Hormat dalam Pemeliharaan Hidup

Sepanjang sejarah dan di mana saja budaya manusia menghormati hidup dan etika melindunginya. Hal-hal yang mengancam kehidupan seperti perang, pembunuhan, penyakit (AIDS, dsb.) sangat kita takuti. Kita berusaha melindungi hidup itu. Demikian juga ajaran moral kebanyakan agama. Umat Perjanjian Lama percaya akan Allah Pencipta, yang gembira atas karya-Nya. Bagi-Nya hidup, khususnya hidup manusia, amat berharga. Umat Allah percaya akan Allah yang cinta hidup, mengandalkan Allah yang membangkitkan orang mati dan membela hidup melawan maut. Tuhan itu Allah orang hidup, maka “jangan membunuh!”.

Ajakan firman kelima tampaknya jelas: tidak membunuh orang dan tidak membunuh diri sendiri, tetapi pengaturannya tidak begitu sederhana, seperti tampak dalam Perjanjian Lama.

Umpamanya tentang seorang anak bandel yang tidak menghormati orang¬tuanya. Anak macam ini harus dibawa ke pengadilan dan “semua orang se¬kotanya (harus) melempari anak itu dengan batu, sehingga ia mati” (Ul 21:20). Masih ada banyak hukuman mati yang lain: untuk hujat (Im 24:14.16), untuk pelanggaran Sabat (Kel 31:14-15; 35:2), untuk tukang sihir (Kel 22:18), untuk laku-zinah (Im 20:10-11; Ul 22:22), untuk orang yang menculik orang lain (Kel 21:16; Ul 24:7). Hukuman mati secara khusus diancamkan kepada orang “yang menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada dewa Molokh” (Im 20: 1-5), padahal Tuhan sendiri menyuruh Abraham mengurbankan anaknya (Kej 22:1-19). Diceritakan bahwa dalam perang “manusia semua dibunuh dengan mata pedang, sehingga orang-orang itu dipunahkan semua” (Yos 11:14). Begitu sering diceritakan hukuman mati dan peperangan (atas perintah Yahwe), sehingga orang bertanya-tanya: apakah Allah Perjanjian Lama memang Pelindung Hidup?

Ajakan “jangan membunuh” ternyata bukan kaidah yang siap diterapkan di mana-mana. Lebih-lebih karena kita tidak lagi hidup pada zaman Perjanjian Lama. Yesus, para rasul, dan Gereja, telah memberikan banyak keterangan tambahan pada firman kelima. Perubahan zaman menuntut supaya perintah Tuhan ini ditafsirkan dan dijelaskan secara baru. Di zaman kita, tidak hanya ada masalah hukuman mati dan perang, tetapi juga ada soal kependudukan dan bunuh diri, ada soal aborsi, soal eutanasia, dan banyak soal pemeliharaan kesehatan, tambah lagi semua masalah hukum pidana mengenai pembunuhan. Namun dalam mencari arah untuk masalah hidup dewasa ini, tetap perlu dicari inspirasi dalam tradisi Kristen mengenai firman yang kelima.

Apa yang anda pikirkan?