Sakramen Krisma


Sakramen Krisma atau juga dikenal Sakramen Penguatan merupakan tanda kedewasaan iman seseorang. Penerimaan Sakramen Krisma melengkapi rahmat pembaptisan dan menyempurnakan inisiasi. Melalui Sakramen Krisma, seseorang diikat secara lebih kuat dan sempurna dengan Gereja serta diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus. Konsekuensi dari sakramen Krisma adalah tanggung jawab iman dan semakin wajib untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus.

Rahmat dalam Sakramen Krisma:

  1. Menjadikan kita sungguh Anak Allah.
  2. Menyatukan lebih teguh dengan Kristus.
  3. Menambahkan karunia Roh Kudus ke dalam diri kita.
  4. Mengikat kita lebih sempurna dengan Gereja.
  5. Menganugerahkan kepada kita kekuatan Roh Kudus.

Materi dan Forma Sakramen Krisma:
Materi: Minyak Krisma (minyak zaitun)
Forma: Semoga dimaterai oleh karunia Allah dan Roh Kudus

Sakramen Baptis


Sakramen Baptis adalah sakramen pertama yang diterima oleh seseorang yang hendak menjadi anggota Gereja Katolik. Sakramen Baptis adalah sakramen pertama dalam inisiasi Katolik. Inisiasi adalah penerimaan seseorang masuk ke dalam atau menjadi anggota kelompok tertentu. Pembaptisan membebaskan penerimanya dari dosa asal serta semua dosa pribadi dan dari hukum akibat dosa-dosa tersebut, dan membuat orang yang dibaptis itu mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Allah melalui “rahmat yang menguduskan” (rahmat pembenaran yang mempersatukan pribadi yang bersangkutan dengan Kristus dan Gereja-Nya). Pembaptisan juga membuat penerimanya mengambil bagian dalam imamat Kristus dan merupakan landasan komunio (persekutuan) antar semua orang Kristen.

 

Sakramen Inisiasi dalam Gereja Katolik:

  1. Sakramen Baptis
  2. Sakramen Ekaristi
  3. Sakramen Krisma

 

3 Tahap Inisiasi Katolik:

  1. Masa pra-katekumenat/simpatisan menjadi Katekumen;
    (Masa pemurnian motivasi calon, dituntut pertobatan dan iman)
  2. Masa katekumen menjadi calon baptis;
    (Masa perkembangan iman calon baptis, merupakan masa pengajaran dan pembinaan iman)
  3. 3. Masa calon baptis menjadi Baptisan Baru;
    (Masa persiapan baptisan dan penerimaan menjadi anggota Gereja Katolik)

 

Sesudah dibaptis, para baptisan baru menerima atau mengalami masa pembinaaan iman sebagai baptisan baru yang disebut mistagogi. Untuk dibaptis, seseorang harus percaya dan beriman kepada Kristus. Percaya kepada Kristus berarti hidup sesuai dengan ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sakramen baptis seseorang dilahirkan kembali dalam air dan roh. Lilin bernyala yang diterima oleh baptisan baru dalam upacara sakramen baptis merupakan lambang baptisan baru yang sudah diterangi oleh Kristus dan harus senantiasa berusaha hidup dalam terang Kristus.

 

Materi dan Forma Sakramen Baptis:
Materi: Air
Forma: Aku membaptis kamu, dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus

 

Buah atau Rahmat Sakramen Baptis:

  1. Mendapat pengampunan dari segala dosa, baik dosa asal maupun dosa yang dibuatnya.
  2. Menjadi ciptaan baru dan dilantik menjadi anak Allah.
  3. Memperoleh rahmat pengudusan yang membuatnya sanggup semakin percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan mencintai-Nya. Membuatnya hidup di bawah bimbingan dan dorongan Roh Kudus. Membuatnya sanggup bertumbuh dalam kebaikan.
  4. Digabungkan menjadi Anggota Gereja, sebagai bagian dari Tubuh Mistik Kristus.
  5. Dimateraikan secara kekal dalam sebuah materai rohani yang tak terhapuskan, sebagai bagian dari Kristus.

