Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata? atau dengan kasih, ketaatan, dan menyerahkan hidupnya


Ada banyak orang mempertanyakan siapakah sebenarnya Yesus Barabbas yang disebut dalam Mat 27:17-26 , yang telah dipilih oleh orang-orang Yahudi untuk dibebaskan, dan Tuhan Yesus Kristus dihukum mati menggantikan dia.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth, menjelaskan tentang Yesus Barabbas ini, demikian:

“Di puncak pengadilan Yesus, Pilatus menghadirkan pilihan kepada orang banyak, antara Yesus dengan Barabbas. Satu dari antara mereka akan dibebaskan. Tetapi siapakah Barabbas? Biasanya perkataan dalam Injil Yohanes yang akan muncul di pikiran: “Barabas adalah seorang penyamun” (Yoh 18:40). Tetapi bahasa Yunani untuk “penyamun” telah mempunyai arti khusus dalam situasi politik yang terjadi pada zaman itu di Palestina. Kata itu menjadi persamaan kata dengan “pemberontak”. Barabbas mengambil bagian dalam pemberontakan (lih. Mrk 15:7) dan lebih lagi -dalam konteks itu- telah dituduh sebagai pembunuh (lih. Luk 23:19, 25). Ketika Matius menyebutkan bahwa Barabbas adalah “penjahat yang terkenal” (Mat 27:16), ini adalah bukti bahwa ia adalah pemberontak yang ternama, sesungguhnya kemungkinan adalah pemimpin sesungguhnya dari pemberontakan itu.

Dengan kata lain, Barabbas adalah seorang tokoh mesianis. Pilihan antara Yesus vs Barabbas bukan merupakan kebetulan: dua orang tokoh mesias, dua bentuk kepercayaan mesianis saling berhadapan di sini. Ini menjadi semakin jelas ketika kita memperhatikan bahwa nama Bar-Abbas berarti “anak dari bapa”. Ini adalah gelar mesianis yang tipikal, nama ideal bagi pemimpin utama bagi gerakan mesianis. Pemberontakan Yahudi besar yang terakhir di tahun 132 dipimpin oleh Bar-Kokhba, “anak bintang”. Bentuk namanya sama, dan muncul dengan maksud yang sama.

Origen, seorang Bapa Gereja, memberi kita detail lain yang menarik. Sampai abad ke-tiga, banyak manuskrip Injil mengacu kepada orang yang dipermasalahkan ini sebagai “Yesus Barabbas”- “Yesus, anak bapa”. Barabbas di sini adalah sebagai kebalikan dari Yesus, yang membuat klaim yang sama tetapi memahaminya dengan cara yang sangat berbeda sama sekali. Maka pilihannya adalah antara seorang Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata, yang menjanjikan kemerdekaan dan kerajaaan sendiri, dengan Yesus yang penuh misteri, yang mengajarkan bahwa jalan menuju kehidupan adalah dengan kehilangan nyawanya/ menyerahkan hidupnya. Apakah mengherankan jika orang banyak memilih Barabbas? ……

Jika kita harus memilih sekarang ini, apakah Yesus dari Nazareth, anak Maria, Anak Bapa, dapat memperoleh kesempatan? Apakah kita benar-benar mengenal Yesus? Apakah kita memahami-Nya? Apakah kita tidak, mungkin harus berusaha, sekarang ini dan selalu, untuk mengenal Dia lagi dan lagi? Sang penggoda tidak begitu kejam untuk menganjurkan kita secara langsung bahwa kita harus menyembah setan. Ia hanya menganjurkan bahwa kita memilih keputusan yang masuk akal, bahwa kita memilih untuk memberi prioritas kepada dunia yang terencana dan teratur secara menyeluruh, di mana Tuhan mendapat tempat-Nya sebagai perhatian privat tetapi tidak boleh mempengaruhi maksud-maksud dasar kita…..

