Makna dan Penghayatan Hidup

Pertanyaan mengenai makna hidup bukanlah hal yang baru. Pertanyaan itu selalu ada. Namun demikian, tampaknya pertanyaan itu menjadi jauh lebih sulit bagi manusia dewasa ini, sebab kini manusia hidup di tengah-tengah lingkungan dunia yang terlampau luas. Lain dari dulu, kini ia harus hidup dalam lingkungan yang tak terjangkau lagi olehnya. Terlebih lagi, dewasa ini banyak sekali tawaran yang ternyata menyodorkan jawaban berbeda-beda. Bidang-bidang kehidupan seperti kerja, keluarga, rekreasi, politik, ilmu, agama, dan sebagainya sering terasa tidak berhubungan lagi satu dengan lainnya.

Manusia seakan harus bernasib seperti binatang “yang dikendalikan dengan kekang” (Mzm 32:9), bukan karena manusia harus mati, melainkan karena ia tidak lagi dapat memilih arah hidupnya sendiri. Dalam sistem sosial-ekonomi, manusia hanyalah salah satu unsur yang harus menyesuaikan diri dengan putaran seluruhnya. Adat-istiadat serta tradisi tak lagi menjadi pegangan yang dapat memberi arti kepada hidup manusia. Banyak orang cenderung ke arah nostalgia atau pesimisme yang kelam.

Makna hidup tidak dapat ditemukan di dalam masa lampau, tidak juga di dalam rumusan-rumusan yang diberikan oleh orang lain. Hidup mendapat maknanya dalam penghayatan hidup sendiri. Hidup mempunyai arti bagi orang yang menghayati hidupnya sendiri. Karena itu, pertanyaan tentang makna hidup sebenarnya baru muncul bila manusia mulai sangsi atas kemampuan dirinya untuk menghayati hidupnya sendiri. Makna hidup juga tidak tergantung pada keuntungan atau keberhasilan. Bahkan dalam penderitaan pun hidup mempunyai makna. Manusia harus percaya dan menerima hidupnya. Baru dengan demikian, manusia dapat mengartikan dan memberi makna kepada hidup. Pertanyaan yang sama akan muncul, bila manusia hanya mencari sukses atau mengidentikkan dirinya dengan proyek hidup dan cita-cita tertentu. Bagi orang seperti itu, kegagalan untuk meraih cita-cita yang diinginkannya berarti kehilangan makna hidup. Padahal di pihak lain, cinta dan kesetiaan seorang ibu bagi anaknya tetap mempunyai makna, juga bila anak itu tidak mencapai umur dewasa atau tidak berkembang sebagai-mana diharapkan.

Hidup yang Kreatif

Setiap orang mencita-citakan supaya, dalam hidup bersama dengan orang lain, dunia ini dapat diolah menjadi tempat yang layak bagi semua orang. Manusia ingin agar dunia ini menjadi tempat manusia diakui sebagai pribadi yang merdeka, yang diberi kesempatan untuk hidup dan berkembang (bersama keluarganya) secara bertanggung jawab. Cita-cita ini begitu luas dan padat, sehingga pelaksanaannya hanya mungkin terjadi bila orang memperhatikan aneka segi kehidupan; di pelbagai medan, manusia menghayati hidupnya. Dengan berpedoman pada ajaran St. Paulus (1Tes 5:23), kiranya dapat dibedakan tiga medan utama: tubuh, jiwa dan roh, yang berkaitan satu sama lain dan merupakan satu kesatuan.

1. Tubuh

Dengan “tubuh” dimaksudkan seluruh bidang kehidupan manusia yang fisik-material, segala sesuatu yang menyangkut segi jasmani atau badani hidup manusia. Misalnya, makan dan minum, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pada umumnya; juga seluruh bidang ekonomi, pekerjaan, jaminan hidup, dan lingkungan sosial. Jadi, ada seribu satu hal yang merupakan dasar material bagi kehidupan manusia.

