Dua Sumber Utama untuk Mengenal Yesus Kristus

Tradisi dan Kitab Suci diuraikan secara khusus dalam konstitusi dogmatis Dei Verbum, yang diresmikan oleh Konsili Vatikan II pada 18 November 1968. Di dalamnya dikatakan bahwa “Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan, dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8). Proses komunikasi iman dari satu angkatan kepada angkatan berikut dan di antara orang sezaman disebut Tradisi. “Tradisi” berarti penyerahan, penerusan, komunikasi terus-menerus. Tradisi bukan sesuatu yang “kolot” atau dari zaman dahulu, melainkan sesuatu yang masih terjadi sekarang ini juga. Gereja yang hidup dan berkembang, itulah Tradisi. Gereja dan Tradisi sama. Tradisi adalah paham Gereja yang dinamis.

Dalam Tradisi itu ada satu kurun waktu yang istimewa, yakni zaman Yesus dan para rasul. Pada periode yang juga disebut zaman Gereja perdana itu Tradisi sebelumnya dipenuhi dan diberi bentuk yang baru, dan selanjutnya menjadi dasar dan inti pokok untuk Tradisi berikut, “yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef 2:20). Maka perumusan pengalaman iman Gereja perdana, yang disebut Perjanjian Baru merupakan pusat dan sumber seluruh Tradisi, bukan karena tulisan atau rumusannya, melainkan karena iman Gereja perdana yang terungkap di dalamnya. Pengalaman iman itu memang “ditulis dengan ilham Roh Kudus” (DV 11) dan itu berarti bahwa “buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan, kebenaran yang oleh Allah mau dicantumkan di dalamnya demi keselamatan kita”. Maka kesucian Kitab Suci datang dari iman Gereja perdana yang terungkap di dalamnya. Iman itu iman akan karya keselamatan Allah, yang mencapai puncak dan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, tetapi yang sudah mulai dilaksanakan dalam sejarah Israel, sebagaimana dirumuskan dalam Perjanjian Lama. Buku itu pun suci, bukan karena kata-kata atau perumusannya, tetapi karena karya Allah yang tetap aktual. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan ungkapan dan rumusan Tradisi sebagai pertemuan dan kesatuan antara Allah dan manusia. Maka seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah sabda Allah yang ditanggapi manusia dalam iman.

Kitab Suci merupakan kumpulan karangan yang berasal dari zaman yang berbeda-beda dengan latar belakang kebudayaan, politik dan juga agama yang berlain-lainan. Karangan yang ditulis antara tahun 1000 SM dan 100 M berangsur-angsur dikumpulkan, dan sejak abad keempat dibuat menjadi satu buku. Jumlah karangan atau “buku” ada 72 yang terdiri dari 45 buku Perjanjian Lama (atau 46 kalau Yeremia dan Ratapan dihitung tersendiri) dan 27 buku Perjanjian Baru.
PL: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I-II Samuel, I-II Raja, I-II Tawarikh, Ezra, Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, I-II Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus bin Sirakh, Yesaya, Yeremia (+ Ratapan), Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
PB: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah para Rasul, Surat-surat kepada umat dl Roma, I-II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, I-II Tesalonika, Surat-surat kepada Timotius I-II, Titus, Filemon, Surat kepada umat Ibrani, Surat Yakobus, I-II Petrus, I-II-III Yohanes, Yudas, Kitab Wahyu.

Jadi, bagi umat Kristen Kitab Suci bukanlah buku yang didiktekan atau ditulis oleh Tuhan. Kitab Suci merupakan ungkapan iman umat Israel dan terutama iman Gereja perdana. Oleh iman itu pengarang suci bersatu dengan Allah dan menuliskan apa yang diwahyukan oleh Tuhan. Dalam proses penulisan itu ia dianugerahi rahmat khusus (yang biasanya disebut ilham), supaya yang dituliskannya itu benar-benar wahyu Tuhan dan bukan pikirannya sendiri. Karena yang menulis itu bukan satu orang, melainkan banyak pengarang suci yang berbeda zaman dan kebudayaannya, iman yang sama itu pun diungkapkan dalam rumusan yang berbeda-beda, yang kadang-kadang dapat memberi kesan seolah-olah tidak cocok satu sama lain.