Petrus, berbicara atas nama para murid, telah mengaku bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Kristus, Putera Allah yang hidup. Dengan ini, ia telah menyatakan dengan perkataan, iman yang membangun Gereja dan meresmikan komunitas baru akan iman yang berdasarkan Kristus. Pada saat yang penting ini, ketika pengetahuan yang berbeda dan definitif tentang Yesus memisahkan para pengikut-Nya dengan pendapat umum, dan mulai menentukan mereka sebagai keluarga-Nya yang baru, sang penggoda muncul – mengancam untuk membalikkan semuanya menjadi kebalikannya. Tuhan secara langsung menyatakan bahwa konsep Mesias harus dipahami dengan pengertian keseluruhan pesan para Nabi – itu bukan kekuatan dunia, tetapi Salib itu, dan komunitas yang berbeda secara radikal, yang terbentuk melalui Salib itu…. ” (Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (New York: Double Day, 2007), p. 40-42)

Penjelasan ini membuka mata hati kita, bahwa bukan suatu kebetulan bahwa penjahat yang dipilih untuk dibebaskan sebagai ganti Yesus Kristus, juga bernama Yesus, bahkan Yesus Barabbas. Pembebasan Barabbas menunjukkan bahwa lebih mudah orang memilih pengertian mesias menurut dunia, daripada pengertian Mesias, yang dikehendaki Allah. Semoga oleh tuntunan Roh Kudus, kita mampu memilih yang benar, ketika dihadapkan atas pilihan ini: kejayaan duniawi, ataukah salib menuju kejayaan surgawi? Yesus Barabbas ataukah Yesus Kristus dari Nazareth?

Semoga bersama Rasul Petrus, kita dapat berkata dengan iman kepada Yesus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”! (Mat 16:18)

Tulisan di atas diambil dari http://www.katolisitas.org.

Sumber: SIAPA ITU YESUS BARABBAS? (MAT 27:17)

Hormat dalam Hubungan Pria-Wanita


Hidup dihormati bilamana ada kasih dan kesetiaan antarsesama; hidup dihormati bilamana pribadi berkembang sampai mampu mengasihi; hidup dihormati bilamana anak disambut penuh pengharapan dan generasi mendatang dihargai. Oleh karena itu, pembicaraan tentang norma yang berkaitan dengan hidup juga harus mengenai seksualitas, pertumbuhan pribadi, dan kemampuan memberi dan menerima kasih. Seksualitas adalah suatu ciri dasar pribadi manusia dan secara mendalam ikut menentukan hubungan antarpribadi. Karena menyangkut pribadi manusia, seksualitas juga menyangkut iman. Tuntutan iman perihal seksualitas sesungguhnya amat sederhana. Seksualitas hendaknya dikembangkan sebagai kemampuan mencintai dalam hubungan kesetiaan satu sama lain! Oleh sebab itu moral seksualitas, yang dalam tradisi Gereja dikaitkan dengan perintah ke-6 “jangan berbuat cabul” dan perintah ke-9 “jangan menginginkan yang cabul”, bukan hanya larangan saja.

Sampai belum lama ini, di hampir semua lingkungan budaya, pertemuan pria-wanita dibatasi oleh tata-cara sosial. Hubungan seksual diatur oleh kaidah-kaidah moral yang ketat, sedangkan hal perjumpaan kasih dianggap amat pribadi dan tidak dibicarakan. Kini perubahan dalam pendidikan telah membuka bagi laki-laki dan perempuan medan luas untuk bertemu. Hubungan pria-wanita tidak lagi diawasi oleh keluarga dan lingkungan kerabat. Rasa cinta diiklankan di depan umum sebagai syarat mutlak kebahagiaan. Sementara kesempatan bertemu menjadi lebih terbuka, laki-laki dan perempuan bersaing satu sama lain merebut lapangan kerja, dan keinginan mempunyai partner dan pacar bertolak belakang dengan cita-cita untuk berkembang sendiri. Pertemuan antara pria dan wanita menjadi jauh lebih mudah, namun hubungan erat dan mantap antara mereka menjadi jauh lebih sulit. Bagaimana dapat tumbuh hubungan mantap dalam kasih yang setia?

