Hidup yang Kreatif

Setiap orang mencita-citakan supaya, dalam hidup bersama dengan orang lain, dunia ini dapat diolah menjadi tempat yang layak bagi semua orang. Manusia ingin agar dunia ini menjadi tempat manusia diakui sebagai pribadi yang merdeka, yang diberi kesempatan untuk hidup dan berkembang (bersama keluarganya) secara bertanggung jawab. Cita-cita ini begitu luas dan padat, sehingga pelaksanaannya hanya mungkin terjadi bila orang memperhatikan aneka segi kehidupan; di pelbagai medan, manusia menghayati hidupnya. Dengan berpedoman pada ajaran St. Paulus (1Tes 5:23), kiranya dapat dibedakan tiga medan utama: tubuh, jiwa dan roh, yang berkaitan satu sama lain dan merupakan satu kesatuan.

1. Tubuh

Dengan “tubuh” dimaksudkan seluruh bidang kehidupan manusia yang fisik-material, segala sesuatu yang menyangkut segi jasmani atau badani hidup manusia. Misalnya, makan dan minum, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pada umumnya; juga seluruh bidang ekonomi, pekerjaan, jaminan hidup, dan lingkungan sosial. Jadi, ada seribu satu hal yang merupakan dasar material bagi kehidupan manusia.

Namun juga bila semua itu terpenuhi, bila pendapatan nasional meningkat, inflasi rendah, serta tingkat pertumbuhan tinggi, hidup manusia pun masih belum terjamin juga. Keseimbangan ekonomi, baik dalam rumah tangga maupun dalam sektor usaha, tidak dapat menjamin perikemanusiaan. Sebaliknya, persaingan merebut barang materi, sampai perang dan penghancuran, senantiasa mengancam hidup bersama dan perkembangan masing-masing pribadi. Jaminan kesehatan, pembangunan, dan pemerataan kekayaan mutlak perlu, tetapi belum dapat membuat hidup menjadi sungguh manusiawi, sebab manusia tidak hanya mempunyai tubuh, tetapi juga jiwa.

2. Jiwa

Jiwa meliputi segala sesuatu yang khas manusiawi. Manusia memiliki hati dan budi. Semua yang bersangkutan dengan hati atau budi termasuk bidang “jiwa”. Karena itu, bidang jiwa tersebut mencakup segala sesuatu yang menjamin atau mengusahakan kebebasan manusia, pendidikan, kebudayaan, hidup bersama baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat umum, struktur-struktur sosial-politik, tata-hukum, tata-susila serta budi-pekerti; juga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa semua itu manusia tidak dapat hidup sebagai manusia.

Dalam semua hal yang disebut di atas manusia mewujudkan dirinya dalam kebersamaan dengan sesamanya. Ia dituntut bertanggung jawab dan tanggung jawab itu meliputi: pemikiran dan perencanaan, perhatian dan pengawasan, inisiatif pribadi dan usaha bersama, keterbukaan bagi perjumpaan dengan yang lain, keberanian mengambil risiko, kerelaan menghargai hak-hak sesama manusia dan semangat berkurban untuk kesejahteraan bersama. Jelas, hal-hal ini penuh dengan tantangan dan tuntutan bagi hati-nurani manusia, perjuangan dan ketegangan, tetapi juga kepuasan dan kedamaian hati. Manusia terus-menerus berkonfrontasi dengan misteri hatinya sendiri, dan dituntut supaya berani menggali tahap-tahap. kehidupan yang paling dalam.

Tetapi justru ketika berhadapan dengan misteri hatinya, manusia menyadari bahwa seluruh hidupnya melampaui yang manusiawi dengan tak terhingga. Berhadapan dengan misteri hatinya, manusia mulai menyentuh dimensi kehidupan yang lebih dalam lagi, dan yang tidak lagi terjangkau oleh usaha dan kegiatan manusia sendiri. Manusia mulai menyadari dimensi kehidupan yang lebih unggul atau transenden, yang mengatasi tata kehidupan yang dapat dialami langsung. Manusia mulai menyentuh bidang roh.