Namun juga bila semua itu terpenuhi, bila pendapatan nasional meningkat, inflasi rendah, serta tingkat pertumbuhan tinggi, hidup manusia pun masih belum terjamin juga. Keseimbangan ekonomi, baik dalam rumah tangga maupun dalam sektor usaha, tidak dapat menjamin perikemanusiaan. Sebaliknya, persaingan merebut barang materi, sampai perang dan penghancuran, senantiasa mengancam hidup bersama dan perkembangan masing-masing pribadi. Jaminan kesehatan, pembangunan, dan pemerataan kekayaan mutlak perlu, tetapi belum dapat membuat hidup menjadi sungguh manusiawi, sebab manusia tidak hanya mempunyai tubuh, tetapi juga jiwa.

2. Jiwa

Jiwa meliputi segala sesuatu yang khas manusiawi. Manusia memiliki hati dan budi. Semua yang bersangkutan dengan hati atau budi termasuk bidang “jiwa”. Karena itu, bidang jiwa tersebut mencakup segala sesuatu yang menjamin atau mengusahakan kebebasan manusia, pendidikan, kebudayaan, hidup bersama baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat umum, struktur-struktur sosial-politik, tata-hukum, tata-susila serta budi-pekerti; juga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa semua itu manusia tidak dapat hidup sebagai manusia.

Dalam semua hal yang disebut di atas manusia mewujudkan dirinya dalam kebersamaan dengan sesamanya. Ia dituntut bertanggung jawab dan tanggung jawab itu meliputi: pemikiran dan perencanaan, perhatian dan pengawasan, inisiatif pribadi dan usaha bersama, keterbukaan bagi perjumpaan dengan yang lain, keberanian mengambil risiko, kerelaan menghargai hak-hak sesama manusia dan semangat berkurban untuk kesejahteraan bersama. Jelas, hal-hal ini penuh dengan tantangan dan tuntutan bagi hati-nurani manusia, perjuangan dan ketegangan, tetapi juga kepuasan dan kedamaian hati. Manusia terus-menerus berkonfrontasi dengan misteri hatinya sendiri, dan dituntut supaya berani menggali tahap-tahap. kehidupan yang paling dalam.

Tetapi justru ketika berhadapan dengan misteri hatinya, manusia menyadari bahwa seluruh hidupnya melampaui yang manusiawi dengan tak terhingga. Berhadapan dengan misteri hatinya, manusia mulai menyentuh dimensi kehidupan yang lebih dalam lagi, dan yang tidak lagi terjangkau oleh usaha dan kegiatan manusia sendiri. Manusia mulai menyadari dimensi kehidupan yang lebih unggul atau transenden, yang mengatasi tata kehidupan yang dapat dialami langsung. Manusia mulai menyentuh bidang roh.

3. Roh

“Roh” mencakup bidang iman dan kepercayaan. Roh merupakan tempat pertemuan manusia dengan Allah. Maka roh sebetulnya bukan lagi kemampuan manusia. Allah sendirilah yang memberikan roh kepada manusia, yang memampukan dia menyambut Allah. Manusia tidak dipaksa. Allah memanggil. Tetapi tanpa kekuatan dari Allah, manusia tidak mampu menjawab panggilan Allah. Sebelum menyadari panggilan ini, manusia sudah merasa diri ditarik dan diarahkan kepada hidup yang mengatasinya. Sebelum bertemu muka dengan Tuhan, manusia sudah menyadari bahwa dia bukan penguasa dan pencipta hidupnya. Dan ia berani percaya akan arti hidupnya, yang dianugerahkan kepadanya, Optimisme dan pengharapan amat menentukan bidang kehidupan roh. Sebab dengan keberanian iman manusia mengatasi keterbatasan hidupnya sendiri dan menyentuh keabadian. Dalam roh, manusia mengalami dan menghayati keterbukaan hidupnya. Keterbukaan ke arah yang transenden merupakan puncak dan daya gerak seluruh hidupnya.

