Dosa Asal

Wafat Kristus bukanlah hukuman Allah yang khusus, yang dikenakan pada Kristus, sebagai ganti kita semua. Wafat Kristus berarti solidaritas-Nya dengan umat manusia yang harus mati karena dosa. Kristus tidak luput dari situasi kedosaan, dan karena itu mengalami maut. “Situasi kedosaan” ini sering juga disebut dengan istilah dosa asal, walaupun keduanya tidak tepat sama. Dosa asal memang berarti suatu “keadaan dosa”, yang meliputi umat manusia seluruhnya. Situasi kedosaan umat manusia sekarang ini bukan hanya akibat dosa asal, tetapi juga disebabkan oleh sejarah kedosaan manusia. Menurut ajaran Kitab Suci sejarah manusia memang mulai dengan dosa Adam dan Hawa, dan selanjutnya ditandai oleh kedosaan itu, sehingga setiap orang yang lahir di dunia ini terkena oleh situasi kedosaan itu. Maka kata “dosa asal” mempunyai arti ganda: dosa pada awal sejarah umat manusia seluruhnya (Adam dan Hawa) dan dosa pada permulaan sejarah kehidupan setiap orang yang lahir di dunia ini (yang disebut “dosa” bayi). Antara kedua itu ada hubungan kait-mengait. Karena ada dosa pada awal sejarah umat manusia, maka setiap orang yang lahir dalam perkembangan sejarah itu terkena oleh situasi kedosaan. Namun perlu diperhatikan bahwa dosa asal yang didapati setiap orang yang lahir di dunia ini, merupakan dosa dalam arti yang khusus. Dari satu pihak sungguh dosa yang menjauhkan dari Allah, dari pihak lain bukan dosa berdasarkan kesalahannya sendiri. Kekhususan dosa ini tidak mudah dimengerti dan memerlukan keterangan khusus.

Pertama-tama harus ditanyakan: apa itu dosa? Pertanyaan ini biasanya dijawab, dosa itu melanggar perintah Tuhan dengan sengaja. Itu benar, tetapi tidak lengkap, sebab bagaimana orang dapat mengetahui perintah Allah? Santo Paulus sudah berkata, bahwa orang “yang tidak memiliki hukum Taurat, oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat; isi hukum Taurat tertulis dalam hati mereka” (Rm 2:14-15). Tetapi orang merumuskan hukum itu dengan cara yang berbeda-beda. Ternyata suatu norma etis yang abstrak (ialah cita-cita kehidupan yang ideal) belum menjadi motivasi untuk tindakan konkret. Norma kehidupan bukanlah apa yang memajukan perkembangan umat manusia pada umumnya, melainkan apa yang memajukan hidup yang konkret, kini dan di sini. Karena manusia tidak hidup sendirian, norma kehidupan biasanya juga diambil dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Melanggar norma at au peraturan itu salah, karena mengganggu hidup bersama manusia. Tetapi dengan kata “dosa” dimaksudkan bahwa yang diganggu adalah hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah, yang “seharusnya” ada, ternyata tidak ada. Itu bisa karena salah manusia sendiri, atau kesalahan orang lain. Dosa asal berarti bahwa hubungan dengan Allah terhalang oleh dosa Adam. Bukan karena Adam dan Hawa menghilangkan rahmat yang diperuntukkan bagi semua orang, melainkan karena rencana keselamatan Allah menyangkut umat manusia sebagai keseluruhan. “Allah bermaksud menguduskan dan menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya. Tetapi Ia hendak membentuk mereka menjadi umat.” (LG 9). Lebih jelas lagi, “semua orang yang dipilih oleh Allah dari semula, ditentukan-Nya dari semula pula menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29). Seluruh umat manusia diciptakan dalam kesatuan dinamis yang menuju kesamaan dengan Kristus.

Allah tidak mengutus Anak-Nya ke dunia, ketika semua sudah kacau oleh dosa Adam. Dari semula Allah mempunyai rencana “untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala” (Ef 1:10). Maka Kristus juga disebut “yang sulung, yang pertama dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15). Dilihat dari sudut Allah, manusia pertama bukanlah Adam, melainkan Kristus. Adam hanyalah “gambaran dari Dia yang akan datang” (Rm 5:14), sebab Adam diciptakan menurut citra Kristus. Allah menciptakan manusia karena ingin membuat makhluk yang dapat dikasihi-Nya. Oleh karena itu, Ia menciptakan manusia menurut citra Anak yang terkasih. Kristus itu gambaran manusia sebelum segala zaman. Manusia “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak Allah, supaya Ia, Anak Allah itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29). Rencana Allah ialah sejarah manusia yang menuju keserupaan dengan Kristus.

