dim terutama mengubah pengungkapan dan komunikasi iman. Maka iman yang sama dihayati dalam bentuk agama yang berbeda atau berubah.

Sering kali timbul kesulitan oleh karena orang kurang membedakan antara iman dan agama. Bentuk penghayatan iman sebagaimana ada sekarang, dan yang sering kali diwarisi turun-temurun, dialami dan dipandang sebagai kehendak dan perintah Allah sendiri. Padahal banyak hal berkembang dalam sejarah dan berkaitan langsung dengan situasi dan kondisi-umat pada waktu tertentu. Oleh karena itu agama perlu dikaji terus-menerus, apakah masih merupakan wahana iman yang benar atau terlampau dipengaruhi oleh unsur-unsur lain dari masyarakat dan kebudayaan, Sering kali kata-kata dan istilah dari satu agama masuk ke dalam yang lain melalui bahasa dan kebudayaan. Itu tidak perlu ditakuti, tetapi harus disadari dan diwaspadai. Orang menghayati iman kepada Allah bukan sendirian, tetapi dalam hubungan dengan orang lain. Kendati demikian, iman tetap merupakan sikap pribadi, yang menuntut tanggung jawab pribadi. Betapa pun terintegrasikan ke dalam masyarakat dan kebudayaan, iman tidak pernah dapat menjadi sikap ikut-ikutan saja. Di dalam masyarakat dan kebudayaan, orang beriman selalu berusaha menghayati hubungannya dengan Allah secara pribadi dan bertanggung jawab.

Setiap agama juga mempunyai bahasa yang khusus, sebab bahasa agama ditentukan bukan hanya oleh situasi aktual, tetapi (terutama) oleh sejarah dan tradisi. Di sini perlu ditemukan suatu keseimbangan, jangan-jangan kata-kata yang khusus itu juga bagi para penganut agama sendiri berbau asing dan sebetulnya tidak jelas. Hal itu berlaku lebih lagi bagi bahasa teologi, yang tidak hanya tergantung pada tradisi agama dan situasi kebudayaan setempat, tetapi juga pada tuntutan ilmiah. Sebagai suatu ilmu, teologi harus memakai bahasa ilmiah. Tetapi perlu dihindarkan agar bahasa teologi tidak dipakai sebagai bahasa agama, supaya semua orang yang bukan ahli teologi tidak merasa asing terhadap agamanya sendiri. Teologi bukan iman, melainkan refleksi (ilmiah) atas iman, Oleh karena itu, bahasa teologi tidak sama dengan bahasa iman dan juga tidak sama dengan agama.

Apa yang anda pikirkan?