Hormat akan Allah: Pembebasan Manusia

Hormat akan Nama Tuhan, khususnya dalam keheningan dan semadi, dengan sendirinya membawa kepada firman yang ketiga “kuduskanlah Hari Tuhan”. Semua manusia yang percaya pada Tuhan umumnya menyiapkan saat-saat khusus untuk menghormati Tuhan. Bagi orang Kristen sekarang, Hari Tuhan adalah Hari Minggu. Dalam tradisi agama yang lain, hari Jumat atau hari Sabtu dibaktikan kepada Tuhan, khususnya dengan kewajiban ibadat. Bukan secara kebetulan saja atau hanya pada kesempatan yang istimewa, kita membaktikan hidup kita kepada Tuhan. Sebaliknya secara berkala, dalam peredaran satu pekan, ada hari dan saat yang dikhususkan bagi Tuhan. Hari itu tidak dimanfaatkan untuk kesibukan dan keuntungan sehari-hari, Hari itu adalah “Hari Tuhan”, yang pantas dipelihara untuk menghormati Tuhan dan dijiwai dengan semangat iman akan Tuhan yang mulia.

1. Hari Tuhan untuk Manusia

Dalam Perjanjian Lama, Hari Tuhan adalah Sabat. Dalam Kel 20:8 dikatakan, “Ingatlah hari Sabat, supaya kau kuduskan”. Dalam Ul 5:12 hal itu dinyatakan dengan lebih mendesak, Kemudian masih menyusul suatu keterangan panjang, yang pantas diperhatikan seluruhnya:

[13]Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, [14]tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan suatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang mana pun atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga. [15]Dan haruslah kau ingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh Tuhan Allahmu, dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya Tuhan, Allahmu, memerintah engkau merayakan hari Sabat.

Pertama-tama (ay. 13-14), dijelaskan bagaimana orang memperhatikan dan mengkhususkan hari Sabat itu, yakni dengan berhenti bekerja. Setelah kerja selama enam hari, hari ketujuh adalah hari tanpa kerja, hari istirahat, juga bagi anak-anak dan para pembantu. Yang khusus harus dilakukan manusia pada hari Sabat ialah istirahat, teristimewa bagi mereka yang selama enam hari terpaksa bekerja. Sabat berarti kebebasan sehari. Maka – demikianlah keterangan selanjutnya (ay. 15) – hari Sabat dirayakan sebagai kenangan akan pembebasan dari Mesir, ketika Tuhan membebaskan manusia yang tertindas, Hari yang dikhususkan bagi Tuhan itu juga merupakan saat dikenangkannya keprihatinan Tuhan bagi manusia. Hari Tuhan adalah hari pembebasan manusia. Hari Sabat dirayakan oleh umat Tuhan yang berada dalam penindasan sebagai lambang pengharapan bahwa Allah membebaskan umat-Nya.

Teks Ul 5:13-15 dibagi dua: (1) perintah, yakni ay. 13-14 yang meneruskan ay. 12; dan (2) motivasinya, ay. 15. Rumusan perintah sendiri hampir sama dengan Kel 20:8-10. Tetapi motivasi dalam Kel 20:11 jelas berbeda. Dalam Ul 5:15 pembebasan dari Mesir menjadi motivasi, sedangkan Kel 20:11 jelas menunjuk kepada kisah penciptaan, khususnya Kej 2:1-3. Dengan menunjuk pada teladan Tuhan dalam karya penciptaan, Kel 20:11 menggaris bawahi bahwa hari Sabat itu suci, dikuduskan bagi Tuhan, hari kebaktian dan ibadah. Tetapi Ul 5:15, dengan mengingatkan situasi perbudakan Israel di Mesir, lebih mementingkan segi istirahat, khususnya untuk para pekerja dan pembantu. Dengan demikian disebut dua segi firman ketiga ini. Yang satu lebih menyangkut Tuhan, yang lain lebih berkaitan dengan kehidupan manusia. Keduanya tidak bisa dipisah-pisahkan.

