Empat Bantahan dari Fundamentalis atas jawaban Katolik mengenai Keselamatan

(pengantar – bagian 1 dari 2)

Agar kita dapat mengembangkan pemahaman kita atas jawaban mengenai ‘Keselamatan’, ‘Siapa yang menyelamatkan?’, ‘Siapa yang diselamatkan?’, ‘Apa saja yang dibutuhkan agar selamat?’ yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, maka perlu kita menanggapi bantahan-bantahan yang telah muncul dan akan muncul. Dalam menanggapi bantahan ini posisi kita akan terlihat terlalu seperti liberalis dari sudut pandangan fundamentalis, dan terlalu fundamentalis dari sudut pandang liberalis. Dan bagian ini kita akan menanggapi setiap salah paham tersebut dari kedua pihak. Setiap pihak baik liberalis dan fundamentalis mempunyai sisi tersendiri, dan pemikiran sendiri, layaknya seperti sudut pandang dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, kedua pihak dapat dengan jelas melihat kekurangan pada pihak lain tetapi buta terhadap kekurangan pada dirinya sendiri. Maka jawaban yang akan diberi masing-masing disesuaikan dari sudut pandang pihak yang membantah.


Empat bantahan dari Fundamentalis

Bantahan 1:

Sepertinya, Allah terlalu liberal.

Tanggapan: Allah tidak mungkin terlalu liberal. Allah memang maha pengasih, memberikan ruang kebebasan bagi manusia namun bagaimana pun juga Allah berkehendak, dan kehendak Allah adalah Kebenaran. Kasih Allah dan Kebenaran Allah tidaklah terbatas dan tidak mengenal kompromi.

Bantahan 2:

Dengan mengatakan bahwa kaum/penganut pagan dapat diselamatkan tanpa menjadi Kristen, berarti bertolak belakang dengan Kitab Suci.

Tanggapan: Penganut pagan tidak dapat diselamatkan dengan penyembahan berhala, melainkan hanya dapat diselamatkan oleh Kristus.

Jika yang dimaksud dengan”pengikut Kristus (Kristen)” adalah kelompok orang-orang yang menerima Kristus yang sebenarnya (Yesus Kristus yang dikenal sebagai Firman, sebagai Terang yang menerangi setiap manusia pada segala jaman, yang dikenal sebagai Logos, yang dilahirkan oleh Maria, yang bangkit dari mati, dan yang naik ke Surga), Yesus Kristus yang Objektif, maka benar bahwa satu-satunya jalan agar diselamatkan adalah menjadi pengikut Yesus. Dan untuk kasus si Socrates, kita tidak mengetahui ada bukti dari Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Socrates itu adalah bukan pengikut (dalam arti segala jaman) Kristus.

Di lain sisi, jika yang dimaksud “pengikut Kristus (Kristen)” adalah kelompok orang-orang yang harus memiliki pengetahuan untuk menganut keimanan ortodoks akan Yesus, maka kita tidak harus menjadi seorang Kristen agar dapat diselamatkan, karena jika menjadi suatu keharusan maka Abraham tidak dapat diselamatkan, dan begitu juga semua generasi sebelum Yesus (Yesus yang mulai dikenal sejak dilahirkan oleh Maria) akan tidak dapat diselamatkan karena mempercayai keyakinan yang tidak ortodoks. Keyakinan yang tidak ortodoks yang bagaimana yang akan menyebabkan kita terjatuh ke Neraka? Dimana dapat dilihat batasan jelas antara keyakinan yang ortodoks dan keyakinan yang tidak ortodoks? Allah tidak mengajukan ujian teologi kepada kita agar masuk surga atau jatuh ke neraka?

Bantahan 3:

Dengan mengatakan penganut pagan dapat diselamatkan berarti mengarahkan ketidakpedulian, dan oleh karena itu sepertinya pewartaan Injil tidaklah terlalu penting karena tidak membawa perubahan.

Tanggapan: Tidak benar seperti itu. Baca kembali tentang pembahasan tiga alasan yang mendorong misi pewartaan Injil.

Bantahan 4:

Jika Allah menyelamatkan Socrates, kenapa tidak menyelamatkan orang lain juga? Apakah ada batasan bagi Allah berhenti menyelamatkan manusia? Apakah ada kondisi tertentu bagi Allah untuk menyelamatkan manusia? Tidak ada batasan yang jelas dan tegas. Tapi kalau ukurannya adalah agar diselamatkan harus menjadi Kristen, batasan itu terlihat jelas.

Jawaban: Tidak ada kondisi, syarat, atau batasan bagi Allah untuk berhenti untuk menyelamatkan Manusia. Allah mau menyelamatkan semua orang, walaupun tidak semua orang mau diselamatkan. Batasan objektif dapat dilihat jelas antara orang yang “mau” dan “tidak mau” diselamatkan yaitu menerima Kristus (Yesus Kristus yang Objektif: Yesus Kristus yang dikenal sebagai Firman, sebagai Terang yang menerangi setiap manusia pada segala jaman, yang dikenal sebagai Logos, yang dilahirkan oleh Maria, yang bangkit dari mati, dan yang naik ke Surga). Sedangkan batasan subjektif (berdasarkan penilai manusia) tidak dapat dilihat dengan jelas dengan mengukur seberapa eksplisitnya, seberapa lengkapnya imannya seseorang agar dapat diselamatkan. Dan bagi kita manusia batasan itu tidak menjadi keharusan menjadi jelas untuk kita. Hanya Allah yang dapat menilai hati seseorang.

Apa yang anda pikirkan?