Yesus Memanggil Pengikut-Pengikut-Nya

Selaku pengkhotbah keliling, Yesus menjumpai banyak orang. Secara historis dapat dipastikan bahwa lama-kelamaan terkumpul di sekitar Yesus suatu kelompok pengikut yang lebih dekat. Yesus tidak memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai pengudusan orang-perorangan tanpa hubungan antara yang satu dengan yang lain. Karena tinggal di antara manusia, Ia bertindak secara manusiawi pula. Manusia mesti hidup bersama. Maka dilakukan-Nya apa yang dilakukan Allah dalam Perjanjian Lama: dikumpulkan-Nyalah suatu umat. Mula-mula umat baru ini masih merupakan kelompok kecil, tetapi dihibur oleh janji yang besar: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil; karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu” (Luk 12:32).

Dengan demikian pemerintahan Allah mulai mendapat bentuk di antara manusia. Di mana Yesus muncul Ia meninggalkan pengikut yang bersama keluarga mereka menantikan pemerintahan Allah dan menerima Yesus serta utusan-utusan-Nya. Mereka terdapat di seluruh negeri Palestina, terutama Galilea, tetapi juga di Yudea, misalnya Betania, dan di daerah Dekapolis (Mrk 5:19-20). Sekelompok murid menyertai Yesus dalam perjalanan-Nya. Yang termasuk dalam kelompok teman seperjalanan ini yaitu orang seperti Lewi, anak Alfeus (Mrk 2:14), Yusuf yang disebut Barsabas, Matias, dan juga wanita-wanita (Luk 8:1-3; Mrk 15:40-41). Di antara para murid ini terdapat sekelompok inti yaitu kedua belas rasul.

Mereka yang membuka hatinya bagi Injil itu boleh dikatakan membentuk tiga lingkaran konsentris sekitar Yesus. Lingkaran paling besar yaitu pengikut-Nya dalam arti orang-orang yang percaya kepada Yesus; kebanyakan mereka itu tinggal tersebar di seluruh negeri, bersama keluarga mereka. Lingkaran tengah yaitu para murid yang menyertai Yesus dalam perjalanan-Nya; tentang mereka ini Petrus akan berkata bahwa mereka “senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga meninggalkan kami” (Kis 1:21-22). Akhirnya lingkaran paling dalam adalah kedua belas rasul yang harus dikatakan kelompok inti. Dengan demikian, timbul di tengah-tengah dunia kita ini persekutuan orang-orang yang menerima pemerintahan Allah. Mereka itu “Umat Allah yang baru”, suatu umat yang berasal dari Yesus. Kepada “Umat Baru” ini seluruh umat manusia terpanggil. Ras, bangsa, dan keturunan tidak memainkan peranan. Yang penting ialah keinsafan akan ketidakmampuan sendiri, serta kesediaan menerima Kerajaan Allah. Dari pengikut-pengikut Yesus inilah Gereja perdana akan timbul dan di kemudian hari, yakni sesudah wafat dan kebangkitan Yesus.

Yesus Membebaskan Manusia dari Beban Hukum

Di antara perbuatan-perbuatan yang dilakukan Yesus terdapat tindakan tertentu yang mengungkapkan sikap dan pandangan Yesus mengenai hukum Taurat. Yesus memaklumkan bahwa Allah itu pembebas. Allah ingin memungkinkan manusia mengembangkan diri secara lebih utuh dan penuh. Segala hukum, peraturan, dan perintah harus diabdikan kepada tujuan pemerdekaan manusia. Maksud terdalam setiap hukum ialah membebaskan (atau menghindarkan) manusia dari segala sesuatu yang (dapat) menghalangi manusia berbuat baik. Begitu pula tujuan hukum Taurat. Sikap Yesus terhadap hukum Taurat dapat diringkaskan dengan mengatakan bahwa Yesus selalu memandang hukum Taurat dalam terang hukum kasih.

