Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Kristen Lain

Konsili Vatikan II membedakan antara mereka yang “sepenuhnya dimasukkan ke dalam serikat Gereja” (LG 14) dan orang beriman lain yang berhubungan dengan Gereja Katolik (LG 15). Yang pertama adalah mereka yang

  1. mempunyai Roh Kristus,
  2. menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan
  3. dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbing Gereja melalui Imam Agung (paus) dan para uskup.

Gabungan dengan himpunan Katolik kemudian dirinci dengan ikatan-ikatan, yakni pengakuan iman, sakramen-sakramen, kepemimpinan gerejawi, serta persekutuan (communio).

Mereka yang hanya “berhubungan”, tidak dimasukkan dengan sepenuhnya, karena “tidak mengakui iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah Pengganti Petrus”. Jadi kekurangan di sini terletak dalam “ikatan-ikatan” yang menggabungkan dengan Gereja: Atau pengakuan iman tidak utuh atau persekutuan tidak lengkap, khususnya berhubungan dengan kepemimpinan Gereja. Mengenai sakramen-sakramen dikatakan: “Banyak ditandai oleh baptis yang menghubungkan mereka dengan Kristus, bahkan mengakui dan menerima sakramen-sakramen lainnya; banyak pula yang mempunyai uskup-uskup dan merayakan Ekaristi suci”. Mengenai unsur yang paling pokok, yakni “mempunyai Roh Kristus” (lih. Rm 8:9), dikatakan: “ada suatu hubungan sejati dalam Roh Kudus, yang memang dengan daya pengudus-Nya juga berkarya di antara mereka dengan melimpahkan anugerah-anugerah serta rahmat-rahmat-Nya”.

Akhirnya perbedaan menyangkut pertama-tama ikatan lahiriah itu. Perlu diperhatikan bahwa Konsili memang berbicara mengenai “serikat” atau organisasi Gereja. Konsili tidak berbicara mengenai iman, tetapi mengenai pengungkapan iman atau agama. Keduanya memang tidak dapat dipisah-pisahkan yang satu dari yang lain. Pengungkapan yang berbeda berhubungan dengan penghayatan yang berlain-lainan. Memang ada perbedaan antara Protestan dan Katolik, yang secara skematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

KATOLIK

PROTESTAN

Tekanan ada pada sakramen dan pada segi sakramen (manusiawi-kelihatan) karya keselamatan Allah. Tekanan ada pada sabda pewartaan dan pada segi misteri (transenden-tersembunyi) karya Allah.
Agama kontemplasi (memandang) dan Agama iman (mendengarkan) dan
kultis, yang mementingkan kurban (Ekaristi) profetis, yang terpusat pada sabda (khotbah)
Perasaan, kesenian, dan kehangatan cukup dipentingkan. Pengetahuan, ilmu, dan ketegasan lebih ditekankan.
Hubungan dengan Gereja menentukan hubungan dengan Kristus. Hubungan dengan Kristus menentukan hubungan dengan Gereja.
Gereja secara hakiki (dari Kristus) bersifat hierarkis. Segala pelayanan gerejawi adalah ciptaan manusia (Tradisi).
Kitab Suci dibaca dan dipahami di bawah pimpinan hierarki. Setiap orang membaca dan mengartikan Kitab Suci sendiri.

Perbedaan ini sebenarnya lebih menyangkut penghayatan, bahkan perasaan, daripada ajaran atau rumusan iman. Memang tetap ada perbedaan pendapat mengenai kedudukan dan peranan hierarki (paus, uskup, dan imam), rahmat (pembenaran) dan ibadat (khususnya penghormatan santo-santa, teristimewa Bunda Maria). Pada umumnya protestantisme merasa kurang enak dengan segala-sesuatu yang mau menjadi pengantara antara manusia dan Allah. Namun diakui pula bahwa dalam hal-hal itu secara prinsipial tidak ada yang memisahkan.