Sesudah Gereja perdana, Tradisi mengolah dan memperdalam ungkapan iman yang terdapat dalam Kitab Suci. “Sebab berkembanglah pengertian tentang kenyataan-kenyataan serta kata-kata yang diturunkan, baik karena kaum beriman, yang menyimpannya dalam hati, merenungkan serta mempelajarinya, maupun karena mereka menyelami secara mendalam pengalaman-pengalaman rohani mereka, ataupun juga berkat pewartaan mereka yang sebagai pengganti para rasul dalam martabat uskup menerima karunia kebenaran yang pasti” (DV 8). Pengalaman iman, sebagaimana dirumuskan dalam Kitab Suci, selalu aktual dan punya arti bagi zaman sekarang dan senantiasa harus dibaca, direnungkan, dan dimengerti secara baru. Dalam proses itu seluruh umat mengambil bagian, Konsili Vatikan II malah mengajarkan:

“Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh (Roh) Yang Kudus, tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman segenap umat, bila – dari uskup hingga para awam beriman yang terkecil – secara keseluruhan menyatakan kesepakatan tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG 12).

Pernyataan kebenaran oleh umat terjadi menurut struktur umat sendiri, berarti “di bawah mereka yang mempunyai wewenang mengajar yang suci”, yaitu para uskup. Ini tidak berarti bahwa umat hanya mengamini apa yang ditentukan oleh pimpinan, tetapi bahwa proses permenungan dan pemahaman sabda Allah dilaksanakan di bawah bimbingan mereka yang diangkat menjadi pemimpin di dalam Gereja. Dan sebagaimana umat seluruhnya “tidak dapat sesat dalam beriman”, begitu juga hierarki tidak dapat sesat dalam memberi bimbingan.

Perlu diperhatikan bahwa anugerah ketidak-sesatan tidak diberikan kepada orang perorangan, melainkan kepada umat seluruhnya. Begitu juga ketidak-sesatan dalam bimbingan tidak dimiliki oleh uskup-uskup perorangan, juga tidak oleh paus, melainkan oleh para uskup bersama sebagai dewan pimpinan Gereja dan paus sebagai kepala dewan itu. Hal itu diterangkan dengan cukup jelas dan mendetail dalam LG 25. Di situ ditetapkan juga bahwa pernyataan pemimpin itu selalu harus bersifat resmi, dan disampaikan secara resmi pula; maksudnya, sebagai pernyataan dan kesadaran seluruh umat. Maka pernyataan seperti itu tanpa arti, kalau umat tidak terlibat dalam proses pengolahannya.

Oleh karena itu Konsili berkata, “Jelaslah bahwa Tradisi suci, Kitab Suci dan wewenang mengajar Gereja saling berhubungan dan berpadu” (DV 10). Tradisi mempunyai titik beratnya dalam Kitab Suci tetapi tidak terbatas pada Kitab Suci. Sebaliknya, Tradisi berusaha terus menghayati dan memahami kekayaan iman yang terungkap dalam Kitab Suci. Proses penghayatan dan pemahaman itu terlaksana di bawah terang Roh Kudus di dalam Gereja, dibimbing oleh pimpinan Gereja. Kalau Kitab Suci dilepaskan dari Tradisi, ia kehilangan arti dan fungsinya. Begitu juga, atau lebih lagi, mengenai wewenang mengajar pimpinan Gereja. Kalau dewan para uskup, dengan paus sebagai kepalanya, merumuskan kebenaran iman dalam bentuk dogma, maka ajaran resmi itu tidak berarti suatu ajaran baru, apalagi wahyu yang lain, melainkan perumusan kembali sesuai dengan tuntutan zaman – iman yang dihayati Gereja sejak zaman para rasul. Gereja harus terus-menerus menekuni dan mempelajari kembali apa yang sejak dahulu sudah menjadi keyakinan imannya. Sebab “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8); tetapi dunia berubah terus-menerus. Maka supaya sabda Kristus tetap berarti, perlu dirumuskan kembali dan diaktualkan bagi angkatan baru.