Hubungan pribadi tidak akan menjadi lebih mantap dengan adanya banyak aturan, sebab hubungan pribadi merupakan masalah kepercayaan tak bersyarat, Supaya berani mengembangkan diri dengan mengasihi sesama, orang membutuhkan suatu keyakinan mendalam. Berkaitan dengan hubungan pria-wanita, perlu digali inspirasi injili yang hidup dan yang mendorong untuk hidup dalam kesetiaan dengan memberi dan menerima kasih.

Makna dan Penghayatan Hidup


Pertanyaan mengenai makna hidup bukanlah hal yang baru. Pertanyaan itu selalu ada. Namun demikian, tampaknya pertanyaan itu menjadi jauh lebih sulit bagi manusia dewasa ini, sebab kini manusia hidup di tengah-tengah lingkungan dunia yang terlampau luas. Lain dari dulu, kini ia harus hidup dalam lingkungan yang tak terjangkau lagi olehnya. Terlebih lagi, dewasa ini banyak sekali tawaran yang ternyata menyodorkan jawaban berbeda-beda. Bidang-bidang kehidupan seperti kerja, keluarga, rekreasi, politik, ilmu, agama, dan sebagainya sering terasa tidak berhubungan lagi satu dengan lainnya.

Manusia seakan harus bernasib seperti binatang “yang dikendalikan dengan kekang” (Mzm 32:9), bukan karena manusia harus mati, melainkan karena ia tidak lagi dapat memilih arah hidupnya sendiri. Dalam sistem sosial-ekonomi, manusia hanyalah salah satu unsur yang harus menyesuaikan diri dengan putaran seluruhnya. Adat-istiadat serta tradisi tak lagi menjadi pegangan yang dapat memberi arti kepada hidup manusia. Banyak orang cenderung ke arah nostalgia atau pesimisme yang kelam.

Makna hidup tidak dapat ditemukan di dalam masa lampau, tidak juga di dalam rumusan-rumusan yang diberikan oleh orang lain. Hidup mendapat maknanya dalam penghayatan hidup sendiri. Hidup mempunyai arti bagi orang yang menghayati hidupnya sendiri. Karena itu, pertanyaan tentang makna hidup sebenarnya baru muncul bila manusia mulai sangsi atas kemampuan dirinya untuk menghayati hidupnya sendiri. Makna hidup juga tidak tergantung pada keuntungan atau keberhasilan. Bahkan dalam penderitaan pun hidup mempunyai makna. Manusia harus percaya dan menerima hidupnya. Baru dengan demikian, manusia dapat mengartikan dan memberi makna kepada hidup. Pertanyaan yang sama akan muncul, bila manusia hanya mencari sukses atau mengidentikkan dirinya dengan proyek hidup dan cita-cita tertentu. Bagi orang seperti itu, kegagalan untuk meraih cita-cita yang diinginkannya berarti kehilangan makna hidup. Padahal di pihak lain, cinta dan kesetiaan seorang ibu bagi anaknya tetap mempunyai makna, juga bila anak itu tidak mencapai umur dewasa atau tidak berkembang sebagai-mana diharapkan.

Sikap terhadap Perkawinan yang Gagal


Bisa jadi, perjuangan untuk kesetiaan tidak “berhasil” dan usaha persatuan berakhir dengan perceraian. Bisa juga terjadi orang merasa kecewa lalu terpaksa mengalah dalam perkawinan. Bisa juga orang mengasihi tetapi kikir, memperhatikan tetapi penuh kecurigaan. Perpecahan yang dialami setiap manusia dan yang mengancam kebersamaan semua orang, kegagalan dan dosa, juga merupakan bagian hidup perkawinan. Tetapi kalau perkawinan hancur dalam perceraian, orang beriman tetap tidak berhadapan dengan kekosongan melainkan dengan Allah Penyelamat. Maka dalam Surat Apostolik Familiaris Consortio (22 November 1981), Paus Yohanes Paulus II “minta kepada para gembala dan seluruh persekutuan umat beriman, supaya membantu orang-orang yang telah bercerai dengan perhatian penuh kasih, jangan sampai mereka menganggap diri terpisah dari Gereja” (84). Memang pelayanan pastoral untuk orang yang telah bercerai dan yang mungkin sudah hidup dalam perkawinan kedua tidaklah mudah.