Orang yang tidak peduli dengan maksud dan tujuan suatu hukum, asal saja huruf hukum ditepati, akan bersikap legalistis: pemenuhan hukum secara lahiriah dipentingkan sedemikian rupa sehingga semangat hukum kerap kali dikurbankan. Ketika misalnya kaum Farisi mau menerapkan hukum Sabat dengan cara yang merugikan perkembangan manusia, walaupun huruf hukum ditepati, Yesus mengajukan protes demi tercapainya tujuan hukum Sabat, yakni kesejahteraan manusia jiwa raganya.

Menurut keyakinan orang Yahudi sendiri, hukum Sabat adalah kurnia Allah demi kesejahteraan manusia (lih. Ul 5:12-15; Kel 20:8- 11; Kej 2:3). Akan tetapi sejak pembuangan Babilonia (587-538 SM), hukum Sabat oleh para rabi cenderung ditambah dengan larangan-larangan yang sangat rumit. Memetik bulir gandum sewaktu melewati ladang yang terbuka tidak dianggap sebagai pencurian. Kitab Ulangan yang bersemangat perikemanusiaan mengizinkan perbuatan tersebut. Tetapi hukum seperti yang ditafsirkan para rabi melarang orang menyiapkan makanan pada hari Sabat dan karenanya melarang orang menuai dan menumbuk gandum. Dengan demikian para rabi menulis hukum mereka sendiri yang bertentangan dengan semangat manusiawi Kitab Ulangan. Hukum ini semakin menjadi beban dan bukan lagi bantuan guna mencapai kepenuhan hidup sebagai manusia. Maka Yesus mengajukan protes. Ia mempertahankan maksud asli Allah dengan hukum Sabat itu. Yang dikritik Yesus bukanlah hukum Sabat sebagai pernyataan kehendak Allah, melainkan cara hukum itu ditafsirkan dan diterapkan. Mula-mula hukum Sabat itu hukum sosial yang bermaksud memberikan kesempatan kepada manusia beristirahat, berpesta, dan bergembira setelah enam hari bekerja. Istirahat dan pesta itu memungkinkan manusia selalu ingat siapakah sebenarnya manusia itu dan untuk apakah hidup. Hidup bukan untuk binasa dalam pekerjaan dan penderitaan, tetapi untuk tiap-tiap kali bangkit kembali dan hidup lagi sebagai manusia bebas dalam kegembiraan. Sebenarnya hukum Sabat mengatakan kepada kita bahwa masa depan kita bukan kebinasaan, tetapi pesta. Dan pesta itu sudah boleh mulai kita rayakan sekarang dalam hidup di dunia ini, dalam perjalanan kita menuju Sabat yang kekal.

Cara unggul mempergunakan hari Sabat ialah menolong sesama (Mrk 3:1-5). Hari Sabat bukan untuk mengabaikan kesempatan berbuat baik. Pandangan Yesus tentang Taurat-Nya adalah pandangan yang bersifat memerdekakan sesuai dengan maksud asli hukum Taurat itu sendiri.

Yesus Bergaul dengan Semua Orang

Yesus dekat dengan sesama-Nya, maka Ia juga sangat terbuka kepada segala orang. Ia bergaul dengan semua orang. Ia tidak mengkotak-kotakkan dan membuat kelas-kelas di antara manusia. Tidak terbayang dalam pikiran-Nya merangkul hanya sekelompok orang dan menyingkirkan kelompok yang lainnya. Ia akrab dengan semua orang, para rohaniwan (Yoh 7:42-52) dan penguasa bahkan penjajah (Mrk 7:1-10) yang beritikad baik. Namun Ia pun akrab dengan para pegawai pajak yang korup (Luk 19:1-10), dengan tuna susila (Luk 7:36-50) dan para penderita penyakit berbahaya yang dikucilkan.

