Doa di dalam Gereja dan Doa Gereja

Perlu dibedakan antara doa pribadi dan doa bersama. Yang pertama dapat disebut “doa di dalam Gereja”, sedangkan yang kedua adalah “doa Gereja”. Dikatakan bahwa doa tidak sama dengan mendaraskan rumus-rumus hafalan melainkan pertama-tama dan terutama pernyataan iman di hadapan Allah. Doa berarti mengarahkan hati kepada Tuhan. Maka doa tidak membutuhkan banyak kata, dan tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau gerak-gerik yang khusus. Yang berdoa adalah hati, bukan badan. Maka yang berdoa sebetulnya juga bukan manusia, melainkan Roh Allah sendiri (lih. Rm 8:26). Itu berlaku untuk doa pada umumnya, dan juga untuk doa di dalam Gereja. Tetapi untuk doa Gereja sebagai doa bersama, perlu sedikit keseragaman demi kesatuan doa dan pengungkapan iman.

Doa Gereja merupakan doa resmi atau “liturgi”, yang dapat disebut “kebaktian” (sebab kata Yunani leitourgia berarti “kerja bakti”) atau lebih baik “ibadat resmi Gereja”. Yang pokok bukan sifat “resmi” atau kebersamaan, melainkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa. Dengan demikian, liturgi adalah “karya Kristus Imam Agung, serta Tubuh-Nya, yaitu Gereja”. Oleh karena itu liturgi tidak hanya merupakan “kegiatan suci yang sangat istimewa”, tetapi juga wahana utama untuk menghantar umat Kristen ke dalam persatuan pribadi dengan Kristus (SC 7). Memang, “liturgi suci tidak mencakup seluruh kegiatan Gereja” (SC 9), tetapi dalam kerangka doa Gereja, liturgi merupakan pengantar utama ke dalam misteri Kristus, sebab dalam liturgi orang berdoa bersama Kristus, mengambil bagian dalam penyerahan Kristus kepada Bapa-Nya.

Liturgi tidak hanya menawarkan aneka bentuk dan rumus doa, tetapi mau menjadi tempat orang merasakan dan menghayati komunikasi dengan Bapa, bersama Putra, dalam Roh Kudus. Inti pokok doa adalah kesatuan pribadi dengan Putra dalam penyerahan-Nya kepada Bapa. Itulah sebabnya Gereja selalu berdoa “dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus”. Itu tidak mungkin tanpa Roh Kudus. Maka doa Kristen adalah suatu gerakan dinamis: dalam Roh, bersama Kristus, menghadap Bapa.

Liturgi “bukanlah seluruh kegiatan Gereja”. Liturgi selalu harus berhubungan dengan Kitab Suci, sebagai kesaksian pokok mengenai Allah dan karya penyelamatan-Nya, dengan ajaran Gereja dan terutama dengan kehidupan jemaat. Liturgi termasuk pengungkapan iman. Iman berarti hubungan dengan Allah. Maka pokok liturgi adalah pengungkapan hubungan dengan Allah, dengan tekanan pada kehormatan dan kemuliaan Allah. Oleh karena itu liturgi pertama-tama merupakan pujian Tuhan. Tetapi kemuliaan Allah tidak pernah lepas dari segi lain iman, yaitu pengudusan manusia, sehingga liturgi selalu mempunyai dua segi itu: kemuliaan Allah dan pengudusan manusia. Liturgi itu pertemuan keselamatan dengan Allah, dalam Kristus, oleh Roh Kudus. Maka doa “Bapa kami”, yakni doa Yesus kepada Bapa-Nya tetap merupakan suri-teladan segala doa liturgis. Tetapi struktur pokok liturgi terdapat dalam Ekaristi, sebagaimana akan diuraikan di bawah ini.

