Hormat terhadap Misteri

Kita sudah melihat bahwa hidup kita merupakan suatu misteri. Allah sebagai sumber, penopang, dan tujuan hidup kita merupakan misteri pula. Kalau kita mencintai dan menghormati hidup kita, maka kita pun harus menghormati sumber dan penopang hidup kita, yaitu dengan menghormati nama-Nya.

Dalam Kitab Suci firman kedua dirumuskan sebagai berikut: “Jangan menyebut nama Yahwe, Allahmu, dengan sembarangan” (Kel 20:7; Ul 5:11). Jadi, orang boleh menyebut nama Tuhan, asalkan tidak “dengan sembarangan”, Dengan kata lain, orang tidak boleh menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat, tidak dengan maksud yang baik, begitu saja seperti omong kosong, singkatnya menyalahgunakan nama Tuhan. Itu dapat berarti sumpah palsu, magi, kutukan, hujat, nubuat penipu, janji kosong, pendek kata segala omongan yang menipu, menyesatkan, atau merugikan. Namun selanjutnya firman ini mempunyai arti yang lebih luas: melarang segala penggunaan nama Tuhan tanpa menghormati kedaulatan-Nya, sebab nama Tuhan itu suci. “Jika engkau tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini, yakni akan Tuhan Allahmu, maka Tuhan akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu” (Ul 28:58). Hormat akan nama Tuhan berarti hormat kepada Tuhan sendiri, dengan sujud dan kagum, dengan tunduk dan cinta.

1. Tuhan itu Misteri

Perintah kedua bukanlah larangan saja, Di dalamnya terkandung perintah dan desakan agar senantiasa menghormati Tuhan. Allah adalah sumber, penopang, dan tujuan hidup. Dengan mengakui dan menghormati Allah, manusia mengakui dasar hidupnya sendiri. Hormat manusia kepada Allah bukan soal kata-kata saja, melainkan benar-benar berasal dari pengalaman hidup itu. Hormat kepada Allah bukan soal adat dan kebiasaan, melainkan sikap pribadi. Janganlah kata Allah menjadi kata hampa, rumus tanpa isi. Memang benar, “tidak seorang pun yang pernah melihat Allah” (Yoh 1:18); Ia “bersemayam dalam terang yang tak terhampiri” (1Tim 6:16). Tetapi Dia itu Pencipta dan Penguasa hidup kita. Dan “apa yang tidak tampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak pada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm 1:20). Hormat kepada Allah menuntut hormat kepada hidup, khususnya akan misteri hidup. Dengan mendalami hidupnya sendiri, manusia dapat meraba dan merasakan misteri Allah sendiri.

Misteri tidak sama dengan rahasia. Misteri tidak seluruhnya tersembunyi. Misteri dapat dijangkau dan didalami, tetapi tidak pernah dapat dipahami atau dijelaskan dengan tuntas, sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi, sebab misteri menyangkut pribadi, person, baik pribadi manusia maupun – terutama – pribadi Allah. Oleh karena itu misteri bukan hanya soal budi dan pengetahuan, melainkan lebih-lebih soal hati dan cinta kasih. Manusia, kalau masuk dalam hatinya sendiri, mengetahui bahwa hidupnya tidak dapat diterangkan dengan beberapa rumus. Hidup bukan hanya hasil proses biologis, aturan sosial, atau sejumlah hukum psikologi. Hidup adalah pertama-tama sesuatu yang dialami dan dihayati dalam kedaulatan pribadi.

Oleh karena itu, manusia mengetahui bahwa ia hidup tetapi ia tidak dapat merumuskan pengetahuan itu secara tuntas, Hidup adalah “misteri”, lebih luas dan lebih besar daripada rumus-rumus ilmiah. Banyak ilmu mencoba menangkap hidup manusia dalam sistem kata dan angka. Tetapi yang ada dalam hati orang mengatasi keterbatasan kata dan angka. Sering dia sendiri tidak menangkap misteri hatinya, apalagi orang lain. Yang paling khas dari hidup manusia adalah transendensinya: ia mengungguli segala rumus dan paham yang terbatas. Hidup tak pernah ditangkap penuh dengan bahasa dan rencana orang, Segala pengetahuan manusia yang konkret dengan sendirinya terbatas, Tetapi keterbukaan manusia, baik budi maupun hatinya, tidak mengenal batas. Dalam transendensinya manusia terbuka terhadap seluruh. kebenaran dan segala kebaikan hidup, Ia selalu dapat bertanya lagi, dan senantiasa mengejar tujuan yang lebih luhur lagi. Keterbukaan tanpa batas ke dalam dunia adalah keterarahan manusia kepada misteri.