Hidup manusia meliputi semua unsur itu, tidak hanya yang ditentukan oleh iman atau alam saja, suara hati atau tata sosial saja. Jadi, unsur-unsur itulah, seturut tempat dan sumbangannya sendiri-sendiri, yang membentuk hidup manusia secara menyeluruh.

Manusia memang tidak hanya hidup dari agama. Yesus sendiri berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang ada di surga” (Mat 7 :21). Dalam sabda itu tampak bahwa agama atau kebaktian tidak cukup bagi hidup manusia. Yang paling pokok justru kehendak Bapa, yang menghendaki hidup; dan kehendak Allah itu harus dilakukan dalam seluruh kehidupan, juga dalam hal-hal yang material. Jadi, yang paling pokok bukanlah ekonomi atau kesenian, bukan pula politik atau hukum, bahkan bukan agama. Yang paling pokok adalah hidup itu sendiri dengan segala seginya! Di antara segi-segi kehidupan yang bermacam ragam itu harus ada harmoni dan keseimbangan, harus ada integrasi antara badan, jiwa, dan roh.

Masing-masing segi dan medan kehidupan mempunyai peranan dan sumbangannya sendiri. Iman dan kesadaran moral tidak muncul dari kebudayaan dan ilmu (sebagaimana dikatakan oleh kaum liberal). Tata sosial serta hukum tidak merupakan hasil langsung dari ekonomi dan dunia material (seperti pernah diajarkan oleh kaum marxis). Tata ekonomi dan teknik juga tidak begitu saja dapat disimpulkan dari iman dan agama (sebagaimana dapat didengar di antara kaum fundamentalis). Masing-masing unsur mempunyai otonominya sendiri (GS 3.6). Manusia harus memperhatikan dan mengembangkan tiap-tiap segi kehidupan menurut kekhasan dan otonominya sendiri. Jadi, tidak ada ilmu-pasti-alam Katolik atau teknik Katolik. Bahkan tidak ada ekonomi dan sosiologi Katolik, Yang ada yakni ajaran sosial Katolik; yang membimbing manusia dalam sikapnya menghadapi masalah dan pandangan sosial yang ada di dalam dunia. Begitu juga ada etika kedokteran, etika perusahaan, etika profesi, dan etika politik. Etika itu perlu, sebab dalam segala bidang kehidupan, yang dikembangkan menurut tuntutannya sendiri, manusia senantiasa dituntut oleh suara hati dan oleh panggilan dari Yang Mahatinggi.

Pandangan Hidup dan Kebudayaan

Di dalam dunia yang semakin berkembang ini manusia dihadapkan pada “pertanyaan-pertanyaan tentang perkembangan dunia modern ini, tentang tempat dan peranan manusia di alam semesta, tentang arti usaha-usahanya baik secara perorangan mau-pun bersama-sama, dan akhirnya tentang tujuan terakhir dunia dan manusia ini” (GS 3). Kita berada di mana dan akan dibawa ke mana? Apakah masih ada tempat untuk saya? Adakah manusia ditakdirkan untuk ikut-ikutan saja, bahkan tanpa mengetahui tujuannya? Masih adakah rasa persaudaraan di antara manusia? Dunia adalah “panggung sejarah manusia, yang ditandai oleh kegiatan-kegiatannya, oleh kegagalan dan keberhasilannya, yang di-imani sebagai ciptaan Allah, yang jatuh dalam perbudakan setan, namun dibebaskan oleh Kristus” (GS 2). Dunia seperti itu mau dibangun ke arah mana?

Arti hidup berkaitan dengan arti dunia, dan manusia bersatu dengan alam semesta. Manusia bukan hanya penghuni dunia dan alam semesta. Manusia mengolahnya, hidup darinya, dan bertanggung jawab atasnya. Oleh Tuhan ia diberi kepercayaan untuk ikut “menciptakan” dunia, maka dunia harus senantiasa baru dan se-makin sesuai dengan tujuan hidup manusia. Dalam dunia macam ini Tuhan mempercayai manusia menentukan nasibnya sendiri.

