Duduk di sisi Bapa

Dalam Perjanjian Baru kebangkitan Kristus sering dirumuskan dengan kata “peninggian”. Bila Mzm 2 dan Mzm 110 diterapkan pada Yesus (mis. Mrk 12:35-37; Kis 2:34), maksudnya ialah mengungkapkan kemuliaan Yesus yang mahaluhur. Sering kali keluhuran itu diungkapkan dengan kata “duduk di sebelah kanan Allah” (lih. Mrk 14:62 dsj.; 16:19; Kis [5:31;] 7:56; Rm 8:34; Ef 1:20; Kol 3:1; dst.).

Peninggian Yesus itu menjadi lebih nyata dalam kisah kenaikan. “Sesudah Tuhan Yesus berbicara kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Mrk 16:9). Kisah kenaikan itu diceritakan paling lengkap oleh Lukas (Luk 24:50-53 dan Kis 1:9-11). Tujuan kedua kisah itu agak berbeda. Ditekankan bahwa, dengan kenaikan-Nya ke surga, Yesus berpisah dari mereka dan menghilang dari pandangan. Peninggian Yesus, yang berarti bahwa Ia hidup dalam kemuliaan ilahi, juga berarti bahwa selanjutnya Ia tidak lagi terlihat oleh para murid. Perpisahan yang diceritakan pada akhir Injil Lukas itu terjadi pada hari Paskah juga. Dalam Kisah para Rasul dikatakan bahwa Yesus “selama empat puluh hari berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis 1:3). Maksudnya cukup jelas. Justru karena Yesus meninggalkan para murid, yang harus meneruskan pewartaan Kerajaan Allah, maka ditegaskan oleh Lukas bahwa pewartaan mereka sungguh berasal dari Yesus sendiri, lebih khusus dari Kristus yang mulia. Dan “Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Mrk 16:20), sebab Tuhan telah berjanji: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Tuhan yang mulia tetap hadir di dalam Gereja-Nya, sebab “kerajaan-Nya takkan berakhir”. Oleh peninggian-Nya, Yesus memang tidak kelihatan lagi oleh jemaat, tetapi pada perjamuan terakhir Ia sudah bersabda: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yoh 14:18). Yesus hadir di dalam jemaat oleh Roh-Nya.

Apa yang anda pikirkan?