 

Macam-macam Baptisan:

  1. Baptisan Bayi: Baptisan yang diterima saat masih bayi.
  2. Baptisan Dewasa: Baptisan yang diterima saat sudah dewasa.
  3. Baptisan Rindu: Saat seseorang ingin dibaptis dan ingin menjadi anggota Gereja Katolik, menjalani masa katekumenat namun sebelum dibaptis, ia sudah meninggal. Maka ia sudah menerima Baptisan Rindu.
  4. Baptisan Darah: Saat seseorang ingin dibaptis dan ingin menjadi anggota Gereja Katolik, menjalani masa katekumenat namun sebelum dibaptis, ia sudah meninggal karena membela imannya.

Krisma


Menurut buku liturgi, “proses inisiasi Kristen dilanjutkan dalam sakramen krisma. Dalam sakramen krisma itu orang beriman menerima Roh Kudus yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul. Berkat anugerah Roh Kudus ini, orang beriman menjadi lebih serupa dengan Kristus dan dikuatkan untuk memberi kesaksian tentang Kristus, demi pembangunan tubuh-Nya dalam iman dan cinta kasih”. Di sini terletak kesulitan sakramen krisma: Roh Kudus itu sudah diterima dalam pembaptisan, yang merupakan kelahiran kembali dari air dan Roh (lih. Yoh 3:6; Kis 2:38).

Peristiwa Paska dan Pentekosta

Perlu diperhatikan bahwa dalam sakramen Krisma orang beriman “diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa” (LG 11). Keistimewaan itu ditunjuk dengan pengkhususan Roh Kudus, yang pada hari Pentekosta diutus Tuhan kepada para rasul. Pembaptisan dan Krisma dibedakan (dan berhubungan!) seperti Paska dan Pentekosta. Pada hari Paska, Allah “membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga” (Ef 1:20). Kemudian pada hari Pentekosta, Kristus “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus, maka mencurahkan-Nya” kepada para rasul (Kis 2:33) dengan tujuan agar “kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Paska berarti Yesus dengan ke-manusiaan-Nya masuk ke dalam kemuliaan ilahi. Pentekosta berarti Roh Kudus, “yang keluar dari Bapa” (Yoh 15:27), diutus ke dalam dunia.

“Perbedaan arah” ini juga kentara dalam kedua kisah mengenai kenaikan Yesus ke surga. Pada akhir Injilnya Lukas menceriterakan bagaimana Yesus “memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga” (Luk 24:50-51). Sebaliknya pada awal Kisah Para Rasul dikatakan: “Kamu akan menjadi saksi-Ku. Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis 1:9). Masih ditambahkan teguran dua malaikat: “Hai orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” (Kis 1:11). Mereka diutus ke dunia, maka harus melihat ke depan, tidak ke atas.

Begitu juga dengan Pembaptisan dan Krisma. Pembaptisan, yang disebut “pintu” (LG 11) untuk “masuk menjadi anggota umat Allah” (PO 5), mengarah ke dalam. Sebaliknya Krisma, yang mewajibkan orang “menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati” (LG 11), mengarah ke luar. Tentu saja “dengan baptis dan penguatan/krisma orang ditugaskan untuk kerasulan” (LG 33; lih. AG 36). Dengan demikian, kelihatan bahwa inisiasi merupakan proses: masuk kemudian diutus. Tentu saja, seseorang tidak masuk Gereja untuk “mapan” di situ, melainkan supaya diutus. Oleh karena itu kedua sakramen bersama membuat orang menjadi anggota Gereja dalam arti penuh. Tetapi karena arahnya yang berbeda, kedua sakramen ini pantas dibedakan,