Harus diingat bahwa pergaulan Yesus dengan orang-orang yang berdosa dan najis amat tidak sesuai dengan adat sopan-santun dan peraturan agama yang berlaku pada saat itu, Yesus telah menjungkirbalikkan peraturan-peraturan yang telah mapan. Kadang-kadang sikap Yesus memang provokatif, sebagaimana tampak dalam hal-hal berikut.

a. Sikap Yesus terhadap Kaum Pendosa

Bagi orang Yahudi dosa itu menular seperti kuman. Kena bayangan seorang berdosa, tinggal serumah. dengan orang jahat, apalagi makan bersama dengan mereka berarti kena dosa itu sendiri, menjadi orang berdosa. Maka seorang yang saleh tidak boleh bergaul dengan yang tidak saleh. Seorang Yahudi akan rusak namanya kalau berhubungan dengan seorang kafir, Seorang yang beragama baik dianggap murtad kalau berkontak dengan orang tidak beragama.

Dan Yesus? Ia telah melanggar semua peraturan dan adat. Ia bergaul dengan para pegawai pajak yang dianggap umum sebagai koruptor dan pemeras. Ia bertemu dan menyapa orang-orang setengah kafir seperti bangsa Samaria, mendatangi negeri-negeri orang kafir dan berbicara akrab dengan mereka (Mat 15:21-28).

b. Sikap Yesus terhadap Wanita

Anggapan masyarakat Yahudi adalah bahwa wanita itu penggoda. Oleh karenanya orang laki-laki, terlebih seorang guru agama tidak boleh berbicara dengan seorang perempuan yang belum dikenalnya.

Bagaimana sikap Yesus? Ia bergaul bebas dengan wanita. Bahkan ada wanita-wanita tertentu yang tetap mengikuti-Nya ke mana pun Dia pergi. Yesus juga menyapa dan bergaul enak dengan wanita-wanita kafir yang belum dikenal-Nya seperti wanita Samaria. Ia tidak saja bergaul dengan sembarang wanita, tetapi juga berusaha dan membela wanita-wanita sundal yang tertangkap basah (Yoh 8:1-11).

Dari contoh-contoh di atas menjadi jelas bagi kita bahwa pergaulan Yesus sangat terbuka, tanpa ambil pusing mengenai adat, kebiasaan, dan peraturan sosial yang sudah ada. Ia berusaha merangkul segala kelompok orang. Yesus tidak mau terikat oleh peraturan yang diskriminatif.

Yesus Mengadakan Mukjizat-Mukjizat

Dengan mengerjakan mukjizat, Yesus memperlihatkan dengan perbuatan, apa yang dalam pewartaan-Nya diperdengarkan-Nya dengan perkataan, yaitu bahwa kerajaan iblis berakhir dan kerajaan Allah mulai. Tanda-tanda mukjizat yang dikerjakan Yesus itu memperlihatkan bahwa dalam diri Yesus genaplah nubuat para nabi tentang Mesias yang kedatangan-Nya telah dijanjikan kepada para leluhur Israel. Seperti Injil yang diwartakan Yesus, begitu pula mukjizat yang dilakukan-Nya merupakan tanda-tanda zaman Mesias. Di dalam pemberitaan dan “pekerjaan” Yesus ini, pemerintahan Allah sedang menerobos masuk dunia.

Pada zaman Yesus, orang menghayati dunia kita ini sebagai medan pertempuran antara Allah dan si jahat, antara kuasa terang dan kuasa kegelapan. Penderitaan dan kejahatan dialami sebagai tanda bahwa dunia ini dikuasai kejahatan. Personifikasi kejahatan ialah setan atau iblis. Roh-roh jahat menyebabkan manusia menderita: roh yang “najis” itu berbuat jahat. Sebaliknya Yesus yang diurapi Allah dengan Roh Kudus (Kis 18:38), menyembuhkan orang, baik secara jasmani maupun rohani. Masuk akal bahwa kehadiran-Nya saja sudah cukup bagi roh-roh itu menganggapnya sebagai suatu serangan terhadap kerajaan kegelapan (Mrk 1:23; 5:7-13; 9:20- 26). Dengan mengerjakan mukjizat, dengan “menjadikan segala-galanya baik” (Mrk 7:37), Yesus menjelmakan pemerintahan Allah dan menghentikan pemerintahan setan. Bilamana Yesus muncul, si jahat menarik diri,

