Gereja Masih Selalu dalam Perjalanan

Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan menuju Kerajaan Allah. Gereja masih dalam perjalanan. Penyadaran akan aspek historis Gereja ini perlu supaya kita bisa lebih bersifat terbuka dan rendah hati. Dalam perjalanan ini, Gereja masih mengalami jatuh bangun dan berjuang bersama semua manusia yang berkehendak baik membangun Kerajaan Allah itu. Gereja belumlah sempurna. Maka, “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga” (LG 48). Sekarang ini “kita diselamatkan dalam pengharapan” (Rm 8:24). Oleh karena itu dalam syahadat panjang dikatakan: “Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan hidup di akhirat”. “Menantikan” tidak berarti bahwa kita masih ragu-ragu. Rumus dalam syahadat pendek menjelaskan hal itu.

Aku percaya akan
Roh Kudus,
Gereja Katolik yang kudus,
persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.

Iman akan Roh Kudus, akan Gereja dan akan akhirat dijadikan satu. Dasar pengharapan kita bukanlah keinginan khayal, melainkan karya Roh dalam Gereja, dan kesadaran bahwa apa yang ada sekarang masih bersifat sementara: “Sekarang kita melihat suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka” (1Kor 13:12), dan iman bahwa “Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga” (1Kor 6:14; lih. 2Kor 4:14; Rm 8:11).

Karya keselamatan Allah berjalan terus, sampai kepada kepenuhannya. Mulai dengan wafat dan kebangkitan Kristus, kemudian perutusan Roh Kudus, pembentukan Gereja, dan akhirnya “kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat”. Allah tidak mengingkari janji. “Dia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1Tes 5:24). Menantikan hidup di akhirat tidak lain dari “menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia, dan penyataan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13). Menantikan akhirat berarti mengharapkan kepenuhan karya penyelamatan.