Menurut keyakinan umum, perkawinan merupakan lembaga yang sah karena terbentuk dengan sah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Demikian juga keyakinan Gereja: perkawinan adalah ‘‘kesepakatan antara orang-orang yang menurut hukum mampu dan yang dinyatakan secara legitim membuat perkawinan” (KHK kan. 1057 § 1). Menurut aturan hukum Gereja, persetujuan bebas dalam pernyataan bersama secara sah mewujudkan perkawinan sebagai lembaga di depan hukum.

Di masa sulit sekitar Konsili Trente dan di saat kekacauan, akibat kesepakatan perkawinan yang tidak jelas, Gereja Katolik mewajibkan semua orang Katolik agar menyatakan kesepakatan menurut cara yang ditetapkan oleh Gereja, sehingga “perkawinan hanyalah sah bila dilangsungkan di hadapan ordinaria wilayah atau pastor-paroki atau imam maupun diakon yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka itu, yang meneguhkannya, serta di hadapan dua orang saksi” (KHK kan. 1108 § 1). Sejak saat itu, pada pokoknya bagi orang Katolik berlaku: kesepakatan perkawinan itu sah hanya kalau dinyatakan dengan tata cara yang ditetapkan Gereja; perkawinan sah dan nyata hanya kalau kesepakatan dinyatakan dengan sah; hanya perkawinan yang sah menjadi perkawinan nyata dan sakramental. Karena merupakan perkawinan nyata dan sakramental, maka perkawinan itu tidak dapat diceraikan. Jadi sifat sakramental maupun lestari dan eksklusif perkawinan itu dikaitkan erat dengan tata hukum dan dengan aturan pelaksanaannya. Dan kesetiaan perkawinan, yakni keterikatan yang amat personal itu, terwujud dalam bentuk hukum yang teguh tegas.

Sudah beberapa abad lamanya, aturan ini sangat meneguhkan perkawinan Katolik, dan sampai sekarang ini persiapan pastoral perkawinan mencari jaminan, bahwa persetujuan diberikan dengan bebas serta penuh kesadaran, dan bahwa pelaksanaan perkawinan tidak dapat diragukan. Maka perkawinan yang diteguhkan secara gerejawi dengan sah, tidak dapat diceraikan. Orang Katolik yang terikat dalam perkawinan yang sah, tidak dapat nikah lagi, biarpun telah bercerai secara sipil atau sudah lama ditinggalkan oleh suaminya atau istrinya. Orang Katolik yang telah bercerai secara sipil dan nikah kembali di luar Gereja, tidak diizinkan menyambut komuni, “karena keadaan dan kondisi hidup mereka secara objektif bertentangan dengan persatuan kasih antara Kristus dan Gereja, yang dilambangkan dan dihadirkan oleh Ekaristi” kata Paus (FC 84). Umat Kristen terus menerus berusaha, jangan sampai perceraian dan pernikahan kembali menjadi sesuatu yang dianggap “normal”. Perkawinan diatur dengan ketat, agar tuntutan Yesus supaya terus menerus mewujudkan kesetiaan tidak dikhianati.