Para pengarang Injil menceritakan mukjizat-mukjizat Yesus guna memaklumkan bahwa Yesus tidak hanya menyampaikan kabar yang menggembirakan itu, tetapi Ia sendirilah Kabar Gembira, “Injil”. Yesus sendirilah keselamatan, rahmat, dan penyembuhan bagi manusia yang sedang susah. Kalau begitu, pemerintahan Allah yang eskatologis itu betul-betul sedang mendobrak masuk ke dunia ini. ” … Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).

Melalui “amal kasih”-Nya, Kerajaan Allah benar-benar diambang pintu (Mrk 1:15; 7:37). Walaupun mukjizat ini belum merupakan manifestasi kosmik pemerintahan Allah, mukjizat itu lebih daripada sekedar janji tentang kedatangan-Nya, sebab pada hakikatnya menyatakan kuasa Allah yang berkarya dalam perbuatan Yesus itu.

Ketika Yohanes Pembaptis dari dalam penjara mengutus orang kepada Yesus untuk bertanya adakah Yesus betul-betul Mesias yang dinanti-nantikan itu, Yesus menjawab kepada para utusan, “Pergilah dan beritakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:4-5).

Dengan jawaban ini, Yesus menegaskan bahwa dengan tampil-Nya sendiri, zaman Mesias memang sudah mulai, sebab dalam jawaban di atas Yesus sebenarnya mengutip nubuat Yesaya tentang kedatangan Allah (Yes 35:4-6). Zaman Mesias adalah permulaan zaman penyelamatan yang eskatologis. Baru permulaannya, sebab zaman rahmat ini pun masih dalam perkembangan menuju taraf-tarafnya yang lebih tinggi, dan akhirnya kepenuhan rahmat sebagai puncaknya, yaitu bilamana Allah menjadi semua di dalam semua (lih. 1Kor 15:20-28).

Kesaksian Yesus tentang Kerajaan Allah

Yesus bukan saja berbicara tentang Kerajaan Allah, tetapi juga memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah dengan tindakan-tindakan-Nya. Memang ada kesatuan antara Sabda dan karya-Nya. Ia tampil sebagai nabi, tetapi juga sebagai tabib. Unsur hakiki nabi dan tabib, masing-masing mewakili unsur perkataan dan perbuatan, yang merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dalam hidup Yesus. Kesatuan antara Sabda dan karya Yesus itu bersifat sedemikian rupa sehingga kebenaran perkataan Yesus itu tampak dalam perbuatan-Nya; dan arti perbuatan Yesus diberitahukan dalam perbuatan-Nya.

Tuntutan Kerajaan Allah: Sabda Bahagia

Menurut intisarinya, Sabda Bahagia berasal dari Yesus sendiri. Versi yang tertua barangkali termaktub dalam Luk 6:20b-21:

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.”

Yang menarik perhatian yaitu intisari Sabda itu menyatakan sebagai “berbahagia” bukan orang-orang saleh melainkan orang miskin, orang lapar, dan orang yang menangis. Dengan demikian Yesus memaklumkan suatu “revolusi” yang membalikkan nilai-nilai dan tata hubungan. Maksud Sabda Bahagia itu dapat diuraikan sekitar pokok-pokok ini: ketegangan eskatologis yang mewarnainya, yang dituju oleh sabda-sabda ini, serta sikap hidup mereka, dan siapakah yang secara konkret termasuk golongan mereka yang dinyatakan berbahagia oleh Yesus. Dan akhirnya harapan yang beralasan.