Ternyata tidak dalam segala hal manusia bebas menangani nasib hidupnya sendiri. Maklumlah, aneka macam ikatan dan hubungan sudah menentukan corak hidupnya. Ia mempunyai hubungan dengan Tuhan, yang pasti memainkan peranan penting dalam hidupnya. Ia juga mempunyai hubungan dengan sesama manusia, secara individual atau bersama-sama dalam masyarakat. Ia juga terikat pada dunia material di sekitarnya. Akhirnya, ia pun mempunyai relasi dengan dirinya sendiri. Dalam hidup yang konkret manusia sering harus mengambil sikap terhadap seluruh latar belakang hidupnya : misalnya pendidikan dan pergaulan – yang telah membentuk kepribadiannya secara khusus. Jaringan relasi itulah yang dimaksudkan dengan kata kebudayaan.

Kebudayaan untuk sebagian besar ditentukan oleh sejarah, tetapi juga oleh alam dan lingkungan. Empat unsur berikut ini bisa dipandang sebagai empat pola atau poros kebudayaan.

  1. Yang paling penting tentulah Tuhan atau – dengan istilah yang lebih “umum” – dunia transenden atau dunia “atas”. Melalui agama dan terutama melalui hati manusia, “dunia atas” itu memainkan peranan yang amat penting di “dunia bawah”.
  2. Kebudayaan manusia terbentuk terutama karena kegiatan manusia, entah dalam zaman yang lampau entah sekarang ini, dan kegiatan itu menghubungkan manusia satu dengan manusia lain. Setiap orang karena pendidikan, ekonomi, politik, rekreasi, dan banyak hal lain lagi, terjalin dalam jaringan sosial lingkungan hidupnya.
  3. Dengan sendirinya terang bahwa dalam proses membudaya itu dunia material atau kebendaan amat penting juga. Manusia sendiri bersifat material karena tubuhnya. Karena alasan itu ia mempunyai aneka kebutuhan material. Tanpa materi ia tidak dapat hidup dan bergerak sebagai manusia.
  4. Akhirnya, ia masih terus-menerus berkonfrontasi dengan dirinya sendiri, sebab ia dilahirkan dan berkembang dalam ikatan kebudayaan itu. Ia sendiri menjadi bagian darinya. Ia terikat pada tanah, ia terikat pada adat, ia terikat pada alam pikiran dan agama orang sebangsanya, bahkan sering pada tradisi daerah tertentu.

Semua itu tentu bukan ikatan belenggu yang menghalang-halangi perkembangan pribadi. Namun demikian, tidak dapat disangkal pula bahwa ikatan itu ada dan sangat berpengaruh pada alam pikiran dan cara bertindak seseorang. Karena itu, situasi kebudayaan dengan segala segi dan unsurnya amat erat hubungannya dengan visi atau pandangan hidup. Pandangan hidup orang Indonesia tidak bisa dipikirkan, apalagi digambarkan, bila dilepaskan dari seluruh tradisi kebudayaan Indonesia. Karena iman dan agama juga tidak lepas dari kebudayaan dan pandangan hidup, orang beriman pun perlu menyadari sepenuhnya pengaruh kebudayaan itu.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam kebudayaan Indonesia erat sekali hubungan antara agama, masyarakat, dan alam. Bahkan kadang-kadang unsur-unsur itu kurang dibeda-bedakan dan dicampur-adukan begitu saja. Kebudayaan Indonesia memang sangat menekankan keseimbangan dan keselarasan antara semua faktor kehidupan, tetapi dalam mewujudkan pandangan menyeluruh itu masing-masing daerah mempunyai cara dan corak yang berbeda-beda. Misalnya, keseimbangan dalam arti kerukunan amat dipentingkan dalam kebudayaan Jawa, sedangkan di Sumatra Utara ikatan keluarga (marga) termasuk unsur pokok kebudayaan.