Liturgi bukan hanya pengulangan doa Yesus atau lanjutan ibadah Yahudi. Liturgi berkembang dalam sejarah, dan seharusnya tetap berkembang, sesuai dengan kekhasan unsur-unsur perayaan dalam kebudayaan Gereja setempat, sebab walaupun kebersamaan bukan inti pokok liturgi, melainkan kebersamaan merupakan unsur penting juga, dan penghayatan iman bersama tidak mungkin tanpa pengungkapan yang sesuai. Dalam hal ini ajaran Konsili Vatikan II jelas sekali:

“Umat beriman janganlah menghadiri misteri iman sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan sedemikian rupa sehingga melalui upacara dan doa-doa mereka memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka dengan rela hati menerima pelajaran dari sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, dan bersyukur kepada Allah” (SC 48).

Dalam Konstitusi mengenai Liturgi, Konsili Vatikan II tidak hanya berbicara mengenai doa dan perayaan kebaktian, tetapi juga menyinggung masalah “musik liturgi” dan “kesenian religius dan perlengkapan ibadat”, karena “Gereja selalu berusaha memanfaatkan kesenian, supaya segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadat suci sungguh layak, indah dan permai, agar supaya dapat menjadi tanda dan lambang kenyataan surgawi” (SC 122). Semua itu tidak termasuk pokok liturgi, tetapi mendukung dan menyemarakkan. Hal itu tidak hanya menyangkut gambar dan patung serta gedung gereja sendiri. Gerak-gerik dan bahasa, pakaian dan musik mendapat perhatian khusus. Dalam hal ini Gereja mengharapkan perpaduan antara tradisi dan inspirasi kreatif yang baru, khususnya yang bersumber pada cita-cita inkulturasi.

Berhubung dengan hal ini tumbuh di dalam Gereja kebiasaan memakai warna-warna tertentu dalam perayaan liturgi, khususnya dalam Ekaristi. Putih. dipakai untuk semua hari besar, kecuali Pentekosta. Pada hari itu merah adalah warna liturgis sebagai lambang cinta kasih ilahi; maka merah juga dipakai untuk pesta para martir, termasuk Yesus sendiri pada Jumat Suci (Agung) dan Minggu Palma. Untuk para santo dan santa yang lain: putih. Untuk masa persiapan, yakni masa Adven dan Prapaska, warna ungu. Warna itu tidak begitu cerah dan gembira, maka cocok untuk masa renungan dan mati-raga karena dosa-dosa kita. Hitam lebih muram lagi; karena itu cocok untuk doa bagi arwah-arwah. Tetapi kalau mau tidak terlalu menonjolkan kedukaan, boleh memakai ungu juga. Untuk semua perayaan lain, yang tidak termasuk yang disebut di atas, dipakai warna hijau.

Liturgi bukan tontonan, melainkan perayaan. Melalui perayaan itu sebagai pengungkapan iman Gereja, orang mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan. Tentu saja bukan hanya dengan partisipasi lahiriah. Yang pokok adalah hati yang ikut menghayati apa yang diungkapkan dalam doa. Tetapi kekhasan doa Gereja ini merupakan sifat resminya, sebab justru karena itu Kristus bersatu-padu dengan umat yang berdoa. Dengan bentuk yang resmi doa umat menjadi doa seluruh Gereja yang, sebagai Mempelai Kristus, berdoa bersama Sang Penyelamat, sekaligus tetap merupakan doa pribadi setiap anggota jemaat. Liturgi baru menjadi doa dalam arti penuh, bila semua yang hadir secara pribadi dapat bertemu dengan Tuhan dalam doa bersama itu. Kalau demikian terjadi apa yang dikatakan Tuhan “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Atau dengan rumusan Konsili Vatikan II, “Di dalam jemaat-jemaat, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik” (LG 26). Karena kehadiran Kristus, liturgi membuat jemaat setempat menjadi Gereja dalam arti yang penuh, sebab di dalamnya setiap orang didorong ke arah kesatuan pribadi dengan Kristus dan bersama-sama mereka membentuk Gereja Kristus. Dengan demikian setiap “paroki dalam arti tertentu menghadirkan Gereja semesta” (SC 42).