Gereja yang Apostolik

Sifat “apostolik” atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”, sudah ada sedari zaman Gereja perdana sendiri (Ef 2:20; bdk. Why 21:14), tetapi sebagai sifat khusus keapostolikan baru disebut akhir abad ke-4. Semakin ditegaskan bahwa norma kebenaran adalah iman sebagaimana dirumuskan oleh para rasul. Namun dengan demikian belum jelas bagaimana Gereja sekarang berhubungan dengan Gereja para rasul.

Gereja Protestan berkeyakinan bahwa hubungan itu terdapat dalam Kitab Suci, khususnya Perjanjian Baru, sebagai rumusan tertulis iman itu. Sebaliknya Gereja Katolik, yang lebih mementingkan pewartaan lisan, memusatkan perhatian pada hubungan historis, turun-temurun, antara para rasul dan para pengganti mereka, yaitu para uskup. Perlu diperhatikan bahwa dalam Perjanjian Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk ke-12 rasul yang namanya disebut dalam Injil (lih. Mat 10:1-4 dsj.).

Hubungan historis itu tidak boleh dilihat sebagai semacam “estafet”, yang di dalamnya ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut “apostolik” bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelayanannya. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan Gereja perdana, yakni Gereja para rasul. Hubungan historis itu janganlah dilihat sebagai penggantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.

Sifat apostolik tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulangi apa yang sejak dahulu kala sudah diajarkan dan dilakukan di dalam Gereja. Keapostolikannya berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak oleh Roh Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagai norma imannya. Bukan mengulangi, tetapi merumuskan dan mengungkapkan kembali apa yang menjadi inti hidup iman. Karena seluruh Gereja bersifat apostolik, maka seluruh Gereja dan setiap anggotanya, perlu mengetahui apa yang menjadi dasar hidupnya, “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya, tentang pengharapan yang ada padanya” (1Ptr 3:15).

Sifat apostolik (yang betul-betul dihayati secara nyata) harus mencegah Gereja dari segala rutinisme yang bersifat ikut-ikutan. Keapostolikan berarti bahwa seluruh Gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggung jawab atas ajaran Gereja, tetapi juga atas pelayanannya. Dalam hidup yang nyata Gereja harus terus-menerus membuktikan diri sebagai Gereja Yesus Kristus, yang tidak hanya digerakkan oleh Roh Kudus tetapi juga “rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya” (Ef 4:16). Seperti semua sifat yang lain, begitu juga keapostolikan Gereja tidak pernah “selesai”, tetapi selalu merupakan tuntutan dan tantangan. Gereja, yang oleh Kristus dikehendaki satu, kudus, Katolik dan apostolik, senantiasa harus mengembangkan dan menemukan kembali kesatuan, kekatolikan, keapostolikan, dan terutama kekudusannya. Sifat-sifat Gereja diimani, berarti harus dihayati, oleh Gereja seluruhnya dan oleh masing-masing anggotanya.