Perkawinan yang setia dan eksklusif itu tidaklah sama dengan aturan hukum. Kesetiaan kepada hukum tidak ada nilainya, bila tidak disertai kesetiaan hati. Tidak semua perceraian itu sama! Perceraian dapat berarti mengkhianati istri atau suami, meninggal-kannya dan pergi dengan orang lain. Perceraian dapat juga berarti perkawinan yang tadinya diikat dengan tergesa-gesa tanpa persiapan masak, berakhir dalam perpecahan, kendati sudah ada banyak usaha mencari kesatuan. Hukum perkawinan mengandaikan kemauan tulus untuk saling mengasihi, namun hukum juga tidak dapat membuktikannya. Hukum menyediakan ruang agar kesetiaan antar-suami-istri dapat berkembang, namun hukum juga tidak dapat menumbuhkannya. Kasih tumbuh dalam hati orang dan kesetiaan terwujud pertama-tama dalam hati nurani. Maka pastoral Gereja terhadap orang yang telah bercerai dan menikah kembali, pertama-tama harus menanggapi hati nurani mereka masing-masing (juga dalam hal “boleh menerima komuni” menurut ketetapan Kongregasi untuk Ajaran Iman tahun 1972). Sekaligus hendaknya diperhatikan, supaya jaringan hukum yang berlaku umum tidak dirusak oleh keadaan khusus. Surat dari Kongregasi untuk Ajaran Iman kepada para uskup Gereja Katolik tentang Penerimaan Komuni oleh kaum beriman yang cerai dan nikah lagi, tanggal 14 September 1994, sebetulnya menanggapi pelbagai pandangan mengenai pastoral bagi orang Katolik yang cerai dan nikah kembali. Pernyataan menjelaskan dan menegaskan: salahlah pandangan, bahwa “orang yang cerai dan nikah lagi boleh menyambut komuni”, kalau dalam pertimbangan suara hati yang jujur dan setelah konsultasi yang luas mereka sampai pada “keputusan sendiri, bahwa perkawinan pertama tidak sah dan perkawinan baru berlaku”. Surat dari Kongregasi untuk Ajaran Iman tersebut mengacu kembali pada Ajakan Apostolik Familiaris Consortio, mereka yang hidup dalam perkawinan yang tidak sah dan karena alasan serius tidak dapat pisah, hanya dapat menerima komuni kalau hidup tarak sempurna dan menghindari sandungan. Namun demikian, mengingat bahwa surat dari Kongregasi untuk Ajaran Iman mendapat tanggapan seluas dunia, kiranya harus ditarik kesimpulan bahwa tetaplah harus dicari pedoman pastoral yang tepat untuk pasangan yang hidup dalam perkawinan yang tidak sah.

Mencari Kerajaan Allah dan Keadilan-Nya


Tampaknya, “sesudah seratus tahun” (Centesimus Annus), ajaran sosial Gereja mengubah pengertian kita mengenai keadilan, dan Gereja sendiri mengalami semacam proses belajar. Dengan ajaran itu, dan lebih lagi dengan perjuangan sosial-politik orang Kristen. Gereja selama seratus tahun berpartisipasi dalam pergumulan sosial demi keadilan, baik pada taraf nasional maupun internasional. Dan proses belajar itu tampaknya masih berlangsung terus. Selama berlangsung pergumulan sosial, hati nurani setiap orang beriman selalu dihadapkan pada pertanyaan di bawah ini.

Bagaimana menata hidup masyarakat dalam keadilan, penuh hormat terhadap martabat setiap orang, khususnya mereka yang tersingkir dari kebersamaan hidup?
Bagaimana keadilan Allah yang setia kepada manusia terwujudkan di tengah-tengah hidup manusia?

Untuk menjawab pertanyaan itu, ajaran sosial Gereja jelas tidak dapat memberikan aturan yang selalu benar dan di mana-mana tepat. Ajaran sosial Gereja hanya dapat mengarahkan pikiran untuk mencari jalan keluar dari masalah sosial. Jelas, selama seratus tahun ajaran sosial, perhatian untuk peraturan keadilan semakin menjadi perhatian manusia seluruhnya. Ajaran sosial Gereja mengecam marxisme karena tidak manusiawi, khususnya karena tidak memahami dan menghargai kemerdekaan hati orang yang terus menerus harus mencari dan tidak dapat dibatasi dengan aturan ekonomis mana pun juga. Manusia tak dapat diperlakukan sebagai sumber daya ekonomi saja, sebab manusia mempunyai daya cipta dan kebebasan. Hanya manusia sendiri satu-satunya andalan bagi keadilan di dunia ini. Semua peraturan dan pedoman keadilan hanya menolong kalau manusia mau berusaha dan berjuang bersama.