Dalam Injil sering kali diceritakan bahwa orang Farisi bertengkar dengan Yesus mengenai hari Sabat. Menurut pendapat mereka, Yesus terlampau bebas terhadap perintah tentang Sabat. Tetapi, kalau dilihat apa yang secara konkret dipersoalkan, jelaslah bahwa Yesus tidak terlampau bebas. Merekalah yang terlalu sempit, Bagi para lawan Yesus, Sabat itu peraturan agama yang mutlak. Itulah sebabnya, para murid Yesus dipersalahkan ketika sambil berjalan di ladang “memetik bulir gandum” pada hari Sabat. Yesus menjawab, “Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27). .Dalam agama Yahudi hari Sabat menjadi lambang agama dan tanda pengenal bangsa. Khususnya ketika tanah mereka direbut oleh bangsa lain dan kenisah diporak-poranda-kan, hari Sabat menjadi lambang keyahudian yang paling pokok, tanda kehadiran Tuhan. Hari Sabat menjadi semacam hari keramat, dibebani dengan peraturan yang ditambah-tambah, sampai Sabat sendiri kehilangan artinya. Dan sana lahirlah ketetapan-ketetapan seperti sampai berapa jauh orang boleh berjalan pada hari Sabat, macam kerja apa yang boleh dilakukan, kapan boleh membantu orang sakit, kapan ada dispensasi dari peraturan Sabat, dan juga apa hukuman kalau melanggar peraturan. Sabat menjadi beban dan bukan lagi hari perayaan pembebasan.

Semuanya itu tidak hanya berlaku dalam agama Yahudi zaman Yesus. Di mana ada hari yang dikhususkan untuk Tuhan (juga hari Jumat atau hari Minggu), dengan acara yang dituntut demi dan bagi Tuhan, di situ orang sering lupa bahwa hari yang khusus bagi Tuhan juga dimaksudkan untuk kebahagiaan manusia (bdk. Yes 58:13-14)

Juga dalam irama hidup masa pembangunan dan industrialisasi, di tengah-tengah perjuangan kemajuan, sewaktu begitu banyak orang terpaksa berjerih payah siang malam menggapai keperluan hidup, perlu kita perhatikan bahwa hari Tuhan itu sekaligus hari untuk manusia, suatu hari pembebasan.

2. Kerja, Istirahat, dan Pesta

Sudah barang tentu istirahat tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan. Maka firman mengenai hari Sabat tidak hanya berbicara mengenai istirahat, tetapi juga mengenai kerja: “Enam hari lamanya engkau akan bekerja … “ (Kel 23:12). Hari istirahat mengakhiri enam hari kerja. Semua orang harus bekerja, baik tuan maupun hamba, baik majikan maupun buruh. Bahkan Tuhan sendiri memberi teladan kepada manusia dengan bekerja (Kej 2:2). Dan sama seperti orang menuruti teladan Tuhan dalam kerja, demikian juga dalam istirahat: “… hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan suatu pekerjaan. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya” (Kel 20:9-11). Usaha Tuhan selesai pada hari ketujuh; prakarsa-Nya berakhir dengan hari perayaan: “biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya” (Mzm 104:31). Sambil berhenti sesaat atau sehari, kita mengecap makna yang ada di dalam jerih payah kita: bahwa dengan bekerja sehari-hari kita berpartisipasi dalam usaha Tuhan Pencipta, “Usaha raksasa umat manusia, berabad-abad lamanya, untuk terus-menerus memperbaiki kondisi hidup” sejalan dengan rencana dan karya Tuhan (GS 34) dan oleh karena itu bertujuan perayaan. “Biarlah kemuliaan Tuhan tetap selama-lamanya, biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya … Aku hendak bersukacita karena Tuhan.”

Kerja bukan hukuman atas dosa. Sebelum Adam melakukan dosa ia sudah disuruh Tuhan “memelihara dan mengusahakan taman” (Kej 2:15; lih, 1:28). Akibat dosa ialah “dengan bersusah payah mencari rezeki; dengan berpeluh mencari makanan” (Kej 3:17.19). Dengan kerja berat, manusia tidak hanya “memelihara” ciptaan Tuhan; perjuangan hidup juga harus ditanggungnya sebagai tanda keterpisahan dari Tuhan dan sebagai sarana penebusan oleh Tuhan, Perjuangan hidup yang berat menjadi nasibnya karena keterpisahan dari Tuhan.

