Iman akan Penciptaan

Kepercayaan akan karya penciptaan mengkonkretkan iman akan Allah sebagai Pencipta. Dan “Allah yang sama adalah Penyelamat dan Pencipta, Tuhan sejarah manusia dan sejarah keselamatan” (GS 41). Iman akan penciptaan berkembang berdasarkan wahyu, bahwa “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (Rm 15:6) adalah “Tuhan langit dan bumi” (Mat 11:25). Sebagaimana dalam Perjanjian Lama, iman akan penciptaan didahului oleh iman akan Perjanjian, begitu juga dalam Perjanjian Baru pengalaman kemakhlukan diintegrasikan ke dalam iman akan Yesus (lih. Yoh 1:3.10; 1Kor 8:6; Kol 1:13-17; Ibr 1:2). Allah, yang dalam pengalaman akan kemakhlukan dialami sebagai Rahasia, dalam iman dikenal sebagai “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang” (lih. Kis 3:13) dan sebagai “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus”. Iman akan penciptaan mengakui kemakhlukan manusia sebagai dasar yang diletakkan oleh Allah guna menghubungi manusia secara pribadi dalam kesatuan dengan Kristus.

Penciptaan merupakan langkah pertama pemberian diri Allah. Pertama-tama, Allah mewahyukan diri dalam penciptaan. Kemudian Ia mewahyukan diri, khususnya sebagai Bapa, dengan mengutus Putra-Nya (“yang lahir dari Bapa sebelum segala abad; dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya”). Dan akhirnya dalam pengutusan Roh Kudus (yakni “Tuhan yang menghidupkan, yang berasal dari Bapa dan Putra”) Ia mewahyukan diri dalam setiap orang. Tetapi tiga tahap atau langkah itu adalah satu. Maka dengan tepat Kristus disebut “yang sulung dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol 1:15-17). Dalam iman pemahaman penciptaan berpangkal pada Kristus. Dia adalah Firman yang “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yoh 1:3). “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol 1:15; 2Kor 4:4). Dia adalah yang sulung. Dan di dalam Dia semua orang diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:27; Kol 3:10; 2Kor 3:18).

Allah dan makhluk-Nya bersatu, namun tidak sama. Begitu juga sejarah Allah dan perkembangan dunia bersatu, namun tidak sama. Konsili Vatikan II mengatakan,

“Kemajuan duniawi harus dengan cermat dibedakan dari pertumbuhan Kerajaan Kristus, namun kerajaan itu sangat penting bagi Kerajaan Allah, sejauh dapat membantu untuk mengatur masyarakat manusia secara lebih baik” (GS 39).

“Rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, sekarang oleh Gereja diberitahukan, sesuai dengan rencana abadi, yang telah dilaksanakan dalam Kristus Yesus” (Ef 3:9-11). Rencana keselamatan Allah, yang mendasari karya penciptaan, menjadi nyata dalam Kristus yang diwartakan oleh Gereja. Di dalam Kristus sejarah Allah dan sejarah manusia bertemu, sebab Ia adalah “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:5).