Pembaptisan dan Krisma

Dalam buku Inisiasi Kristen dikatakan bahwa ketiga sakramen inisiasi (Pembaptisan, Krisma, dan Ekaristi) sebaiknya dirayakan bersama-sama dalam satu upacara, sedapat-dapatnya pada malam Paska. Namun upacara Krisma boleh juga dirayakan pada akhir masa mistagogi (pengantar ke dalam praktik kehidupan Kristiani), misalnya pada hari raya Pentekosta. Ketetapan ini bukan hanya perkara praktis atau soal pembagian waktu. Masalah satu atau dua upacara mencerminkan sejarah upacara Krisma, yang masih dapat dilihat pada upacara sekarang. Di atas sudah dikatakan bahwa baptisan baru, sesudah pembaptisan, diurapi. Itu sudah menjadi kebiasaan kuno, barangkali mulai abad ketiga. Tetapi ditetapkan bahwa pengurapan itu hanya dilakukan “jika tidak mungkin sakramen Krisma dirayakan dalam upacara ini”. Rupa-rupanya ada hubungan antara pengurapan sesudah pembaptisan dan sakramen Krisma. Sejarah ini tidak seluruhnya jelas.

Semula memang seluruh upacara inisiasi dilakukan oleh uskup (sebab pada waktu itu hampir setiap “paroki” dikepalai oleh seorang uskup). Dalam abad-abad berikut tetap ada pengurapan oleh uskup, yang disebut Krisma, tetapi juga ada pengurapan oleh imam (atau petugas lain) langsung sesudah pembaptisan. Krisma dipandang sebagai sakramen, sedangkan pengurapan oleh imam merupakan sakramentali. Ketika semua itu masih dilakukan oleh uskup, terang ada satu upacara, dan juga dipandang sebagai satu sakramen, yakni sakramen inisiasi. Dengan adanya dua upacara juga timbul kesadaran bahwa ada dua sakramen, yakni Baptis dan Krisma. Maka sekarang timbul pertanyaan: dua sakramen atau satu sakramen? Tidak ada jawaban yang jelas atas pertanyaan itu, lebih-lebih karena Perjanjian Baru tidak mengenal upacara pengurapan dalam hubungan dengan pembaptisan, entah langsung sesudahnya entah lebih kemudian.

Sering kali Kis 8:14-17 (Petrus dan Yohanes yang meletakkan tangan atas orang yang baru dibaptis oleh Filipus) dan 19:1-7 (Paulus yang meletakkan tangan atas orang yang hanya menerima pembaptisan Yohanes), dilihat sebagai “awal” sakramen Krisma, karena yang melakukannya adalah rasul-rasul dan karena diberikan Roh Kudus. Tetapi barangkali harus dikatakan bahwa dengan upacara itu para rasul mau “melengkapi” pembaptisan yang telah diterima. Kalau orang yang dibaptis belum menerima Roh Kudus, pembaptisan belum lengkap. Kiranya di sini Pembaptisan dan Krisma justru tidak dibedakan.

Kesadaran ini baru muncul pada zaman Tertulianus (160-220). Bersama dengan itu berkembang terus arti Pentekosta sebagai saat Gereja mendapat perutusannya dari Tuhan yang mulia. Perkembangan dalam pemahaman akan arti perutusan itu serta penguatan khusus untuk itu oleh Roh Kudus, terungkap juga dalam liturgi inisiasi. Dua upacara dalam inisiasi memang baru dikenal sejak abad ketiga, tetapi kesadaran akan perbedaan antara Paska dan Pentekosta sudah ada dalam Kitab Suci (lih. Yoh 7:39 “Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan”). Menghubungkan dua tahap dalam proses kelahiran Gereja dengan proses inisiasi, baru terjadi dalam perkembangan tradisi Gereja. Tahap kedua inisiasi sekarang disebut “Krisma”, guna membedakan pengurapan itu dari pembaptisan. Kedua sakramen ini dibedakan menurut kekhususan upacaranya. Lama sekali Krisma disebut “sakramen penguatan”. Nama itu tidak ada sangkut-pautnya dengan upacara liturgisnya, tetapi menunjuk kepada isi dan artinya: dikuatkan untuk tampil sebagai saksi Kristus, baik dengan perkataan maupun (terutama) dengan corak kehidupan.

