Hubungan Yesus dengan Allah

Bukan hanya Paulus (dalam 1Kor 8:6) yang membedakan antara Kristus Tuhan dan Allah Bapa. Yesus sendiri dalam Injil menyatakan perbedaan itu. Kepada seseorang yang menyebut-Nya “Guru yang baik” Yesus menjawab: “Tak seorang pun yang baik, selain Allah saja” (Mrk 10:18). Begitu juga kepada para Rasul Ia berkata, “Tentang hari (kiamat) itu, tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja” (Mrk 13:32). Maka sudah sewajarnya bahwa Gereja para Rasul pun dengan jelas membedakan antara Yesus dan Allah. Allah disebut “Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2Kor 1:3; Ef 1:3; 1Ptr 1:3). Itu berarti bahwa Ia “Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia” (Ef 1:17), sebab “Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:5). Tetapi justru karena Dia pengantara, ia berhubungan dengan kedua-duanya sebab “seorang pengantara tidak mewakili satu pihak saja, sedangkan Allah adalah satu” (Gal 3:20).

Kristus mempertemukan keduanya dalam diri-Nya. Maka dalam doa pada perjamuan terakhir Ia juga berkata, “Inilah hidup yang kekal, mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan [mengenal] Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17 :3). Gereja menghadap Allah “dengan perantaraan Yesus Kristus” (Rm 1:8; 5:1; 16:27; 2Kor 1:20; Ef 2:18; Ibr 7:25; 10:19-22; 13:15; 1Ptr 2:5; 4:11). Kristus membawa Allah kepada manusia dan membawa manusia kepada Allah. Di dalam Kristus manusia bertemu dengan Allah dan Allah bertemu dengan manusia. Allah adalah “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani” (Ef 1:3). “Dalam Dia berdiam seluruh: kepenuhan keallahan secara badaniah” (Kol 2:9), tetapi supaya kita pun “dipenuhi di dalam Dia” (ay. 10; lih. Ef 3:19; 4:10; Flp 2:6-7).

Kristus bersatu dengan Allah dengan cara yang lain daripada semua manusia atau makhluk yang lain. Oleh karena itu kesatuan Kristus dengan Allah sebenarnya tak dapat dirumuskan atau dipahami oleh manusia. Yang dapat dinyatakan hanyalah perbedaannya. Manusia biasa, kalau masuk dalam dirinya sendiri, juga menemukan dirinya sendiri. Dari dirinya sendiri ia kemudian dapat mengarahkan hatinya kepada Allah.

Lain halnya dengan Yesus. Kalau Yesus masuk dalam diri-Nya sendiri, Ia langsung menemukan Allah dalam kesatuan dengan diri-Nya. Seluruh kepribadian-Nya ditentukan oleh kesatuan dengan Allah, Bapa-Nya. Pertemuan antara Allah dan manusia, yang berpangkal pada Allah, mengangkat manusia ke dalam kesatuan dengan Allah. Proses itu mulai dalam diri Yesus, yang merupakan pertemuan itu sendiri. Maka sebetulnya proses itu juga tidak mulai di dunia, tetapi mulai sebelum segala abad. Pertemuan Allah dengan manusia termasuk rencana keselamatan Allah yang abadi. Oleh karena itu Yohanes juga dapat berkata: “Pada mulanya adalah Firman” (Yoh 1:1).

Dari satu pihak Kristus sepenuh-penuhnya seorang manusia, yang bersatu-padu dengan seluruh umat keturunan Adam. Dari pihak lain, Ia juga merupakan jalan kepada Allah dan dari Allah. Ia juga dengan sepenuh-penuhnya bersatu-padu dengan Allah guna mempertemukan manusia dengan Allah. Allah ada di dalam diri-Nya, bukan untuk dimiliki sendiri melainkan untuk dipertemukan dengan semua orang. Ia adalah benar-benar Allah untuk manusia.