Ketegangan eskatologis ini terungkap dalam pewartaan bahwa Kerajaan Allah “sudah dekat”. Ungkapan ini berarti rangkap: di satu pihak Kerajaan Allah sudah terasa sekarang ini, tetapi di pihak lain penyelesaiannya belum tiba dan kesempurnaannya masih dinanti-nantikan. Oleh karena itu, terdapat ketegangan antara “sudah” dan “belum”. Sekarang pemerintahan Allah sudah membayangi dunia kita ini, tetapi belum datang dalam kesempurnaannya. Dengan kata lain, masa depan sudah mulai.

Mengapa orang “miskin” atau “sengsara” ini dinyatakan berbahagia oleh Yesus? Ucapan “berbahagialah, hai kamu … ” ada sangkut pautnya dengan sikap hidup atau cara hidup yang dapat dimiliki justru oleh orang-orang semacam itu. Justru mereka yang miskin dan menderita, singkatnya yang tidak memiliki apa-apa dan tak berdaya di dunia ini, paling condong mengharapkan segalanya dari Tuhan. Satu-satunya sandaran mereka ialah Tuhan. Satu-satunya kekayaan dan kekuatan mereka adalah Tuhan. Tuhan adalah segala-galanya untuk mereka. Mereka inilah yang dinyatakan berbahagia oleh Yesus. Sebaliknya mereka yang merasa diri mempunyai andil dan mempunyai kekuatan sendiri, misalnya karena kesalehannya, tak terpikirkan oleh Yesus untuk disapa “berbahagia”.

Kiranya jelas yang berbahagia ialah mereka yang menerima Allah sebagai satu-satunya raja mereka. Untuk itu mereka rela melepaskan raja-raja yang lain, seperti harta dan kehormatan, dan rela pula mempertaruhkan segala-galanya, termasuk diri mereka sendiri, demi Sang Raja. Bukankah sikap ini sikap yang dihayati oleh Yesus sendiri? Sikap hidup ini memang menjungkirbalikkan ukuran-ukuran duniawi. Kepada orang-orang yang cara hidupnya sama dengan cara hidup yang dipilih Yesus inilah yang dinyatakan berbahagia. Mengapa? Karena sikap orang-orang ini cocok untuk menantikan kerajaan Allah, malah untuk sekarang pun sudah dibayangi oleh sukacita besar di tengah-tengah lembah duka kehidupan mereka. Allah akan menghibur, memuaskan dan menjadikan mereka anak-anak-Nya.

Tetapi masih ada satu pertanyaan yang mengganjal, Adakah dengan kedelapan Sabda Bahagia-Nya Yesus mau menganjurkan dan mempertahankan kemiskinan, kelaparan, pengangguran, dan penderitaan di bumi ini? Jelas tidak. Dengan kedelapan Sabda Bahagia-Nya, Yesus mau mengatakan bahwa kekayaan dan kekuatan kita hanya terletak pada Allah. Dengan bersandar pada kekuatan Allah itu, kita harus berjuang menyingkirkan semua penderitaan di dunia ini. Dalam diri Yesus, Allah yang menjadi manusia, Allah mulai mengubah sejarah umat manusia menjadi lebih sejahtera. Yesus berkeliling di Palestina sambil menyembuhkan orang sakit, melegakan orang cemas dan gelisah, membebaskan orang yang tertekan jiwa raganya, bahkan membangkitkan orang mati, dan sebagainya.

Akan tetapi, kapan suasana kasih, adil, dan damai itu tercipta? Ada kesan Allah tidak atau belum memerintah di bumi ini. Ada pembunuhan, pemerkosaan, penindasan, korupsi, perkelahian, dan sebagainya. Ada perang antar negara, pesawat yang dibajak, orang- orang yang lapar, kecelakaan lalu lintas, banjir dan tanah longsor yang menelan ratusan jiwa, dan sebagainya. Melihat semua itu, kita bisa berkesimpulan: tidak ada kerajaan Allah di bumi ini. Sekurang-kurangnya belum ada.