Perbedaan menyangkut sikap dasar, yang sulit dapat dirumuskan. Barangkali perbedaan itu paling tepat dirumuskan dengan kata “Katolik” dan “Protestan” sendiri. Katolik berarti “menyeluruh”. Pada umumnya orang Katolik lebih mementingkan keseluruhan tradisi Gereja.

Memang diakui bahwa ada banyak kesalahan dan dosa di dalam sejarah Gereja, tetapi juga ada banyak hal yang baik dan bagus. Roh Kuduslah yang menjamin kehidupan Gereja seluruhnya, kendatipun manusia lemah dan cenderung kepada dosa. Sebaliknya Protestan berasal dari kata “protes” (bukan terhadap Gereja atau paus, tetapi terhadap kaisar zaman itu), dan jarang ada protes yang sifatnya “menyeluruh”. Ternyata orang Protestan tampaknya memang cenderung memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan Gereja, baik yang positif maupun yang negatif. Dengan menekankan yang terakhir itu perbedaan dengan Gereja Katolik menonjol.

Yang lebih penting daripada perbedaan itu ialah kesatuan antara semua orang Kristen. Konsili Vatikan II tidak hanya menegaskan bahwa “Roh membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan kegiatan, supaya dipersatukan dalam satu kawanan dengan satu Gembala” (LG 15), tetapi juga merumuskan dasar teologis untuk kesatuan itu. Dalam LG 8 dikatakan:

“Kristus, satu-satunya Pengantara, di dunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, yakni persekutuan iman, harapan dan kasih, sebagai himpunan yang kelihatan dan tak henti-hentinya memeliharanya, supaya melalui Gereja Ia melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang … Itulah satu-satunya Gereja Kristus, yang dalam syahadat kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik. Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat (societas), berada dalam (subsistit in) Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para uskup dalam persekutuan dengannya, walaupun di luar persekutuan itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan kurnia-kurnia khas Gereja Kristus, dan mendorong ke arah kesatuan Katolik.”

Teks yang singkat dan padat ini tidak begitu mudah dipahami dengan tepat. Pertama-tama dikatakan bahwa Gereja dari satu pihak adalah “persekutuan iman, harapan dan kasih”, tetapi sekaligus juga merupakan suatu “himpunan yang kelihatan”, yang kemudian disebut “serikat” (societas) atau organisasi. Kedua aspek ini tidak bisa dipisahkan. Gereja adalah sekaligus misteri dan sakramen. Mengenai Gereja, yang sekaligus kelihatan dan tak-kelihatan itu, selanjutnya dinyatakan bahwa “berada dalam Gereja Katolik”. Dengan rumusan itu mau dikatakan bahwa dari satu pihak Gereja Katolik sungguh-sungguh Gereja Kristus, tetapi dari pihak lain bahwa Gereja Kristus tidak identik atau tepat sama dengan Gereja Katolik: “di luar persekutuan (Katolik) itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran”.

Perlu diperhatikan bahwa kata “berada dalam” (Latin: subsistit in) dipilih dengan seksama. Pius XII (ensiklik Humani Generis, 12 Agustus 1950) masih mengajarkan: “Tubuh mistik Kristus dan Gereja Katolik adalah satu dan sama”. Maka rumus Lumen Gentium yang pertama (skema I) juga masih mengatakan, bahwa “hanya Gereja Roma-Katolik selayaknya (iure) disebut Gereja”. Dalam skema II belum ada banyak perubahan: “Gereja Kristus, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, adalah (est) Gereja Katolik, yang diatur (directa) oleh Imam Agung di Roma (Romanus Pontifex) dan para uskup dalam persekutuan dengannya”. Tetapi dengan skema III terjadi perubahan besar: 1.”Imam Agung di Roma” diubah menjadi “pengganti Petrus” (pimpinan tidak tergantung pada Roma, tetapi pada Petrus); 2. “diatur” menjadi “dipimpin” (paus tidak menentukan segala-galanya, tetapi mengarahkan); dan terutama 3. “adalah (est)” diubah menjadi “berada dalam (subsistit in)”. Perubahan semua ini diterima dalam rumusan terakhir “Lumen Gentium”. Panitia perumus menerangkan bahwa dipilih kata-kata itu “supaya lebih sesuai dengan pernyataan tentang unsur-unsur gerejawi yang sungguh ada di luar Gereja Katolik”. Konsili mau mengatakan bahwa Gereja Kristus tidak terbatas pada Gereja Katolik saja. Bagaimana Gereja Kristus “berada dalam” Gereja Katolik tidak diterangkan oleh Konsili. Gereja Kristus memang ada dan menampakkan diri, tetapi “kegerejaan” atau bentuk gerejawinya tidak identik sama dengan Gereja Katolik. Yang lain juga Gereja Kristus, tetapi dalam bentuk yang lain. Paling-paling dikatakan bahwa dalam Gereja Katolik Gereja Kristus terwujudkan dengan selengkap-lengkapnya.