Kebudayaan daerah merupakan dasar dan sumber kebudayaan nasional. Karena perkembangan masyarakat, pergaulan antar suku dan pertemuan antar daerah menjadi semakin biasa. Kebudayaan berkembang terus dengan menerima dan mengolah aneka unsur kebudayaan dari kelompok atau suku yang lain. Bahkan juga kebudayaan dari luar negeri mempunyai pengaruh sangat besar. Khususnya pengaruh dari negara-negara Asia Timur dan dari daerah Arabia amat terasa. Begitu juga pengaruh dari Barat, baik dahulu maupun sekarang. Pengaruh itu terdapat dalam segala bidang kebudayaan, termasuk juga bidang agama.

Tidak dapat tidak, timbul pertanyaan mengenai inkulturasi agama-agama di Indonesia. Semua agama besar, tanpa kecuali, masuk ke dalam kebudayaan Indonesia melalui kebudayaan asing. Dengan demikian semua agama berhadapan dengan pertanyaan bagaimana mereka dapat tetap setia kepada asas-asas agama itu sendiri, tetapi sekaligus juga tidak menjauhkan orang Indonesia dari akar-akar kebudayaannya.

Dengan sendirinya, penganut-penganut agama mencoba mengungkapkan pokok-pokok agama dalam bahasa dan bentuk kebudayaan daerah mereka sendiri; masa dari zaman ke zaman agama yang satu dan sama itu mendapat bentuk dan ungkapan yang sedikit atau banyak berbeda, sesuai dengan keprihatinan zaman dan kebudayaan daerah. Inkulturasi semacam itu tidak jarang diusahakan dengan sadar dan sengaja. Semakin orang menjadi sadar akan kebudayaannya sendiri dan semakin jujur orang menghayati agamanya, semakin giat orang mencari bentuk-bentuk yang berakar di dalam kebudayaan daerah untuk menghayati agama dengan tepat. Dari tradisinya, agama membawa kepercayaan yang diyakini sebagai kebenaran di hadapan Tuhan; dalam kebudayaan, agama menjadi hidup dan manusiawi.

Lebih khusus lagi, perlu dipikirkan pengaruh pola sosio-budaya atas perwujudan nilai-nilai dasar dalam kehidupan bersama. Dalam hal ini terjadi ketegangan baik antara nilai-nilai kebudayaan daerah atau suku dan cita-cita pembangunan nasional, maupun antara nilai-nilai tradisional dan tuntutan baru. Dalam ketegangan itu perlu dipertanyakan, sejauh manakah kebudayaan tradisional dapat bertahan, serta bagaimanakah nilai-nilai dasar kehidupan manusia dapat diwujudkan? Pada taraf internasional, dengan gejala globalisasi, terjadilah perubahan nilai-nilai dasar yang amat mendalam, khususnya perihal perumusan dan pelaksanaannya. Perubahan itu menantang budaya-budaya setempat dan kebudayaan nasional untuk mencari bentuk-bentuk kehidupan yang baru. Di sini harus diakui, bahwa tidak setiap bentuk kehidupan tradisional cocok dengan tuntutan zaman, khususnya dalam hal perwujudan nilai-nilai dasar.

Konflik-konflik yang timbul dari tantangan baru ini tidak mudah diselesaikan. Dari pihak lain perlu disadari pula bahwa Injil dan iman Kristen juga tidak pernah datang dalam bentuk murni. Nilai-nilai rohani itu selalu sudah terwujudkan dalam bentuk kehidupan konkret, baik dalam hal agama, maupun dalam hal perwujudan iman, yaitu tingkah-laku yang bermoral Kristiani. Bentuk kehidupan itu pun harus berkembang dan mencari rupa baru, yang tidak jauh dari kebudayaan setempat, tetapi tetap dijiwai oleh semangat iman. Sumbangan agama dalam hal ini bukanlah program-program konkret tertentu, melainkan inspirasi untuk terus-menerus ikut mengusahakan pembaruan dan perkembangan budaya.

