Iman dan Akal Budi

Yesus menghadirkan sabda Allah. Hal ini hanya mempunyai arti, kalau orang tahu – biarpun kabur – mengenai Allah yang mengutus-Nya. Tetapi iman menyangkut hidup manusia seluruhnya, budi dan hati serta kehendak. Memang iman bukan hanya soal hati dan emosi, atau moral dan kewajiban. Rasionalitas adalah unsur hakiki kehidupan manusia, maka juga iman tidak mungkin tanpa rasionalitas. Tetapi rasionalitas iman pertama-tama berarti pertanggungjawaban iman sebagai sikap manusia yang sekaligus rasional, emosional dan moral, dalam perjumpaan manusia dengan Allah.

Hubungan iman dengan •akal budi sudah selalu dipermasalahkan, baik Dalam sejarah masa lampau maupun masa kini. Sering kali kesulitan muncul dari cara berpikir yang seluruhnya ditentukan oleh metode ilmu-ilmu, khususnya ilmu empiris. Sifat menyeluruh dari iman sulit dapat dimengerti oleh pandangan yang rasional, apalagi yang rasionalistis. Karena iman merupakan sikap, maka rasionalitas iman pertama-tama menyangkut motivasi atau alasannya: Mengapa orang percaya dan menyerahkan diri seluruhnya kepada Tuhan, sebagaimana Ia mewahyukan diri secara konkret dalam suatu peristiwa sejarah, yang bersifat unik dan khusus. Dengan demikian rasionalitas menyangkut analisis (rasional) mengenai pengalaman khusus hidup manusia. Sebab dalam diri manusia, dalam arah atau perspektif budi dan hatinya, harus dicari dasar untuk sikap hidup yang disebut iman.

Iman tidak terlepas dari pengalaman hidup dan pengalaman religius yang terkandung di dalamnya. Rasionalitas iman merumuskan pengalaman dasar sedemikian rupa, sehingga dapat dikomunikasikan kepada orang lain. Sebagai sikap manusiawi iman dapat dirumuskan dalam kata-kata yang dapat dimengerti oleh setiap orang yang mau berpikir mengenai hidupnya sendiri, sejauh orang beriman mau berpegang pada “bahasa umum” dan tidak mengurung diri di dalam logat suatu ilmu tertentu.

Dari pihak ilmu ada satu tuntutan lagi yang pantas diperhatikan oleh iman: jangan a priori, jangan mengambil sikap sebelum mengenal situasi, selalu bersikap kritis, pertama-tama terhadap pikiran dan pandangannya sendiri. Setelah mengambil sikap yang dapat dipertanggungjawabkan, perlulah juga merumuskannya sedemikian rupa sehingga dapat mengkomunikasikannya kepada orang lain. Pendapat orang lain dapat menolong untuk menilai dan meninjau kembali secara kritis pendapatnya sendiri. Fanatisme tertutup mengubah iman menjadi ideologi, yang tidak lagi berdasarkan pengalaman melainkan kepicikan pandangan.

Yang pokok dalam iman adalah pengalaman menyerahkan diri secara total kepada Allah. Sifat rasionalnya tampak dari refleksi atas pengalaman itu, bukan dari teori-teori mengenai Allah dan pengalaman. Refleksi dan perumusan jatuh nomor dua, iman sebagai sikap dan penyerahan adalah yang pertama. Iman adalah rasional bukan karena dibuktikan, tetapi karena dipertanggungjawabkan.