Di dunia ini misteri Gereja tidak pernah tampak sepenuhnya. Oleh karena itu, bentuk Gereja yang tampak tidak pernah dapat diidentifikasikan dengan Gereja sendiri. Itu tidak berarti bahwa bentuk gerejawi tidak penting. Sebaliknya dalam bentuk yang konkret itu misteri Gereja menjadi kenyataan hidup bagi manusia, dan melalui bentuk yang manusiawi dimungkinkan komunikasi dan persekutuan dalam iman. Hanya dalam bentuk kehidupan yang konkret mungkinlah komunikasi dengan Gereja para rasul, baik dalam pewartaan maupun dalam perayaan (liturgi), dan terutama dalam pelayanan kepada dunia.

Apa yang dikatakan mengenai Gereja lokal berlaku juga untuk Gereja Katolik dalam hubungannya dengan jemaat-jemaat bukan Katolik: Gereja lokal itu seluruhnya Gereja, tetapi bukan seluruh Gereja. Sebagaimana Gereja lokal hanya dapat menjadi Gereja dalam arti penuh, bila berkomunikasi dengan jemaat-jemaat yang lain, begitu juga dalam hubungan ekumenis semua Gereja hanya dapat hidup dalam persekutuan dengan Gereja-gereja yang lain. Persekutuan atau communio tidak hanya mutlak perlu untuk kesatuan Gereja, tetapi juga untuk kekatolikannya. Gereja yang sudah tidak berhubungan dengan yang lain bukan Gereja Kristus lagi.

Usaha untuk mempertemukan Gereja-gereja Kristen dalam satu communio disebut gerakan ekumenis. Kata Konsili Vatikan II, “Yang dimaksudkan dengan gerakan ekumenis ialah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha yang diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat Kristen” (UR 4). Sebagai contoh disebutkan, pertama-tama, usaha saling menghormati dan menghindari segala sesuatu yang kurang sesuai; kemudian juga mengadakan pertemuan-pertemuan dan dialog, khususnya di antara para pakar; selanjutnya, segala macam kerja sama dalam arti yang luas; dan akhirnya, segala usaha untuk memperbarui diri dan mengubah kekurangan-kekurangan dalam Gerejanya sendiri. Yang dicita-citakan bukanlah supaya semua melebur dalam satu kesatuan yang kabur dan tanpa sifat-sifat Kristiani yang jelas. Sebaliknya, diharapkan bahwa masing-masing Gereja semakin menyadari akar-akarnya dalam iman Kristen dan juga kekhasannya sendiri dalam mengungkapkan dan mewujudkan iman bersama itu. Dengan demikian, sekaligus diharapkan mereka menghormati saudara-saudara seiman yang menghayati iman itu dalam bentuk yang berbeda.

One thought on “Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Kristen Lain

  1. Sebagai tuan rumah Ekumene,
    maka tugas Katolik menjadi sangat besar.

    Protesten berasal dari Katolik, sehingga Protestan mengharapkan pencerahan dari Katolik.

Comments are closed.