Akan tetapi, rencana itu tidak terjadi. Semenjak kedosaan Adam, manusia menutup diri dan makin mencari diri sendiri sebagai tujuan hidupnya. Ternyata sejarah keselamatan menjadi sejarah kemalangan, yang makin terpusatkan pada diri manusia sendiri dan makin jauh dari Allah dan Kristus. Kalau dikatakan bahwa dari semula manusia berdosa, yang dimaksudkan ialah bahwa seluruh umat manusia, tanpa kecuali adalah pendosa: “Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih-karunia mereka dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm 3:24). Dengan mengikuti jejak Kristus manusia menemukan orientasi kembali kepada Allah. Tetapi dari dirinya sendiri manusia sudah tidak mempunyai orientasi dasar itu. Segala perbuatan jahat pada dasarnya merupakan perwujudan kejahatan dasariah manusia. Orientasi kepada dirinya sendiri, sebagai kejahatan dasariah, dapat membahayakan orientasi manusia kepada Allah dan sering menjadi penghambat iman juga.

Yohanes berkata bahwa Allah sebenarnya hanya memberikan dua perintah saja, yaitu “supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23). Kedua perintah itu kait-mengait. Kenyataan bahwa manusia tidak terorientasi lagi kepada Allah, dan Anak-Nya Yesus Kristus, mengakibatkan bahwa ia juga tertutup terhadap sesamanya. Sebab “barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4:20). Peperangan dan permusuhan di antara manusia sangat jelas memperlihatkan bahwa manusia tidak lagi terarah kepada Kristus, yang “datang untuk memberitakan damai-sejahtera” (Ef 2:17). Umat manusia tidak lagi mempunyai orientasi kesatuan yang dikehendaki Allah, tetapi terpecah-belah di antara mereka sendiri. Konsili Vatikan II mengatakan,

“Bila melihat dalam diri sendiri, ditemukan bahwa manusia cenderung berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal yang buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahan hidup yang tepat kepada tujuan yang terakhir, begitu pula seluruh harmoni dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan” (GS 13).

Situasi kedosaan bukan hanya sesuatu dalam batin manusia, melainkan menyangkut seluruh hidupnya, baik dalam relasi dengan sesama manusia, maupun dengan dunia material seluruhnya.

Apa yang diketahui dari Kitab Suci dan ajaran Gereja, juga jelas dari sejarah manusia sendiri (dan sering menjadi tema dalam kesusasteraan). Dasar segala konflik antara manusia adalah iri hati, yang berpangkal pada persaingan untuk merebut tempat yang paling unggul. Maka sesama yang mau ditiru dan dicontoh, sekaligus menjadi musuh yang mau diungguli dalam persaingan yang ketat. Persaingan dan iri hati itu sering menjadi begitu hebat hingga orang mau melampiaskan emosi kekecewaannya ke mana saja. Agresi yang bertumpuk-tumpuk sering mencari sasaran lain, kalau tidak dapat mengalahkan orang yang disaingi. Massa sudah tidak mengetahui mengapa harus marah dan melampiaskan rasa frustrasinya dalam penghancuran yang membabi-buta. Tidak jarang dicari “tumbar” guna menghilangkan rasa frustrasi kolektif itu dalam pembunuhan tanpa alasan. Kejahatan sering “menular” ke mana-mana sebagai jalan keluar dari tekanan emosi persaingan dan frustrasi. Dalam kejahatan seperti itu, yang berdasarkan ketegangan antara manusia sendiri, sering sudah tidak jelas siapa penjahat dan siapa korban. Maka tidak mengherankan bahwa dia yang dibunuh, kemudian dihormati sebagai pahlawan. Sering orang tidak mengetahui lagi asal-usul kejahatan.

Apa yang mau dinyatakan oleh kisah Adam dan Hawa sebetulnya tidak lain daripada kebenaran, bahwa konflik antara baik dan jahat mengena pada akar-akar hidup manusia. Kejahatan itu tidak datang dari Allah, yang menciptakan manusia demi kebahagiaan, melainkan muncul dari kebebasan hati manusia sendiri. Allah menawarkan kepada manusia supaya menjadi serupa dengan Anak-Nya sendiri. Manusia dapat “menjadi seperti Allah” (Kej 3:5), tetapi keluhuran itu harus diterima dari Allah sebagai anugerah, tidak dirampas sebagai kemenangannya sendiri.

Allah menciptakan manusia supaya menjadi satu dengan-Nya. Tetapi manusia sendiri menolak. Kapan? Setiap saat. Itulah sikap dasar manusia. Ia tidak mau menerima kebahagiaannya dari tangan Allah, tetapi mau membuatnya sendiri, menurut rencana dan kehendaknya sendiri. Kebahagiaan manusia tergantung pada Allah yang menciptakannya, tetapi juga pada manusia sendiri yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang bebas-merdeka.

Allah tetap menawarkan kebahagiaan kepada manusia, dan manusia tetap diberi kemungkinan menerimanya. Syaratnya, ialah bahwa manusia melepaskan diri dan menyerahkan diri kepada kebaikan Allah. Sekali diciptakan sebagai makhluk yang bebas manusia selalu mempunyai kecenderungan menutup diri dan membuat diri sendiri sumber segala kebahagiaan. Manusia lupa bahwa ia makhluk dan bukan pencipta. Maka akhirnya dosa asal tidak lain daripada misteri kejahatan manusia: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm 7: 19). Misteri dosa asal adalah misteri manusia yang seluruhnya tergantung pada Allah, dan sekaligus seluruhnya “diserahkan kepada keputusannya sendiri” (GS 17). Bebas dalam ketaatan; atau dipanggil agar taat dalam kebebasan.