Doa

Semua agama mengenal doa. Kebanyakan agama pun tidak melihat doa sebagai kegiatan mendaraskan rumus-rumus hafalan. Doa pertama-tama dan terutama suatu pernyataan iman di hadapan Allah.

Doa dan hidup religius di tanah air kita pada umumnya berakar di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam kebudayaan, pandangan hidup telah menjadi satu dengan agama, Kekayaan ini tidak hanya merupakan warisan sejarah, tetapi juga membentuk kehidupan di dalam masyarakat. Agama telah menjadi bagian dari cara berpikir dan kehidupan bersama dalam masyarakat. Dalam agama, yang telah bersatu padu dengan seluruh hidup, orang menemukan perasaan aman dan ketenteraman emosional. Maka tidak mengherankan bahwa doa juga diwujudkan menurut struktur kebudayaan ini. Doa tidak dilepaskan dari kehidupan sehari-hari dan dari hidup bersama di dalam masyarakat. Maka ada banyak kebiasaan dan bentuk doa dalam masyarakat yang asal-usulnya bukan hanya dari sejarah agama tertentu, tetapi dari agama sebagaimana hidup di dalam masyarakat.

Doa pada dasarnya berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri anak Allah, mengakui Allah sebagai Bapa. Doa adalah kata cinta seorang anak kepada Bapanya. Maka doa dapat timbul dari kesusahan hati yang bingung, tetapi juga dari kegembiraan jiwa yang menuju ke masa depan yang bahagia. Doa tidak membutuhkan banyak kata (lih. Mat 6:7), tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau gerak-gerik yang khusus, meskipun dapat didukung olehnya.