Bagi masyarakat tani dan desa, peredaran hari dan pergantian musim menetapkan irama kerja dan istirahat. Dengan bekerja, hidup sendiri mendapat arti. Demi hormat terhadap martabat manusia, tak seorang pun boleh dihalangi bekerja; dan demi harga diri, setiap orang wajib bekerja menanggung hidupnya sendiri dengan nafkah yang ia peroleh dan mendukung hidup bersama, terutama supaya dengan pekerjaan kita orang lain pun mendapat kesempatan kerja. Tentu saja kerja itu berat, dan orang malas diberi peringatan: “Jangan benci kepada pekerjaan yang melelahkan, atau kepada kerja di ladang, yang ditentukan oleh Yang Mahatinggi” (Sir 7:15).

Namun demikian, kini kerja menjadi bahan dalam arti yang lain: irama kerja yang menyediakan ruang hidup itu, hancur. Orang tidak lagi bekerja dalam irama alam melainkan dalam irama mesin dan di bawah perintah orang lain. Bahkan orang tidak lagi bekerja dalam kebersamaan, melainkan demi merebut sesuap nasi melawan saingan teman sendiri.

Bagaimanapun juga, pekerjaan tetap merupakan bagian hidup manusia, bukan hanya sarana mencapai suatu tujuan di luar manusia. Membuat pekerjaan menjadi sarana produksi melulu, berarti merendahkan martabat manusia. Juga dalam masyarakat teknis, yang di dalamnya manusia harus menempatkan diri dalam kerangka produksi yang lebih luas, pekerjaan manusia tetap bernilai, karena manusia sendiri bernilai. Dan ketika manusia tidak lagi dapat menikmati nilai kerjanya secara pribadi dan langsung, upah dan kedudukannya dalam masyarakat harus mengungkapkan nilai kerjanya itu.

Dalam proses ekonomi yang amat luas dan besar pun, manusia dan usahanya tidak pernah dapat menjadi barang dagangan. Kalau firman ketiga berbicara mengenai budak dan hamba, jelaslah bahwa yang dimaksudkan ialah orang yang bekerja dalam ketergantungan. Kendatipun sistem ketergantungan amat berubah dalam peredaran zaman, perintah Tuhan supaya manusia melindungi mereka yang tidak bebas memilih pekerjaan, tetap berlaku dan sama. Juga di dalam masyarakat modern dan di dalam sistem ekonomi nasional atau internasional, tempat kebanyakan orang sebagai buruh harus melaksanakan pekerjaan yang tidak mereka rencanakan sendiri, tetap berlaku bahwa setiap orang adalah pribadi otonom, yang harus dihormati. Maka sebetulnya dalam firman ketiga terkandung tiga kewajiban bagi manusia: kewajiban bekerja, kewajiban beristirahat, dan kewajiban melindungi mereka yang harus bekerja dalam ketergantungan. Dengan demikian, hidup semua orang dilindungi. Jadi, jangan sampai kerja menjadi lebih penting daripada hidup, dan hasil kerja dinilai lebih tinggi daripada manusia. Firman ketiga mau membebaskan manusia dari penindasan manusia oleh pekerjaan dan perencanaannya sendiri. Tuhan menghendaki supaya manusia tetap tinggal sebagai “citra Allah” dan bukan alat produksi.

3. Hari Minggu

Sabat adalah “hari istirahat”, hari Minggu (dari bahasa Portugis, Dominggo, yang berarti ‘Tuhan’). Keduanya tidak tepat sama. Orang Kristen mengambil alih pekan tujuh hari dari orang Yahudi, tetapi mereka tidak mengambil alih hari Sabat, khususnya karena hari Sabat telah menjadi tanda keagamaan Yahudi. Orang Kristen berkumpul pada hari pertama setiap pekan untuk merayakan kebangkitan Kristus, yang dengan kebangkitan-Nya telah diangkat menjadi “Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36). Oleh karena itu, hari pertama itu dirayakan sebagai Hari Tuhan, dan hari Tuhan itu pertama-tama hari ibadat. Tujuan hari Minggu ialah berkumpul untuk berdoa bersama dan saling meneguhkan dalam iman.