Dalam usaha itu manusia tidak pernah boleh menutup diri dalam hidupnya sendiri. Ia tidak boleh secara statis berpegang pada adat-kebiasaan, tetapi ia juga tidak dapat menceburkan diri ke dalam arus pembaruan dengan mengikuti arus saja. Ia tidak dapat menolak kewajibannya terhadap masyarakat. Dan ia juga sama sekali tidak dapat menutup diri terhadap panggilan Allah. Jadi, usaha pembangunan masyarakat dan pembaruan kebudayaan harus mengindahkan empat orientasi pola kehidupan sebagai berikut: Tuhan, masyarakat, dunia material, dan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, setiap manusia berhadapan dengan empat tugas pokok:

(1) membuka diri terhadap Yang Transenden,
(2) membangun solidaritas dengan sesama,
(3) mengolah dan memelihara dunia benda, alam semesta,
(4) dan dengan demikian membangun diri sendiri.

Tugas-tugas ini menyatu. Manusia hanya dapat membangun diri, kalau dalam kesatuan dengan sesama ia membangun lingkungan hidup bagi semua orang dalam keterbukaan terhadap Yang Transenden. Dengan mengembangkan masyarakat dan memelihara kekayaan alam serta keterbukaan terhadap Yang-Mengatasi-Hidup, ia memberi makna kepada hidupnya sendiri.

Usaha membebaskan manusia dari segala keterasingan, baik antara manusia dan sesama maupun terhadap dunia sekitarnya, merupakan tugas utama manusia dalam “membangun kembali dan memperkokoh persaudaraan segala manusia selaras dengan tujuan luhur manusia” (GS 2). Untuk itu manusia memang pertama-tama harus masuk ke dalam dirinya sendiri agar bisa menyadari kembali tujuan yang luhur itu.

Manusia juga harus berani keluar dari dirinya sendiri dan menerima manusia lain sebagai saudaranya. Ia tidak hanya harus percaya kepada dirinya sendiri dan kemampuannya, tetapi juga berani percaya kepada kemampuan orang lain dalam membangun dunia bersama. Hanya dengan menerima sesama sebagai saudara, manusia dapat membebaskan diri dari belenggu ketertutupannya. Penerimaan ini berarti kepercayaan kepada kebaikan dan kejujuran orang lain. Akan tetapi, bagaimana kebaikan itu bisa diandaikan untuk seluruh masyarakat, bahkan untuk seluruh umat manusia? Agar manusia dapat hidup sebagai saudara dalam masyarakat yang lebih luas daripada relasi-relasi antarpribadi, manusia memerlukan sejumlah kesepakatan. Kalau tidak tercapai kesepakatan, perlu ada suatu struktur hukum yang memberikan jaminan dan ruang gerak untuk semua yang ingin membangun hidup. Struktur hukum itu harus didasarkan pada pengakuan terhadap hak-hak manusia. Struktur itu juga harus menyediakan ruang bagi keanekaragaman pandangan hidup yang mencakup segala aspek dan kebutuhan.

Misteri dan Makna Hidup

Kalau dilihat dari luar, seolah-olah “nasib manusia sama dengan nasib binatang; sebagaimana yang satu mati, begitu juga yang lain” (Pkh 3:19). Akan tetapi, manusia bukan binatang. Ia mempunyai cita-cita, ia mempunyai rencana, ia tahu mau ke mana. Memang sering hidupnya berjalan lain daripada rencananya, dan nasibnya berbeda dengan cita-citanya. Manusia menyadari hal itu, justru karena ia tahu kemana sebetulnya arah yang ditujunya. Bagaimanapun juga, manusia mengalami hidupnya seakan hanya berjalan dari kemarin ke esok. Dari esok ke lusa. Ia berjalan terus, entah sampai ke mana. Hidup itu sungguh suatu misteri. Karena itu pulalah, manusia selalu bertanya tentang dan mencari makna hidupnya.