Memang kerajaan Allah belum terlaksana dengan sepenuh-penuhnya, tetapi sudah mulai nyata. Sebab melalui Yesus, pemerintahan Allah sudah mulai menerobos masuk ke dalam dunia yang rusak ini. Sejak kedatangan Yesus, lebih-lebih sejak kebangkitan-Nya dari alam maut dan sejak turunnya Roh Kudus atas orang-orang yang percaya kepada-Nya, Allah mulai meraja di bumi ini.

Ia mulai meraja dengan sepenuh-penuhnya baru dalam diri Yesus, sebab hanya Dialah yang seluruhnya dirajai Allah. Tetapi mulai dari Yesus, pemerintahan Allah semakin meluas, sebab setiap langkah yang diambil oleh Yesus (kini melalui Gereja-Nya) menawarkan keselamatan kepada mereka yang dijumpai-Nya. Dengan demikian terbukalah jalan bagi pemerintahan Allah di dunia ini, sehingga kita dapat pula melihat daftar peristiwa-peristiwa cerah yang membawa banyak harapan.

Inti Pewartaan Yesus: Kerajaan Allah

Tema pokok pewartaan Yesus adalah Kerajaan Allah: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk 1:15). Kerajaan Allah, yaitu Allah yang datang sebagai Raja, sudah dekat.

Orang Yahudi pada zaman Yesus menghindari penyebutan langsung Nama Allah. Maka, sebagai ganti “Allah meraja”, dikatakan “Kerajaan Allah” (seperti juga “sabda Allah” sebagai ganti “Allah bersabda”; atau “kehadiran Allah” ganti “Allah hadir”). Bahkan sebagai ganti “Kerajaan Allah” dikatakan “Kerajaan Surga”. Kata “Kerajaan Allah” atau “Kerajaan Surga” tidak berarti daerah kekuasaan Allah atau surga. “Kerajaan Allah” berarti Allah sendiri yang tampil sebagai Raja. Dari Mzm 145:11-13 dapat disimpulkan bahwa penampilan Allah itu berarti penampilan dalam kemuliaan dan keperkasaan, namun bukan pertama-tama untuk menghukum atau membalas, melainkan untuk menyelamatkan dan memberi perlindungan. Para nabi (mis. Yes 24:21-23; 33:22; 52:7-10; Ob 21; Mi 2:12-13; Zef 3:14-20) melihat kedatangan Allah dalam kemuliaan rajawi sebagai hari penebusan dan penyelamatan Israel. Khususnya pada zaman Yesus pengharapan akan penyelamatan Allah ini amat kuat. Mereka semua mengharapkan kedatangan Kerajaan Allah dan pewartaan Yesus menjawab pengharapan itu.

Ciri khas pewartaan Yesus ialah bahwa kedatangan Allah sebagai Raja Penyelamat dinyatakan akan terjadi dengan segera. Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Mrk 1:15; 13:29; Mat 10:7), sudah di ambang pintu (Luk 17:20-21.37), tidak akan ditunda-tunda lagi (Luk 10:9 dsj.; 11:20 dsj.). Walaupun pewartaan Kerajaan Allah sudah ada sebelum Yesus, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam agama Yahudi, bagi Yesus pewartaan Kerajaan mempunyai arti yang khusus. Pertama karena Kerajaan Allah paling pokok dalam sabda dan karya Yesus. Tetapi juga karena Kerajaan mempunyai ciri-ciri khas dalam pewartaan Yesus.

Bagi Yesus kedatangan Kerajaan mendesak, karena kemalangan manusia hampir tidak tertahan lagi. Maka belas-kasihan dan kerahiman Allah juga tidak akan tertunda lagi. Bagi Yohanes kemalangan zaman itu berarti hukuman dari Allah (lih. Mat 3:7-8 dsj.), bagi Yesus justru ajakan bertobat (Luk 13:3.5). Kemalangan menjadi tanda kedatangan Allah yang maharahim.

