Hormat terhadap Hidup

Perjanjian Baru tidak hanya melarang pembunuhan, tetapi ingin membangun sikap hormat dan kasih akan hidup. Waktu seorang muda bertanya mengenai apa yang harus ia lakukan agar memperoleh hidup kekal dan dengan bangga mengatakan bahwa perintah-perintah seperti “jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri” sudah ia turuti sejak “masa muda”-nya, Yesus menjawab dengan tegas: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin … kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Mrk 10:21). Perintah-perintah, termasuk perintah kelima, harus dijalankan dalam “kemiskinan”, artinya tanpa pamrih dan dengan mengikuti Yesus.

Apa artinya menjalankan firman kelima dengan mengikuti Kristus? Hal itu dijelaskan oleh sabda Yesus sendiri dalam Khotbah di Bukit: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: ‘Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa berkata kepada saudaranya ‘jahil’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5:21-22). “Membunuh” berarti membuang sesama dari persaudaraan manusia, entah dengan membunuhnya, entah dengan meng-kafir-kannya, entah dengan membencinya. Dalam lingkungan murid-murid Yesus, tidak membunuh saja tidaklah cukup! Murid-murid masih perlu menerima sesama sebagai saudara, dan jangan sampai mereka mengucilkan seseorang dari lingkungan hidup. Bahkan sering kali berbuat wajar saja tidak cukup; sebab “apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?” (Mat 5:46-47). Juga tidak cukup berbuat adil sesuai dengan pepatah “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Kejahatan harus diatasi dengan berbuat baik (bdk. Rm 12:17). Hambatan-hambatan psikologis dan sosial harus diatasi dengan mencari perdamaian (Mat-5:23-24). Hidup setiap orang harus dipelihara dengan kasih orang Samaria yang baik hati, yang mendobrak batas-batas kebangsaan, agama, dan sebagainya. Jangan sampai seseorang kehilangan hidupnya! Hidup manusia tidak boleh dimusnahkan dengan kekerasan; tidak boleh dibahayakan dengan sembrono (seperti sering dalam lalu-lintas); tidak boleh diancam karena benci (seperti yang mau diusahakan dengan guna-guna), karena setiap orang adalah anak Allah.

Akhir-akhir ini sadisme, sikap kasar terhadap hidup, cukup merebak di tanah air kita. Anak-anak muda sepertinya tertarik terhadap film-film, berita-berita, dan peristiwa-peristiwa yang bernapaskan kekerasan. Hal-hal seperti ini perlu diwaspadai dan diantisipasi penanganannya secara dini dan tepat.

Manusia hidup karena diciptakan dan dikasihi Allah. Karena itu biarpun sifatnya manusiawi dan bukan ilahi, hidup itu suci. Kitab Suci tidak ragu-ragu menyatakan bahwa nyawa manusia (yakni hidup biologisnya) tidak boleh diremehkan. Hidup manusia mempunyai nilai istimewa karena sifatnya yang pribadi (yang oleh Kitab Suci sering disebut dengan kata jiwa dan roli). Bagi manusia, hidup (biologis) adalah “masa hidup”, dan tak ada sesuatu “yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya” (Mrk 8:37). Dengan usaha dan rasa, dengan kerja dan kasih, orang mengisi masa hidupnya, dan bersyukur kepada Tuhan, bahwa ia “boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan” (Mzm 56:14). Memang, “masa hidup kita hanya tujuh puluh tahun” (Mzm 90:10) dan “di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap” (Ibr 13:14). Namun hidup fana merupakan titik pangkal bagi hidup yang diharapkan di masa mendatang, bila “kemah yang sejati didirikan oleh Tuhan, bukan oleh manusia” (Ibr 8:2).

Dengan demikian hidup yang fana ini menunjuk pada hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan, sesudah hidup yang fana ini dilewati. Hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan disebut – khususnya dalam Injil Yohanes – “hidup kekal” (Yoh 3:15.16). “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3). Dalam berbicara mengenai hidup yang kekal, Perjanjian Baru memakai kata khusus yang mengartikan hidup sebagai daya-kekuatan yang menjiwai pribadi seseorang. Kesatuan dengan Allah dalam perjumpaan pribadi memberikan kepada manusia suatu martabat, yang membuat masa hidup sekarang ini sangat berharga dan suci.

Apa yang anda pikirkan?