2. Mengalami Yang Tak Terbatas

Hidup manusia sekaligus terbatas dan tak terbatas. Terbatas dalam pengalaman yang konkret, tak terbatas dalam keterbukaan kepada misteri. Keduanya dialami bersama-sama dalam setiap langkah hidup manusia, tetapi teristimewa dalam kematian, sebab di situ manusia harus bertanggung jawab atas saatnya yang terakhir, Dasar bertanggung jawab ialah kehidupan sendiri. Tetapi tidak hanya dalam kematian manusia mengalami dua pola kehidupan itu. Dalam semua pengalaman hidup sehari-hari, manusia harus mengakui bahwa hidupnya sekaligus terbatas dan tak-terbatas, Cita-cita dan keterarahannya ke masa depan yang gemilang tidak mengenal batas; tetapi dalam pelaksanaan, dalam pengetahuan dan usaha-usaha, manusia selalu ditentukan oleh sasaran yang terbatas. Malahan kita terpaksa harus mengakui sering kali tidak mampu melaksanakan cita-cita yang luhur itu. Dalam saat-saat tertentu manusia mengalami dengan pahit sekali, bahwa ia tidak mampu melakukan yang ingin dibuatnya, entah karena keterbatasan fisik atau psikis, entah karena ketidakberdayaan moral (bdk, Rm 7:15). Mau tidak mau, manusia harus mengakui bahwa ia mempunyai hidup, tetapi tidak berkuasa atas hidup.

Manusia bukan tuan atas hidupnya. Ia harus mengakui bahwa hidup ini diberikan kepadanya. Memang benar, manusia boleh mengalami hidup sebagai hidupnya sendiri dan merasakan kekuatannya sebagai kekuatannya sendiri. Akan tetapi, sekaligus ia harus mengakui keterbatasannya. Ia tidak dapat melaksanakan hidup menurut kehendak dan cita-citanya sendiri saja. Dari pengalaman bahwa hidup ini di satu pihak benar-benar hidup manusia sendiri namun di pihak lain hidup itu tidak ada dalam kuasanya sendiri, manusia harus mengakui hidup ini sebagai pemberian, anugerah, dan rahmat, Dan dari mana sebetulnya hidup ini diberikan, itulah misteri hidup sendiri. Pemberi hidup, yang disebut Allah, adalah kepenuhan misteri, Dengan nama Allah terungkap misteri segala misteri. Hidup manusia berakar dalam misteri, dan misteri itu harus diakui dan disembah, dalam kehormatan bagi hidup. Karena itu, “Hormatilah nama Allah.”

3. Akulah yang Selalu Hadir

Ketika Musa dipanggil, Tuhan menampakkan diri dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Itu terjadi di padang gurun dekat gunung Horeb. Semula Musa tidak mengetahui apa yang terjadi. Tetapi ketika disuruh melepaskan sandalnya, ia mengetahui bahwa ia sedang berhadapan dengan Yang Mahatinggi. Tuhan memang memperkenalkan diri: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:1-6). Lalu Tuhan mengutus Musa mengantarkan umat Israel keluar dari Mesir, Pada waktu itu Musa menjadi takut dan meminta tanda bukti: “Apabila aku berkata kepada orang Israel: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya: Siapa nama-Nya, apa yang harus ku jawab?” (ay. 13). Lalu Tuhan menjawab, “Aku adalah Aku; beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu”,

Apa maksud jawaban itu? Apakah Tuhan mau menyingkapkan misteri-Nya atau justru menyembunyikannya? Kalau diterjemahkan “Aku adalah Aku”, tampaknya Tuhan mau menyembunyikan misteri-Nya. Tetapi dalam ayat sebelum dan sesudahnya Tuhan menyebut diri “Allah nenek moyang”, yakni “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub”. Tuhan tidak memperkenalkan diri sebagai Allah tersembunyi, melainkan sebagai Tuhan yang sudah mewahyukan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, dan melalui mereka sudah dikenal oleh seluruh bangsa Israel. Khususnya kepada Musa sudah dikatakan sebelumnya: “Aku menyertai engkau’’ yang secara harfiah berarti “Aku hadir padamu”, Sekarang ditegaskan: “Aku akan hadir sebagaimana Aku sudah hadir”; atau seperti dikatakan dalam kitab Wahyu: Aku “Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” (Why 1:4.8). Jadi, Tuhan itu senantiasa beserta kita, selalu hadir dan tidak akan meninggalkan kita. Sungguh suatu misteri, karena kita tidak mengetahui bagaimana Ia hadir, sementara kita tetap yakin dengan pasti bahwa Ia selalu hadir dan tidak akan melepaskan kita. Itulah Tuhan, Allah kita.

