Eutanasia

Hal eutanasia sebetulnya sama seperti pengguguran. Tidak diperbolehkan mempercepat kematian seseorang secara aktif dan terencana, juga jika secara medis ia tidak lagi dapat disembuhkan dan juga kalau eutanasia dilakukan atas permintaan pasien sendiri (bdk. KUHP pasal 344). Seperti halnya dengan pengguguran, di sini ada pertimbangan moral yang jelas, juga dalam proses kematian, manusia harus dihormati dalam martabatnya. Semua sependapat, bahwa tak seorang pun berhak mengakhiri hidup orang lain, biarpun karena rasa iba.

Lain halnya kalau dipertimbangkan, sejauh mana harus diteruskan pengobatan yang tidak menyembuhkan orang dan hanya memperpanjang proses kematiannya. Disebut eutanasia pasif, kalau pengobatan yang sia-sia dihentikan (atau sama sekali tidak dimulai); dan eutanasia tidak langsung, kalau obat penangkal sakit memperpendek hidupnya. Menurut moral Gereja Katolik, tindakan semacam itu dapat dibenarkan.

Pendapat Gereja Katolik mengenai eutanasia aktif sangat jelas, “Tak sesuatu pun atau tak seorang pun dapat membiarkan seorang manusia yang tak bersalah dibunuh, entah dia itu janin atau embrio, anak atau dewasa, orang jompo atau pasien yang tidak dapat sembuh ataupun orang yang sedang sekarat. Selanjutnya tak seorang pun diperkenankan meminta perbuatan pembunuhan ini, entah untuk dirinya sendiri, entah untuk orang lain yang dipercayakan kepadanya … Juga tidak ada penguasa yang dengan sah dapat memerintahkannya atau mengizinkan tindakan semacam itu” (Kongregasi untuk Ajaran Iman, Deklarasi mengenai Eutanasia, 5 Mei 1980).

Tidak dibenarkan mengakhiri hidup orang hanya karena kasihan atau rasa iba. Penderitaan harus diringankan bukan dengan pembunuhan, melainkan dengan pendampingan oleh seorang teman. Sama halnya seperti pengguguran: hanya orang sakit yang amat menderita mempunyai masalah nyata dengan eutanasia, dan orang yang minta supaya hidupnya dihentikan sebetulnya mencari teman dalam penderitaan. Masalah praktis itu belum terjawab dengan melarang eutanasia aktif. Demi salib Kristus dan demi ke-bangkitan-Nya, Gereja mengakui adanya makna dalam penderitaan, sebab Allah tidak meninggalkan orang yang menderita. Dan dengan memikul penderitaan dalam solidaritas, kita ikut menebus penderitaan. Maka, moral Kristen bertanya, bagaimana keyakinan umum itu menjadi nyata bagi orang sakit yang amat menderita, melalui seseorang yang terlibat karena sayang akan hidup?

Apa yang anda pikirkan?