3. Roh

“Roh” mencakup bidang iman dan kepercayaan. Roh merupakan tempat pertemuan manusia dengan Allah. Maka roh sebetulnya bukan lagi kemampuan manusia. Allah sendirilah yang memberikan roh kepada manusia, yang memampukan dia menyambut Allah. Manusia tidak dipaksa. Allah memanggil. Tetapi tanpa kekuatan dari Allah, manusia tidak mampu menjawab panggilan Allah. Sebelum menyadari panggilan ini, manusia sudah merasa diri ditarik dan diarahkan kepada hidup yang mengatasinya. Sebelum bertemu muka dengan Tuhan, manusia sudah menyadari bahwa dia bukan penguasa dan pencipta hidupnya. Dan ia berani percaya akan arti hidupnya, yang dianugerahkan kepadanya, Optimisme dan pengharapan amat menentukan bidang kehidupan roh. Sebab dengan keberanian iman manusia mengatasi keterbatasan hidupnya sendiri dan menyentuh keabadian. Dalam roh, manusia mengalami dan menghayati keterbukaan hidupnya. Keterbukaan ke arah yang transenden merupakan puncak dan daya gerak seluruh hidupnya.

Hidup manusia meliputi semua unsur itu, tidak hanya yang ditentukan oleh iman atau alam saja, suara hati atau tata sosial saja. Jadi, unsur-unsur itulah, seturut tempat dan sumbangannya sendiri-sendiri, yang membentuk hidup manusia secara menyeluruh.

Manusia memang tidak hanya hidup dari agama. Yesus sendiri berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang ada di surga” (Mat 7 :21). Dalam sabda itu tampak bahwa agama atau kebaktian tidak cukup bagi hidup manusia. Yang paling pokok justru kehendak Bapa, yang menghendaki hidup; dan kehendak Allah itu harus dilakukan dalam seluruh kehidupan, juga dalam hal-hal yang material. Jadi, yang paling pokok bukanlah ekonomi atau kesenian, bukan pula politik atau hukum, bahkan bukan agama. Yang paling pokok adalah hidup itu sendiri dengan segala seginya! Di antara segi-segi kehidupan yang bermacam ragam itu harus ada harmoni dan keseimbangan, harus ada integrasi antara badan, jiwa, dan roh.

Masing-masing segi dan medan kehidupan mempunyai peranan dan sumbangannya sendiri. Iman dan kesadaran moral tidak muncul dari kebudayaan dan ilmu (sebagaimana dikatakan oleh kaum liberal). Tata sosial serta hukum tidak merupakan hasil langsung dari ekonomi dan dunia material (seperti pernah diajarkan oleh kaum marxis). Tata ekonomi dan teknik juga tidak begitu saja dapat disimpulkan dari iman dan agama (sebagaimana dapat didengar di antara kaum fundamentalis). Masing-masing unsur mempunyai otonominya sendiri (GS 3.6). Manusia harus memperhatikan dan mengembangkan tiap-tiap segi kehidupan menurut kekhasan dan otonominya sendiri. Jadi, tidak ada ilmu-pasti-alam Katolik atau teknik Katolik. Bahkan tidak ada ekonomi dan sosiologi Katolik, Yang ada yakni ajaran sosial Katolik; yang membimbing manusia dalam sikapnya menghadapi masalah dan pandangan sosial yang ada di dalam dunia. Begitu juga ada etika kedokteran, etika perusahaan, etika profesi, dan etika politik. Etika itu perlu, sebab dalam segala bidang kehidupan, yang dikembangkan menurut tuntutannya sendiri, manusia senantiasa dituntut oleh suara hati dan oleh panggilan dari Yang Mahatinggi.