Pewartaan Kerajaan adalah pewartaan kerahiman Allah dan karena itu merupakan warta pengharapan. Kerajaan Allah berarti turun tangan Allah untuk menyelamatkan, untuk membebaskan dunia secara total dari kuasa kejahatan (lih. Luk 10:18). Maka sabda Yesus tertuju kepada orang yang menderita (lih. “Sabda bahagia”: Luk 6:20-23 dsj.). Pewartaan Yesus bukan janji-janji lagi. Dalam diri Yesus, Allah telah datang (Luk 11:20 dsj.). “Bagaimana terjadinya, tidak diketahui” (Mrk 4:27).

“Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah; juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!” (Luk 17:20). Waktu kedatangannya tidak dapat diperhitungkan. Bahkan “tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, Anak pun tidak, hanya Bapa saja” (Mrk 13:32). Maka kata “dekat” tidak pertama-tama harus diartikan secara temporal (“dalam waktu dekat”), tetapi secara personal: Allah sendiri dekat. “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya” (Mzm 145:18). Yesus mengetahui, karena kesatuan-Nya dengan Allah, bahwa Tuhan tidak akan “mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka. Ia akan segera membenarkan mereka” (Luk 18:7-8).

Khususnya mukjizat Yesus merupakan tanda kehadiran Kerajaan. Seluruh penampilan Yesus, baik pewartaan maupun mukjizat-mukjizat-Nya, merupakan tanda bahwa Kerajaan Allah memang dekat.

Pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah ditujukan kepada pertobatan manusia. Ia memanggil orang supaya siap siaga menerima Kerajaan bila datang. Dalam hubungan ini mengesanlah betapa ditekankan oleh Yesus sifat “rahmat” Kerajaan: “Bapa memberikan Kerajaan” (Luk 12:32; juga 22:29). Oleh karena itu orang harus menerima Kerajaan “seperti kanak-kanak” (Mrk 10:14 dsj.; lih. juga Luk 6:20 dsj.). Tawaran rahmat itu sekaligus merupakan tuntutan mutlak: “Kamu tidak dapat sekaligus mengabdi kepada Allah dan kepada mamon (uang)” (Mat 6:24).

Kerajaan Allah adalah panggilan dan tawaran rahmat Allah, dan manusia harus menerimanya dengan sikap iman yang dinyatakan dalam perbuatan yang baik, sebab Kerajaan Allah, kendatipun berarti Allah dalam kerahiman-Nya, juga merupakan kenyataan bagi manusia. Kerajaan Allah harus diwujudnyatakan dalam kehidupan manusia. Pengharapan akan Kerajaan tidak tertuju kepada suatu peristiwa yang akan terjadi dalam masa yang akan datang, melainkan diarahkan kepada Allah sendiri dan menjadi kenyataan dalam penyerahan itu sendiri, kalau manusia boleh bertemu dengan Allah.

Kerap kali Yesus merumuskan ajaran-Nya mengenai Kerajaan dalam bentuk perumpamaan. Dengan demikian ditekankan bahwa Kerajaan Allah dan kedatangannya berupa misteri bagi manusia. Dalam perumpamaan tentang penabur (Mrk 4:3-9 dsj.), mengenai benih di ladang (Mrk 4:26-29), mengenai biji sesawi (Mrk 4:30-34 dsj.) dan juga mengenai ragi (Luk 13:20-21 dsj.) ditonjolkan perbedaan antara permulaan yang kecil dan hasil yang gemilang. Dengan demikian dinyatakan bahwa dari satu pihak Kerajaan memang suatu misteri yang tak kelihatan, tetapi dari pihak lain merupakan kenyataan hidup yang baru akan menjadi jelas pada akhir zaman. Singkatnya, seluruh pewartaan Yesus mengenai Kerajaan mengungkapkan iman dan pengharapan-Nya sendiri akan kebaikan dan cintakasih Allah.