4. Kerelaan Menerima Hidup dari Tangan Allah

“Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah,” kata St. Yohanes, “tetapi Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Ini tidak berarti bahwa Yesus pernah membeberkan faham Allah bagi manusia Yesus berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya (Yoh 5:18). Kepada orang Yahudi Ia menjelaskan: “tentang Dia kamu berkata: Dia adalah Allah kami” (Yoh 8:54). Sebelum Yesus berbicara mengenai Bapa-Nya, orang sudah harus mengetahui dari dirinya sendiri siapa Allah. Pengetahuan ini tidak diperoleh dari orang lain, juga tidak dari Yesus. Pengetahuan ini berasal dari pengenalan diri kita sendiri, dari pengakuan misteri hidup kita sendiri. Dengan menerima hidup sebagai pemberian dan anugerah, secara tidak langsung kita mengakui Sang Pemberi. Jadi, manusia tidak langsung mengenal Allah. Ia terlebih dahulu mengenal dirinya sendiri sebagai anugerah dari Dia yang diakui sebagai Allah. Mau menerima hidup dari tangan Allah merupakan kepercayaan dasar yang kemudian menjadi asas segala pembicaraan mengenai Allah. Hanya dengan masuk ke dalam diri kita sendiri, kita mengetahui apa yang dimaksud dengan nama “Allah”. Demikianlah, kerelaan menerima hidup dari tangan Allah adalah kepercayaan dasar, sebab kepercayaan yang terbentuk dalam prakarsa yang merdeka ini merupakan dasar bahasa kita untuk selanjutnya berbicara dengan Allah.

Allah sendiri dan rencana keselamatan-Nya tetap tidak terjangkau, sebagaimana dikatakan baik oleh Kitab Suci maupun oleh Tradisi Gereja. Paulus dengan penuh raga kagum berseru: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya” (Rm 11:33). Dengan resmi pada tahun 1870 Konsili Vatikan I menyatakan, “Gereja percaya dan mengaku bahwa ada satu Allah yang mahakuasa, abadi, tak-terukur, tak-terjangkau, tak-terbatas pengetahuan dan kehendak-Nya serta segala kesempurnaannya” (DS 3001). Kesatuan dengan Allah inilah yang menjadi tujuan hidup manusia. Oleh karena itu, manusia diciptakan secara tak-terbatas, dan dalam keterbukaan seluas-luasnya. Kendati demikian, tak pernah ia akan mencapai Misteri tak-terbatas itu. Selama-lamanya ia terarah kepada Allah yang tak-terbatas, dan tak pernah perkembangan pengetahuan dan kebahagiaannya akan habis, karena telah mencapai apa yang dikejarnya. Baginya Allah senantiasa baru, dan “rahmat-Nya pun baru, setiap pagi” (Rat 3:23). Pengetahuan manusia akan Allah adalah keterbukaannya untuk misteri, penuh cinta dan hormat.

Sering kali manusia takut dan enggan menghadapi misteri Allah. Ia menghendaki kepastian dan pegangan. Itu sebabnya ada orang yang menyangkal misteri Allah demi kepastian ilmu, ada juga yang berusaha “memanipulasikan” misteri atau kekuatan Allah dengan magi atau takhayul. Dengan upacara-upacara, yang rahasia dan sering berbelit-belit, dicoba menguasai daya kekuatan ilahi yang mengatasi manusia, Barang-barang seperti batu, keris, mata air, dan pohon dianggap mempunyai kuasa yang mengatasi kekuatan manusia, dan dengan barang-barang itu mereka mencoba membela diri terhadap segala kekuatan gaib yang mengatasi kemampuan manusia. Dengan sendirinya jelas bahwa manusia menipu diri kalau mengira bahwa dengan sarana-sarana itu – ciptaan manusia sendiri – ia dapat menguasai misteri Allah. Di hadapan keagungan Allah, manusia harus mengakui keterbatasannya dan dengan diam menyembah Allah yang Mahaagung.

Hubungan manusia dengan Allah mulai dalam keheningan hatinya sendiri. Tuhan tidak ada dalam angin besar dan kuat. Tuhan juga tidak ada dalam gempa bumi atau dalam api. Elia menyadari kehadiran-Nya dalam sentuhan angin yang halus (1Raj 19:12). Orang hanya dapat mengenal kasih Allah “yang melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:19) dalam lubuk hatinya yang bebas dan terbuka. Perjumpaan ini dapat terjadi dalam kegelapan malam yang pekat atau dalam keriangan hari yang cerah. Tetapi perjumpaan itu tidak pernah akan terjadi dalam keributan yang menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, Orang tidak akan berjumpa dengan misteri Allah, kalau tidak mau melihat misteri hidupnya sendiri. Ini bukan ajaran yang khas Kristiani saja, melainkan pengalaman hidup semua orang yang dengan sungguh-sungguh mencari Allah.

Apa yang anda pikirkan?