Kitab Suci mewartakan bahwa Allah terlibat dalam hidup manusia. Karena itu, Kitab Suci tetap merupakan inspirasi, peneguhan, dan dorongan bagi orang Kristen guna mengembangkan keterlibatan sosial, walaupun dewasa ini pikiran kita mengenai aturan keadilan lain daripada pikiran orang Yahudi pada zaman para nabi atau pikiran orang Kristen pada zaman kekaisaran Roma. Firman ke-7, ke-8, dan ke-10 tetap mengandung pesan penting bagi zaman sekarang, karena firman-firman itu mengingatkan kita akan kewajiban sosial. Tetapi bagi zaman ini pesan itu mempunyai nada yang baru. Dewasa ini hormat akan kebebasan menuntut perjuangan hak-hak asasi, khususnya bagi mereka yang didesak oleh politik negara, dieksploitasi oleh kepentingan sekelompok, dan disingkirkan dari hidup dan keputusan bersama. Hidup manusia tidak sama dengan barang yang dapat dibeli dan tidak boleh direbut untuk kepentingan siapa pun.

Keadilan dalam masyarakat, tidak dapat tidak, harus mulai dengan kejujuran dan cinta akan kebenaran, terutama dalam relasi pribadi. Tidak ada kepastian, kalau kita tidak dapat mengandalkan satu sama lain. Orang hanya dapat diandalkan kalau kata-katanya dan janjinya dapat diandalkan. Makin mendesaklah bahwa kita membangun kepercayaan dalam hidup bersama. Dalam suasana penyuapan dan penipuan seperti yang terjadi dewasa ini, kepentingan pribadi dan kepentingan kerabat diutamakan di atas segala sesuatu. Makin banyak orang yakin bahwa segala sesuatu dapat diatur asalkan ada uang. Maka zaman ini amat membutuhkan kaum profesional yang jujur di bidang politik, pendidikan, pengadilan, juga di bidang bisnis. Mereka diharapkan dapat membela kepentingan bersama di atas keuntungan perorangan dan menjamin bahwa tak seorang pun menjadi objek pengisapan. Dibutuhkan karyawan, usahawan, atau pegawai yang profesional dengan daya tahan, yang tidak memakai milik perusahaan atau negara demi kepentingan pribadi. Dibutuhkan jaksa dan hakim profesional, yang dapat diandalkan sehingga orang tidak tergoda mencari penyelesaian dengan jalan pintas di luar pengadilan. Kebenaran dan kepercayaan satu sama lain merupakan dasar hidup bersama, dan tiga bidang keadilan yang disebut dalam firman ke-7, ke-8, dan ke-10, yakni menghargai kebebasan seseorang, nama baik, dan miliknya, tetap merupakan pokok-pokok keadilan. Hanya saja, sekarang pokok-pokok itu lebih berdimensi sosial, bahkan mondial. Pokok-pokok itu juga menerangkan, bahwa manusia dalam dimensinya yang paling dalam adalah bersifat sosial.

Untuk menyelesaikan soal tenaga kerja, diperlukan profesionalisme dan etika profesi. Dalam hal ini orang hendaknya bekerja tidak demi uang semata-mata dan demi kenikmatan hidup saja. Ia hendaknya menyadari, dengan pekerjaannya ia tidak hanya terlibat dalam proses produksi, tetapi juga dalam proses pembangunan masyarakat. Apa yang berlaku pada taraf mikro, juga benar untuk tata kehidupan makro dalam dunia internasional. Ekonomi internasional berarti partisipasi semua bangsa dalam pembangunan dunia menuju masa depan. Sebagaimana anak sekolah dan penderita di rumah sakit tidak boleh menjadi objek komersialisasi, lebih lagi para bangsa jangan sampai menjadi korban permainan dagang pada taraf internasional.

