Hidup Suami-Istri Itu Suatu Panggilan

Sikap dan ajaran Yesus juga tidak langsung memperhatikan seksualitas, melainkan perkawinan. Ketika ditanyai oleh seorang Farisi, “Apakah suami boleh menceraikan istrinya?” Yesus menjawab, “Yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzinah terhadap istrinya” (Mrk 10:2.11). Yang dipersoalkan oleh orang Farisi sebetulnya bukan perceraian sendiri, sebab mereka sudah yakin bahwa “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai” (ay. 4). Yang amat dipersoalkan di kalangan para rabi ialah alasan untuk cerai, apakah suami boleh menceraikan istrinya dengan alasan apa saja (lih: Mat 19:3). Sebab “izin Musa” dalam Kitab Suci berbunyi:

“Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan telah menjadi suaminya, tetapi lalu ia tidak suka dengan perempuan itu, karena mendapat sesuatu yang tidak baik padanya, lalu ia (harus) menulis surat cerai dan menyerahkannya kepada perempuan itu serta menyuruhnya pergi dari rumahnya” (Ul 24:1).

Ada perbedaan pendapat antara para ahli Taurat mengenai arti kata “yang tidak baik” itu. Secara harfiah dikatakan “yang memalukan”. Ada orang (yakni mazhab Syammai) berpendapat bahwa yang dimaksudkan dalam Taurat Musa itu sesuatu yang tidak senonoh (yang melanggar kesopanan, khususnya dalam pergaulan). Tetapi golongan lain (yakni para pengikut rabi Hilel) berpendapat bahwa penceraian itu halal dengan alasan apa pun, biarpun hanya karena masakan wanita tidak enak atau karena rupanya tidak cantik lagi atau malahan karena sang suami tertarik kepada wanita lain.

Yesus tidak mempermasalahkan alasan untuk cerai. Yesus mempermasalahkan perceraian itu sendiri: “Karena ketegaran hatimu, Musa memerintahkan supaya memberikan surat cerai, jika orang menceraikan istrinya” (lih. Mat 19:9). Jadi, sebenarnya Yesus meng-anjurkan, jangan cerai sama sekali! (Mat 5:32). Seperti juga dikatakan-Nya jangan bersumpah sama sekali (Mat 5:34) dan jangan bermusuhan sama sekali! (Mat 5:22) Yesus juga berbicara mengenai “berzinah di dalam hati” (Mat 5:28). Moral Yesus yang radikal berbicara mengenai hati. Ia tidak mau berbicara mengenai seks, bahkan tidak mengenai pengaturan perkawinan. Yesus berbicara mengenai panggilan Allah dan panggilan Allah itu mengenai hati manusia, laki-laki dan perempuan. Maka kalau berbicara mengenai perkawinan, Yesus berbicara mengenai rencana Allah semula (Mat 19:4-6; Mrk 10:6-9 yang mengutip Kej 2:24) dan mengenai kesetiaan-Nya.

Rupa-rupanya dalam praktik Gereja perdana, khususnya di kalangan mereka yang dulu adalah Yahudi, masalah perceraian timbul kembali. Kalau istri, atau juga suami, melakukan zinah, maka ia harus dicerai; menurut hukum Taurat ia malah harus dihukum mati (Ul 22:22; bdk. Yoh 8:2-11). Pada zaman Yesus hukuman mati itu biasanya tidak dilakukan lagi. Tetapi perkawinan juga tidak dapat diteruskan lagi, maka perkawinan itu dianggap sudah tidak ada lagi. Karenanya istri (atau suami) tidak hanya boleh, tetapi harus diceraikan. Paulus, yang hidup dan merasul di kalangan orang kafir, juga dihadap¬kan pada masalah perceraian: Kalau ada seorang saudara beristerikan … atau bersuamikan seorang yang tidak beriman, … dan kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat, Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera” (1Kor 7:13-15).

