Ia akan Kembali dengan Mulia

Dalam kisah kenaikan para malaikat sudah menegur rasul-rasul dan berkata: “Yesus yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kis 1:11). Yesus dinantikan kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman. Hal itu kerap kali dikatakan dalam Perjanjian Baru (lih. mis. Mat 19:28; 24:3; Mrk 13:26; 1Tes 2:19; 3:13; 4:15; 5:23; 1Kor 1:7; 15:23; 1Ptr 1:7). Doa jemaat perdana juga ditandai oleh pengharapan itu: “Amin, datanglah Tuhan Yesus” (Why 22:20; bdk. 1Kor 16:22).

Gereja perdana yakin bahwa “Kristus harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu” (Kis 3:21), tetapi pada akhir zaman Ia akan menampakkan diri. “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Pada waktu itu pun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit” (Mrk 13:26-27; bdk: Luk 17:22-30; 21:25-36).

Khususnya dalam Injil Matius kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman (Mat 24:26-31) dikembangkan menjadi gambaran pengadilan terakhir (Mat 25:31-46), dan dengan banyak perumpamaan ditegaskan bahwa orang harus siap (lih. Mat 24:32-51; 25:1-30). Dalam Perjanjian Lama sudah disebut “hari Tuhan” (mis. Am 5:18- 10; Zef 1:14). Dalam Perjanjian Baru hari itu disebut “hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor 1:8; Flp 1:6; bdk. 1Tes 5:2). Yang dimaksud ialah “hari, bilamana Allah akan menghakimi segala sesuatu oleh Kristus Yesus” (Rm 2:16): “Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus” (2Kor 5:10; bdk. Rm 14:10). Semua itu dirangkum dalam syahadat: “Ia akan kembali [dengan mulia], mengadili orang yang hidup dan yang mati”.

Dalam Why 20:2 dikatakan bahwa setan diikat untuk 1000 tahun, dan selanjutnya dalam ay. 5 dikatakan “Orang-orang mati tidak bangkit sebelum berakhir masa 1000 tahun itu”. Dari teks itu, berulang kali dalam sejarah Gereja timbul pandangan yang disebut khiliasme (bahasa Yunani, khilias = 1000), mulai dengan Montanisme (abad ke-2) sampai dengan kaum Adventis dan saksi Yehova. Ajaran mereka ialah bahwa kedatangan Kristus dalam kemuliaan akan terjadi sesudah Kristus meraja di dunia selama ± 1000 tahun. Ada orang lain yang mengajarkan bahwa sekarang sudah ada kerajaan 1000 tahun itu, dan bahwa akhir zaman akan datang dengan segera. Yang paling penting ialah bahwa dalam pengharapan mereka tekanan tidak ada pada pribadi Kristus, tetapi pada kemuliaan kerajaan-Nya, yang tentu juga akan dinikmati oleh para pengikut-Nya. Yesus dengan jelas mengatakan bahwa “tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu” (Mrk 13:32). Dengan demikian, semua pikiran dan teori mengenai akhir zaman sebetulnya tidak punya dasar dan terutama tidak berguna. Yang baik dalam teori-teori ini ialah bahwa Kerajaan Kristus sekarang ini sudah mulai dilaksanakan. Hanya saja cara penggambarannya sering bersifat fantastis.

Mengenai pengadilan seharusnya dibedakan dua tema:

  1. Allah atau Kristus yang menghakimi; dan 
  2. manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya.

Gagasan yang pertama sebetulnya berasal dari pandangan Israel bahwa Tuhan membela bangsa-Nya dan akan menghukum musuh-musuhnya. “Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran” (Mzm 9:9). Kemudian gagasan itu juga dikenakan pada Israel sendiri (lih. mis. Am 3:2), dan dalam Perjanjian Baru juga pada Gereja (Mat 25:31-46; Why 20:11-15). Tetapi dalam Perjanjian Baru semakin ditonjolkan tema yang kedua, yaitu tanggung jawab manusia atas perbuatan-perbuatannya (lih. mis. Luk 16:19-31). Lebih khusus dikatakan bahwa orang diadili menurut sikap yang diambil terhadap Yesus di dunia ini (lih. mis, Yoh 15:22; 9:39-41).

Namun pengadilan tidak boleh dilihat sebagai semacam “balas dendam”, bahkan tidak sebagai “balas jasa”. Lebih tepat kalau pengadilan dilihat sebagai penampilan manusia di muka umum dalam keadaannya yang sesungguhnya. Pengadilan berarti bahwa manusia berhadapan dengan Allah, yang tidak dapat ditipu. Kapan dan di mana manusia berkonfrontasi seperti itu dengan Allah, tidak dikatakan. Bahkan Injil Yohanes memberi kesan, seolah-olah pengadilan itu sudah terjadi di dunia ini: “Barangsiapa mendengarkan perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24; lih. 12:31; 16:8). Tetapi pada umumnya diterima bahwa kematian itu saat ketika manusia sungguh berhadapan muka dengan Allah, dan perbedaan antara “pengadilan perseorangan” dan “pengadilan umum” tidak boleh terlampau dipentingkan.

Memang kedua hal itu tidak tepat sama, sebab dalam diri manusia sendiri harus dibedakan pusat kepribadian rohani dan keterlibatan dalam dunia material melalui tubuh. Karena ketegangan antara jiwa dan badan, yang juga dapat disebut pertentangan antara aktivitas dan pasivitas manusia, kiranya perlu dibedakan pengadilan perseorangan dan pengadilan umum. Dalam penampilan manusia di hadapan Allah, yang berarti penampilan manusia menurut bobot dan nilai yang sesungguhnya, perlu dibedakan (tetapi tidak dipisahkan) segi pribadi-rohani dan segi kosmis-sosial. Kedua segi kehidupan manusia mempunyai arti dalam penampilannya di hadapan Allah. Maka pengadilan perseorangan tidak boleh ditonjolkan sedemikian rupa, sehingga pengadilan umum hanya menjadi semacam “tontonan” pada akhir zaman. Tetapi meleburkan manusia dalam sejarah dunia dan tidak memperhatikan segi pribadinya, juga tidak melihat manusia secara utuh dan penuh. Lebih baik pengadilan perseorangan dan pengadilan umum dilihat sebagai dua aspek dari satu pengadilan, dan oleh karenanya kedua hal itu tidak boleh terlampau dipisahkan. Pandangan bahwa pengadilan perorangan terjadi pada akhir sejarah perorangan, dan pengadilan umum pada akhir sejarah dunia, kiranya kurang tepat. “Di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (2Ptr 3:8). Di hadapan Tuhan perkembangan waktu sudah tidak ada artinya lagi.

Lukisan pengadilan umum dalam Kitab Suci lebih dimaksudkan untuk menggambarkan kemuliaan Kristus daripada nasib manusia. Nasib manusia ditentukan oleh sikapnya terhadap wahyu Allah dalam diri Yesus: “Barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat yang kudus” (Mrk 8:38).