Hormat dalam Keluarga

Kita sudah melihat bahwa kita menghormati hidup kita. Dengan demikian kita menghormati asal hidup kita di bumi ini, yakni keluarga. Memang sumber hidup kita adalah Tuhan, tetapi Ia mengalir lewat keluarga.

Hidup itu pemberian dari hati Allah. Ayub berkata, “Hidup dan kasih-setia Kau karuniakan kepadaku” (Ayb 10:12). Sebagai anak atau sebagai ibu dan ayah, kita masing-masing mengambil bagian dalam proses hidup itu. Itulah latar belakang firman keempat. Perintah itu pada dasarnya mengenai hormat akan hidup sendiri, Kita harus menghormati orangtua, karena dari mereka kita mendapat hidup: “Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua” (Ams 23:22). Dalam Kitab Suci diceritakan bagaimana Adam “memberi nama Hawa kepada istrinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup” (Kej 3:20: “Hawa”, dalam bahasa Ibrani, mirip dengan “hidup”). Memang sewajarnya setiap ibu disebut ibu dari yang hidup, “Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya” (Kej 2:7) dan hidup ini diteruskan melalui orangtua.