Di abad-abad kemudian, banyak Bapa Gereja berpegang pada praktik yang membenarkan perceraian, khususnya karena zinah. Juga dalam Gereja-gereja Ortodoks dan Gereja-gereja Protestan dewasa ini perceraian tidak dilarang secara mutlak. Hanya di dalam Gereja Katolik perceraian ditolak secara total, tetapi itu hanya berlaku untuk orang yang telah dibaptis. Dalam Kitab Hukum Kanonik, tuntutan moral Yesus, supaya membangun kesatuan hati yang tidak diceraikan, menjadi aturan hukum perkawinan yang membawahi semua orang yang dibaptis. Hal itu berhubungan dengan sakramentalitas perkawinan.

Bagi Yesus, zinah menyangkut kemurnian hati, ketulusan hidup. Sebab “dari hati orang timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat” (Mat 15:19). Bagi orang Kristen perdana, tidaklah mudah hidup murni dalam kota-kota Yunani, dalam alam pikiran yang memisahkan keluhuran budi dari tubuh fana dengan kenikmatannya. Paulus membela manusia: seluruh manusia, tubuh, budi dan hati, telah ditebus! Seluruh manusia menjadi anggota Kristus, karena tubuh yang fana pun akan dibangkitkan bersama Kristus. Juga dalam tubuhnya, manusia bertemu dengan Allah yang mulia, maka tubuh lebih daripada hanya sekadar barang kenikmatan. Seks bukan barang konsumsi yang dinikmati seperlunya. Seks adalah bagian hidup manusia yang bermartabat luhur.

Dalam tradisi Kristen, keutuhan dan keagungan tubuh dijunjung tinggi dan seksualitas mendapat nilai pribadi. Namun sepanjang sejarah Gereja, pengakuan itu selalu juga dibayangi oleh prasangka-prasangka terhadap wanita, oleh penilaian yang meremehkan atau mengharamkan seks dan larangan-larangan yang menekan kenikmatan.

Demikianlah Agustinus membela keluhuran seksualitas melawan berma¬cam pandangan agama yang menganggapnya rendah dan kurang manusiawi; sekaligus Agustinus mengingatkan, bahwa hubungan pria-wanita dan khususnya hubungan seksual selalu diancam oleh kedosaan. Kenikmatan dicurigainya, karena ia sangat mendukung cita-cita (filsafat Stoa) untuk menguasai naluri-naluri. Hubungan pria-wanita yang sejati adalah kesatuan rohani dan seksualitas hanya dibenarkan “demi keturunan”. Dalam sejarah lebih lanjut, pandangan Agustinus mengenai seksualitas ini amat mewarnai moral Katolik. Hampir delapan abad kemudian, Tomas Aquino menekankan bahwa seksualitas (termasuk kenikmatan!) adalah kodrati, ciptaan Allah. Dalam perkembangan selanjutnya kenikmatan seksual umumnya dibenarkan, namun seksualitas sendiri makin diartikan dan diatur menurut alam-kodrat, dan makin ditekankan bahwa hubungan seksual itu ditujukan untuk memperoleh keturunan. Ajaran moral Katolik menarik kesimpulan bahwa setiap hubungan seksual harus terbuka untuk keturunan dan oleh sebab itu hubungan seksual hanya dapat dibenarkan dalam perkawinan yang sah.

Dewasa ini, kebanyakan orang tidak lagi dapat menerima, bahwa seksualitas manusiawi hanya (ataupun pertama-tama ditujukan pada keturunan. Konsili Vatikan II bicara mengenai “cinta-kasih (suami-istri) yang beraneka-ragam” (GS 48). Seksualitas amat bernilai untuk saling mengungkapkan kasih (bdk. GS 51). Pengertian yang baru dalam Gereja menjadi tantangan bagi moral Kristen: dapatkah ditemukan suatu gaya hidup bersama, yang di dalamnya hubungan seksual antar pria dan wanita dapat berkembang dalam kesetiaan satu sama lain? Dapatkah ditemukan suatu gaya hidup yang di dalamnya pria dan wanita berkembang dalam kemampuan mengasihi dan menyambut anak-anak yang lahir dengan pengharapan yang terbuka?