Hormat kepada Orangtua

Dasafirman tidak ditulis untuk anak kecil, melainkan untuk orang dewasa. Inilah prinsip umum, “Setiap orang di antara kamu harus menyegani ibunya dan ayahnya” (Im 19:3; bdk. Mal 1:16). Janganlah si anak lupa, bahwa “bapanya memberitahukan kesetiaan iman kepada anak-anaknya” (Yes 38:19). Memang, “seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya” (Kej 2:24). Ia akan membangun keluarga sendiri, dan hidup jauh dari orangtuanya. Kendati demikian, ia dituntut supaya menghormati orangtuanya:

“Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Demikian pula, kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kau maafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu. Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya” (Sir 3:12).

Dari kutipan di atas tampak bahwa hubungan orangtua dan anak tidak sama dengan suasana kehangatan, yang membuat anak-anak kerasan di rumah. Hormat pada ayah dan ibu juga lebih daripada kewajiban “bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan menaruh hormat kepada orang yang tua” (Im 19:32). Hormat ini juga tidak sama dengan sopan-santun. Hormat kepada orangtua berarti hormat kepada hidup, pemberian Allah, sebab melalui orangtua, dan melalui leluhur, turunlah hidup serta segala berkat dari Tuhan. Ketika Yakub “mencuri” berkat Ishak dari Esau, Esau menangis dengan suara keras dan mengeluh kepada bapanya, “Hanya berkat yang satu itukah yang ada padamu? Berkatilah aku ini juga, ya bapa” (Kej 27:38). Begitu penting berkat dari bapa, Maka kitab Sirakh berkata, “Rumah tangga anak dikukuhkan oleh berkat bapa, tetapi dasar-dasarnya dicabut oleh kutuk ibu” (Sir 3:9).

Yesus, dalam ajaran-Nya, sangat menekankan perintah Tuhan ini (Mrk 7:10; 10:19 dsj.). Dalam Ef 6:1 dikatakan: “Hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian” (bdk. Kol 3:20). Yang digunakan adalah kata “taatilah”, Kata itu juga dipakai untuk para hamba. Bahkan untuk istri pun dipakai kata “tunduk” (Ef 6:22), walaupun dalam ay. 21 dikatakan “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain”. Maksudnya, supaya semua berusaha hidup bersatu secara harmonis dalam Tuhan. Dengan demikian hormat kepada orangtua sebenarnya mendapat arti yang lain dibandingkan dengan yang terdapat pada Dasafirman.

Arti perintah “hormat kepada orangtua” itu akan menjadi lebih jelas bila kita memperhatikan situasi sosial budaya yang melatarbelakanginya. Sebagaimana diceritakan dalam kitab Keluaran dan Ulangan, Israel adalah bangsa yang masih mengembara mencari ladang bagi ternaknya atau yang baru menetap di tanah Kanaan. Di situ bapa keluarga adalah “raja”, yang harus membela hak keluarganya terhadap segala macam lawan dan musuh.

Keluarga Israel tradisional bersifat patriarkal, “Keluarga” disebut rumah ayah. Ketika Nuh mendapat perintah supaya memasuki bahtera, “engkau dan seisi rumahmu”, maka “masuklah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya, dan istrinya dan istri anak-anaknya” (Kej 7:1.7). Istri adalah milik suami (lih Kel 20: 17). Paling-paling ia mempunyai status seperti anak, sehingga janji-janjinya harus disahkan oleh suaminya (Bil 30:3-16). Yang menentukan adalah ayah, sampai orang berbicara mengenai “Yakub beserta turunannya” (Kej 49:8); dengan istilah itu dimaksudkan tiga angkatan. Kendati pun demikian, ibu keluarga mempunyai kuasa praktis yang amat besar, sebagaimana tampak dari campur tangan Ribka dalam hal hak anak sulung Yakub dan Esau (Kej 27:5-17). Maka, perlu dibedakan antara status sosial sang suami dalam masyarakat dan peranannya dalam keluarga.

Semula status laki-laki, juga seluruh keluarga, tergantung pada ternak, kemudian pada tanah yang dimilikinya. Ketika kebudayaan kota mulai berkembang, struktur sosial masyarakat dan keluarga berubah. Keluarga menjadi semakin kecil dan arti individu semakin besar. Surat Efesus ditujukan kepada orang-orang dari dunia helenis, yang hidup di kota besar yang sudah amat berkembang. Jadi situasi kebudayaannya lain dibandingkan dengan situasi orang Israel dulu. Oleh karena itu, lain juga pola hubungan antara anggota keluarga di dalamnya.

Baik peraturan yang berlaku bagi orang Israel zaman dahulu, maupun kebiasaan umat Efesus dari zaman Gereja perdana, tidak begitu saja dapat dijadikan patokan bagi hubungan dalam keluarga sekarang. Khususnya dalam hal ketaatan dan pendidikan terjadi perkembangan dan perubahan yang besar dalam peredaran zaman. Kebudayaan dan tradisi Indonesia ingin membangun dan melestarikan harmoni dan oleh sebab itu sangat menekankan kerukunan keluarga. Demi kepentingan keluarga, diminta banyak pengurbanan, dari orangtua untuk anak-anak, dari anak-anak untuk menghormati orangtua, dari kakak untuk membantu adik dan dari adik-adik untuk menaati kakak-kakak. Bagaimanapun juga, belum tentu bahwa dengan semuanya itu dibangun keluarga sebagai kesatuan kasih. Keluarga tidak lagi dibina dalam kesatuan hierarkis, yang hanya menekankan ketaatan saja. Keluarga adalah kesatuan hidup. Karena hidup tidak dengan sendirinya menciptakan kesatuan itu, maka semua ikut bertanggung jawab, agar anak-anak memulai perjalanan hidup mereka dalam perhatian dan kasih, yang membuat mereka menjadi yakin akan kasih Allah yang menginginkan hidup. Semua bertanggung jawab pula, agar pada usia lanjut orangtua yang telah banyak berjerih payah, merasakan hormat dari mereka yang muda dan dengan demikian mereka menjadi yakin akan kemuliaan Allah yang akan menjadi penyempurnaan hidup kita yang fana. Keluarga adalah ruang, tempat hidup disayangi dan kita belajar menyayangi satu sama lain. Maka, di dalam keluarga “ketaatan” saja tidak cukup. Semua anggota keluarga harus belajar berkurban satu bagi yang lain dan saling mengasihi.