Barang konsumsi harus dibedakan dari kualitas hidup. Kualitas hidup harus dinilai secara integral, tidak hanya terbatas pada segi ekonomi dan politik. Keadilan ditentukan bukan berdasarkan barang, tetapi oleh kesejahteraan orang. Pusat kebudayaan adalah manusia yang dihargai sebagai subjek yang berdaulat, dan oleh karena itu diberi kemungkinan mengembangkan diri secara otonom. Perkembangan dan pembangunan merupakan pola keadilan yang baru. Maka tata milik bukan sesuatu yang “abadi”. Hak milik pun ditentukan oleh perubahan masyarakat. Tolok ukurnya ialah kesejahteraan umum. Akan tetapi, janganlah tolok ukur itu dimengerti secara statis. Dengan kata lain, tolok ukur itu harus disesuaikan terus-menerus dengan perubahan masyarakat.

Kepastian hukum juga harus tetap menjadi kerangka kehidupan yang memberi arah dan pengertian perihal cita-cita bersama. Namun, hukum tidak bersifat abadi. Bila perlu, hukum pun dapat dan harus diubah, tetapi jangan sampai perubahan itu terjadi atas dasar oportunisme atau rebutan kuasa, melainkan atas dasar kesadaran dan keterlibatan bersama untuk terus menerus membangun kepercayaan satu sama lain. Sebab justru kepercayaanlah yang sering dihancurkan oleh suap, pemerasan, nepotisme (mementingkan diri, keluarga dan golongan), korupsi, penipuan, dan lain sebagainya. Hanya dengan kesadaran bahwa masing-masing orang bertanggung jawab membangun relasi dengan sesama, akan terjamin pembangunan dalam arti integral. Untuk itu perlu bukan hanya kesaksian yang benar, melainkan – seperti yang dikatakan Tuhan Yesus – diperlukan keberanian untuk berkata “Ya adalah ya, dan tidak berarti tidak” (Mat 5:37). Kejujuran dan ketulusan merupakan ciri-ciri kehormatan setiap orang yang terlibat dalam proses pembangunan masyarakat. Kejujuran dan ketulusan itu perlu bukan hanya untuk hubungan antarpribadi, melainkan juga untuk hal¬-hal yang berkaitan dengan informasi umum. Suatu sistem informasi yang hanya berfungsi sebagai alat manipulasi termasuk dosa struktural. Hendaknya diingat, orang tidak dapat melibatkan diri dalam proses pembangunan dan tidak dapat menjadi warga negara yang demokratis, kalau tidak mempunyai gambaran yang benar mengenai keadaan yang sesungguhnya.

Lambat laun Gereja menyadari bahwa dalam masyarakat yang majemuk tidak mungkin ada satu sistem sosial yang cocok untuk seluruh dunia. Ajarannya berupa prinsip dan bertujuan mengajak setiap pribadi insaf dan bertanggung jawab dalam membangun kehidupan bersama. Adalah kewajiban jemaat-jemaat lokal mencari dan merumuskan sasaran kegiatan sosial yang konkret, dan hal itu hendaknya dikerjakan dalam hubungan erat dan kerja sama yang nyata dengan semua orang dan golongan di dalam masyarakat majemuk. Jadi tekanannya ada pada keterlibatan praktis, bukan pada ajaran umum yang bersifat teoretis. Sementara itu, keadilan menuntut bahwa tidak semua ditentukan (secara anonim) oleh orang di puncak. Sebaliknya, seperti dituntut oleh etika profesi, mereka yang diberi tugas memimpin hendaknya melibatkan sebanyak mungkin orang, agar pembangunan hidup bersama dilakukan oleh semua untuk semua. Martabat manusia yang berdaulat adalah tolok ukur baik bagi mereka yang ada di bawah, maupun bagi mereka yang diserahi tugas di atas. Hanya dengan suasana kerja sama dan partisipasi, terjaminlah pembangunan integral yang memungkinkan hidup merdeka bagi setiap orang yang mau terlibat.