Pembaptisan


Dari uraian di atas kiranya sudah jelas bahwa Pembaptisan bukan seluruh inisiasi Kristen. Pembaptisan merupakan kesatuan yang erat, khususnya dengan Krisma. Namun kedua sakramen itu, lebih-lebih lagi Ekaristi, mempunyai kekhasan dan maknanya sendiri, sehingga oleh Gereja dibedakan sebagai tiga sakramen.

Pembaptisan dalam Kitab Suci

Sama seperti Ekaristi dan pengurapan orang sakit, begitu juga pembaptisan bukanlah “penemuan” Tuhan Yesus. Upacara pembaptisan berakar dalam adat-istiadat orang Yahudi. Agama Yahudi mengenal macam-macam upacara permandian atau penyucian untuk membersihkan orang dari dosa atau dari kenajisan, sehingga ia boleh ikut upacara agama (lih. Im 15:5.8.10.13.18.22; 16:4.24 dst.). Dalam agama-agama adat di sekitar lingkungan Yahudi, umumnya juga dikenal upacara pembersihan semacam itu.

Pada zaman Yesus di kalangan Yahudi di sana-sini juga ada semacam inisiasi dengan upacara permandian, sebagai pengenangan akan bangsa Yahudi yang melintasi Laut Merah. Dalam kerangka itu muncullah gerakan Yohanes Pembaptis, yang membaptis orang “sebagai tanda pertobatan” (Mat 3:11). Dengan demikian Yohanes mau mempersiapkan orang menghadapi “murka yang akan datang” (Mat 3:7). Yohanes sadar bahwa Allah akan menghukum bangsa-Nya dalam waktu yang singkat. Satu-satunya jalan keluar adalah pertobatan, yang dinyatakan dalam upacara pembaptisan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4). Maka “sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan” (Mat 3:6).

Kiranya upacara pembaptisan diambil alih oleh Gereja dari Yohanes. Dalam Injil malah dikatakan bahwa ”Yesus pergi ke tanah Yudea dan membaptis” (Yoh 3:22; lih. ay. 26), maksudnya, bahwa ”Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya” (Yoh 4:2). Memang tidak ada berita tentang kegiatan Yesus yang membaptis. Tetapi pada hari Pentekosta, sesuai dengan perintah Yesus (Mat 28:19; Mrk 16:16) Petrus berseru kepada orang: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Mencolok sekali kemiripan antara pesan Petrus dan seruan Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4; bdk. Kis 2:38). Tetapi justru dari perbandingan ini jelaslah pula perbedaannya. Petrus menambahkan dua hal: “dalam nama Yesus Kristus” dan “kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Pembaptisan Kristen bukan hanya tanda tobat (seperti pada Yohanes Pembaptis), melainkan tobat dalam kepercayaan akan Yesus. Yang diterima pun bukan hanya pengampunan dosa, tetapi “karunia Roh Kudus”, yang “bersaksi bersama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:16). Pembaptisan bukan hanya permohonan akan belas kasihan Allah. Dengan pembaptisan diungkapan iman akan “Kristus Yesus, Juru Selamat kita” (Tit 1:4), yang memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah” (Kis 2:33).

Menurut St. Paulus, mengambil bagian dalam wafat dan kebangkitan Kristus merupakan pokok sakramen pembaptisan: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya – sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa – demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Atau dengan perkataan lain: “Yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27). Dengan pembaptisan orang sungguh secara total dipersatukan dengan Kristus. Dalam surat Kolose hal itu diterangkan lebih lanjut sebagai berikut: “Bersama Kristus kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja-kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kol 2:12). Pengarang melihat itu sebagai “inisiasi Kristen”, yang dapat dibandingkan dengan sunat Yahudi (ay. 11).

