Gereja dan Kaum Miskin

Di dunia ini ada banyak orang miskin atau lebih tepat dimiskinkan. Khususnya Asia sangat diwarnai oleh kemiskinan struktural ini. Kehadiran Gereja hendaknya mempunyai makna bagi belahan dunia yang dicengkam oleh kemiskinan ini. Gereja dan pelayanannya harus membawa “kabar baik” bagi kaum miskin.

Yesus bersabda, bahwa Ia diurapi Allah dengan Roh Kudus “untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Selanjutnya pewartaan Injil kepada orang miskin memang disebut di antara tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah, di samping penyembuhan orang sakit dan pembangkitan orang mati (Luk 7:22). Kalau Yesus berkata kepada orang miskin: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin” (Luk 6:20), Ia tidak memuji kemiskinan. Mereka tidak disebut bahagia karena miskin, tetapi karena kemiskinan segera akan diambil dari mereka. Itu terjadi dengan pewartaan Injil, bukan dengan sedekah, tetapi dengan memberikan semangat hidup yang baru, sebab “Injil adalah kekuatan Allah” (Rm 1:16).

Dalam sabda Yesus kerajaan Allah hadir dan berkarya. Kaum miskin diajak menyadari kekuatan Allah di antara mereka. Segala sesuatu yang dikerjakan Yesus, tujuannya supaya orang sadar bahwa kekuatan Allah ada di dalam mereka. Itulah maksud mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).

Yesus tidak membuat mukjizat supaya membuat semua orang miskin menjadi kaya. Mukjizat-Nya mau memperlihatkan kepada mereka, bahwa Allah hadir dan menyertai mereka; bahwa perjuangan mereka didukung dan diperkuat oleh Allah; bahwa ada masa depan bagi mereka. Mukjizat Yesus pada dasarnya tanda kasih Allah bagi mereka.

Pelayanan Gereja pertama-tama harus merupakan tanda kasih Allah bagi manusia. Kerajaan Allah bukan obat penenang, bukan candu. Kerajaan Allah berarti perjuangan, kerja berat. “Jangan mengira bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Mat 10:34). Yesus memang membawa damai, tetapi bukan damai yang murahan, dengan diam dan menerima segala-galanya. Damai Yesus diperjuangkan, dan sering menimbulkan perlawanan. Yesus juga tidak datang hendak mendirikan suatu organisasi keagamaan, melainkan memberi inspirasi dan semangat. Gereja diharapkan dapat melakukan hal yang sama. Gereja dituntut supaya tidak menjadi himpunan saleh, tetapi persekutuan iman sebagai sumber inspirasi dan kekuatan.

Percaya kepada Yesus berarti ikut serta dengan gerakan Yesus, khususnya dalam sikap-Nya terhadap kaum miskin. Yesus tidak sekadar teori, melainkan praksis hidup. Gerakan yang telah dimulai oleh Yesus berjalan terus, oleh Roh-Nya, di dalam Gereja. Janganlah Gereja menjadi organisasi kemasyarakatan yang kekuatannya terletak dalam sistem organisasi dan dasar finansial-ekonomisnya. Kekuatan Gereja adalah Roh, yang memberikan semangat iman kepada manusia. Oleh karena itu Gereja pantas bertanya pada dirinya sendiri: Apa dasar dan tujuan segala kegiatan sosial dan karya amal kita? Apa hubungannya dengan perayaan dan pengakuan iman kita? Bagaimana kita berusaha memberi semangat dan kepercayaan diri kepada orang?

Gereja hanyalah sarana, bukan tujuan. Terutama dalam pelayanannya, janganlah Gereja menjadi tujuannya sendiri. Tujuan Gereja adalah “persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Apa yang anda pikirkan?