Gereja Katolik dan Agama-Agama Lain

Dalam LG 8 antara lain dikatakan bahwa Kristus “melalui Gereja mau melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang”. Gereja bukan kelompok tertutup, melainkan “tanda dan sarana kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1). Oleh karena itu dikatakan bahwa “Gereja, dengan mewartakan Injil, mengundang mereka yang mendengarnya kepada iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka menerima baptis, membebaskan mereka dari perbudakan kesesatan, dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus” (LG 17). Rumusan semacam itu tidak disenangi oleh banyak orang dewasa ini, bukan hanya oleh mereka yang melihat rumus ini sebagai rencana “kristenisasi”.

Di antara orang Kristen sendiri ada banyak yang merasa bahwa rumus ini tidak cocok dengan pernyataan Konsili sendiri, bahwa “mereka yang dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16). Di luar Gereja Katolik tidak hanya “terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran” (LG 8), tetapi di luar lingkungan Kristen ada “pengaruh rahmat”, sehingga orang bukan-Kristen juga “dapat memperoleh keselamatan kekal”. Lalu untuk apa “Gereja terus-menerus mengutus pewarta-pewarta” ke seluruh dunia? (LG 17). Gereja senantiasa yakin bahwa “Allah menghendaki semua orang diselamatkan” (1Tim 2:4), tetapi baru pada akhir Konsili Vatikan II disadari bahwa itu terjadi “dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah” (GS 22; AG 7). Keselamatan umat manusia tidak tergantung pada Gereja.

Gereja tidak mewartakan Injil untuk menyelamatkan orang. Hanya Tuhan dapat menyelamatkan, dan manusia harus menerima keselamatan itu dalam iman. Gereja mewartakan Injil karena tidak dapat diam mengenai segala sesuatu yang telah dilihat dan didengar olehnya (bdk. Kis 4:20). Pewartaan Injil tidak pernah dimaksudkan sebagai indoktrinasi. Yang pokok bukanlah pewartaan itu sendiri, melainkan isi-nya, “Keselamatan tidak ada di dalam siapapun selain di dalam Kristus; maka di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia untuk memperoleh keselamatan” (Kis 4: 12).

Yang menjadi soal ialah keyakinan iman bahwa “Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim 2:5), atau dengan kata Yesus sendiri: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Kata-kata itu secara konkret-praktis selalu diartikan oleh Gereja sebagai perintah mewartakan Kristus secara mutlak: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka” (Mat 28:19). Oleh karena itu pula Paulus bertanya:

“Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada-Nya, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana orang dapat memberitakan-Nya, jika tidak diutus? Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:14-15:17).

Itu dikatakan Paulus dalam situasi zaman itu, berhadapan dengan orang kafir Yunani. Sekarang Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “mereka yang belum menerima Injil, dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah …. Sebab apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan” (LG 16). Dengan demikian tidak disangkal perlunya pewartaan. Pewartaan perlu bukan hanya karena orang “ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran yang sesat dan mengubah kebenaran Allah menjadi dusta” (LG 16), melainkan lebih-lebih “untuk menghantar mereka kepada iman, kebebasan dan damai Kristus, sehingga bagi mereka terbukalah jalan yang bebas dan teguh, untuk ikut serta sepenuhnya dalam misteri Kristus” (AG 5).

Apa yang dikerjakan Tuhan dalam hati orang harus dikembangkan terus-menerus. Untuk itu perlu pewartaan, teladan hidup, sakramen-sakramen, serta upaya-upaya rahmat lainnya, sebagaimana dikatakan dalam konstitusi Dei Verbum mengenai proses komunikasi iman dalam Gereja sendiri: “dalam ajaran, hidup serta ibadatnya Gereja melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8).

Hal itu juga berlaku bagi mereka yang “dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah” (LG 16). Karena di sini tidak ada persekutuan penuh, komunikasi iman tidak terjadi secara persekutuan, melainkan dalam bentuk dialog. Panitia Teologis Internasional pada tahun 1988 mengatakan, dialog dengan agama-agama lain merupakan bagian integral hidup Kristiani. Tukar pendapat, studi, kerja sama, dan dialog membantu pemahaman yang lebih baik mengenai agama lain tetapi juga mengembangkan hidup keagamaan sendiri. Oleh karena itu Konsili mengajarkan, bahwa “pelaksanaan kegiatan misioner yang tepat dan teratur menuntut, supaya para pewarta Injil disiapkan untuk berdialog dengan agama-agama serta kebudayaan-kebudayaan bukan Kristen” (AG 34; 11; 41; NA 2).

Mengenai dialog itu sendiri Konsili Vatikan II mengajarkan, “Melalui cara-cara itu (yakni melalui penyelidikan bebas, pengajaran dan pendidikan, komunikasi dan dialog) manusia menjelaskan kepada sesamanya kebenaran yang telah ditemukannya – atau yang ia rasa telah menemukannya – sehingga saling membantu dalam mencari kebenaran” (DH 3; lih. GS 43). Maka “melalui pergaulan dengan sesama, dengan saling berjasa, melalui dialog dengan sesama saudara, manusia berkembang dalam segala bakat-pembawaannya, dan mampu menanggapi panggilannya” (GS 25).

Dasar dialog adalah kesadaran bahwa rahmat Allah berkarya dalam setiap manusia, juga dalam mereka yang tidak mengakui diri orang Kristen, yakni “semua orang yang mengakui Allah dan dalam tradisi-tradisi mereka melestarikan unsur-unsur religius dan manusiawi”. Mengenai hubungan dengan orang itu Konsili berkata, “Yang kami harapkan ialah, semoga dialog yang terbuka mengajak kita sekalian, untuk dengan setia menyambut dorongan-dorongan Roh, serta mematuhinya dengan gembira” (GS 92).

Dialog mendekati hubungan antara umat beriman dan umat beragama dari bawah, dari hubungan antara umat yang berbeda-beda agama. Namun di dalam dialog itu semua sama-sama berusaha menghayati apa yang paling dalam, yang menggerakkan dan memunculkan agama. Diakui bahwa tidak ada satu agama pun, termasuk agama Kristen, yang dengan sepenuhnya dapat menanggapi tawaran rahmat Allah itu (lih. GS 62). Dari pihak lain keterbatasan itu juga tidak menghalangi suatu pengalaman iman yang sungguh-sungguh dan religius.

Maka dialog antarumat beragama bukanlah konfrontasi antara ajaran-ajaran keagamaan yang berbeda-beda, melainkan dialog hidup atau “temu hati”, yang semakin terbuka untuk sapaan Allah. Ini tidak berarti bahwa dialog sebenarnya hanyalah alasan untuk masuk ke dalam diri sendiri. Dialog sendiri sudah terarah kepada perwujudan Kerajaan Allah dalam keadilan, damai dan keselarasan, yang semuanya merupakan nilai-nilai kemasyarakatan. Tetapi yang paling pokok adalah “temu hati” itu sendiri. Di situ orang tidak mengaburkan atau “menyembunyikan” pendapat dan keyakinan pribadi, namun dapat mengemukakannya penuh hormat terhadap pandangan dan karena itu tanpa memaksakan pendapatnya sendiri kepada orang lain.