Hari Minggu tidak dimaksudkan untuk menggantikan hari Sabat. Semula sebagian orang Kristen masih tetap merayakan hari Sabat juga (di samping hari Minggu), sedangkan kelompok yang lain membatasi diri pada hari Minggu. Mungkin pada mulanya hari Tuhan dirayakan pada Sabtu sore, ketika hari Sabat sudah berakhir. Kemudian dirayakan pada hari berikut, yakni hari pertama dalam minggu. Pada awal mulanya orang juga tidak dilarang bekerja pada hari Minggu. Larangan itu baru berkembang kemudian, guna menunjang suasana kebaktian. Selanjutnya hukum Sabat mulai diterapkan pada hari Minggu, dan sejak kaisar Konstantin (awal abad ke-4) hari Minggu menjadi hari istirahat umum di dalam masyarakat.

Sejak zaman Gereja kuno, pokok ibadat hari Minggu ialah perayaan Ekaristi. Di samping ibadat, dahulu juga ada amal bakti: pembagian sedekah kepada orang miskin, serta istirahat (sungguh pun tidak menurut adat Yahudi). Kitab Hukum Kanonik sekarang menetapkan sebagai berikut.

Kan, 1246:
Pada hari Minggu, menurut tradisi apostolik, dirayakan misteri Paska; maka harus dipertahankan sebagai hari raya wajib yang primordial di seluruh Gereja.

Kan. 1247:
Pada hari Minggu, dan pada hari-hari raya wajib lainnya, orang-orang beriman berkewajiban untuk ambil bagian dalam Misa; selain itu, hendaknya mereka tidak melakukan pekerjaan dan urusan-urusan yang merintangi ibadat yang harus dipersembahkan kepada Allah atau merintangi kegembiraan hari Tuhan atau istirahat yang dibutuhkan bagi jiwa dan raga.

Kan. 1248:
§ 1. Perintah untuk ambil bagian dalam Misa dipenuhi oleh orang yang menghadiri Misa di mana pun Misa itu dirayakan menurut ritus Katolik, entah pada hari raya sendiri atau pada sore hari sebelumnya.

§ 2. Jika tidak ada pelayan rohani atau karena alasan berat lainnya tidak mungkin ambil bagian dalam perayaan Ekaristi, sangat dianjurkan agar kaum beriman ambil bagian dalam liturgi Sabda yang mungkin diadakan di gereja paroki atau di tempat suci lainnya, menurut ketentuan uskup diosesan; atau hendaknya secara perorangan atau dalam keluarga atau jika mungkin beberapa keluarga bersama, meluangkan waktu untuk berdoa selama waktu yang pantas.

Kewajiban menghormati hari Minggu bukan soal hukum dan perintah Gereja saja. Dalam kutipan hukum Gereja di atas hanyalah dirumuskan apa yang senantiasa sudah merupakan kebiasaan dan kesadaran umat Katolik mengenai kehidupan bersama sebagai jemaat. Dengan mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu, orang Katolik menyatakan diri sebagai anggota jemaat. Kesadaran akan arti hari Minggu tidak datang dari “atas’’, dari pimpinan Gereja, melainkan dari umat sendiri yang mencari kesempatan merayakan dan mengamalkan iman. Dalam perayaan bersama pada hari Tuhan, umat bertindak sebagai umat Tuhan: dengan bersyukur dalam Ekaristi yang khidmat; dengan semadi dalam suasana hening; dengan persaudaraan dalam kegembiraan dan saling bantu-membantu. Dengan demikian, hari Minggu itu sungguh-sungguh menjadi hari Tuhan yang menebus kita. Dalam perayaan hari Minggu seharusnya menggema warta gembira yang dewasa ini “belum lengkap” kalau belum ada “pesan yang kuat mengenai pembebasan” (bdk. EN 29). Pantas dan pentinglah orang mewujudkan hari Minggu bagaikan perayaan, karena demikian hari Tuhan Penebus menjadi hari pembebasan bagi manusia.