Surat kepada Titus mengembangkan gagasan ini lebih jauh lagi: Allah menyelamatkan kita “karena rahmat-Nya oleh pembaptisan kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Itulah yang oleh Yohanes disebut “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:6). Makin ditekankan hidup yang baru, bukan pengampunan dosa. Unsur pembersihan dari noda dosa tentu tetap ada, tetapi yang lebih penting ialah kesatuan dengan Kristus sebagai Anak Allah: “Allah mengutus Anak-Nya, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kita adalah anak, maka Allah mengutus Roh . Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:4-6).

Dalam 1Kor 12: 13 masih ada satu unsur lain lagi: “Dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Dengan pembaptisan orang tidak hanya menerima karunia Roh Kudus, tetapi juga menjadi anggota tubuh Kristus, yaitu Gereja. Di sini dengan paling jelas terungkap sifat inisiasi, dan langsung dapat ditarik kesimpulan: “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Dalam Kristus dan oleh Pembaptisan, segala perbedaan dan pertentangan antara suku atau kelas terhapus dan tidak berlaku lagi, termasuk perbedaan pria dan wanita sama, sebagai anggota tubuh Kristus. Dengan pembaptisan tidak hanya diciptakan seorang manusia baru, tetapi umat manusia yang baru.

Pembaptisan dalam Tradisi Gereja

Yohanes Pembaptis membaptis orang dalam sungai Yordan, dan murid-murid Yesus juga begitu. “Tempat pembaptisan” itu sebuah sungai atau kolam. Tetapi ketika umat Kristen mulai berkembang di kota-kota, jauh dari tempat-tempat air, mereka membangun kolam-kolam dalam gereja dan membaptis orang di situ. Pembaptisan itu tetap dilakukan dengan menenggelamkan orang ke dalam air. Lama kelamaan menjadi kebiasaan untuk menanyakan kepada orang, sementara dia berada di dalam air, pertanyaan yang sekarang juga masih bergema di gereja pada malam Paska:

Percayakah saudara akan Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi?

Percayakah saudara akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan; yang bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga duduk di sisi kanan Bapa yang mahakuasa?

Percayakah saudara akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal?

Sesudah setiap pertanyaan, orang yang ada di dalam kolam menjawab: ”Ya, saya percaya”. Sesudah itu, ia ditenggelamkan ke dalam air tiga kali. Dengan demikian sakramen Pembaptisan dengan jelas menjadi “sakramen iman”, yang pusat-pokoknya adalah pengakuan iman Gereja atau syahadat. Untuk zaman sekarang buku “Inisiasi Kristen” menetapkan:

“Pemimpin upacara mengajak calon untuk mengakui imannya (dengan tiga pertanyaan tersebut di atas). Kalau pembaptisan dilakukan dengan menenggelamkan calon dalam air, hendaknya kesopanan diperhatikan. Kalau pembaptisan dilakukan dengan menuangkan air, pemimpin mengambil air dari bejana pembaptisan dan menuangkannya tiga kali atas kepala calon, sambil mengucapkan rumus pembaptisan:

… (disebut namanya) aku membaptis saudara demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Sementara itu calon baptis dipegang oleh wali baptis.

Lalu pemimpin upacara mengurapi ubun-ubun setiap baptisan baru dengan krisma tanpa mengatakan apa-apa. Bila dianggap perlu, pemimpin upacara dapat menyerahkan pakaian putih (atau yang berwarna lain). Kemudian pemimpin memegang lilin Paska; wali baptis maju dan menyalakan lilin pada lilin Paska, lalu menyerahkannya kepada baptisan baru.” .

Jadi, sesudah pembaptisan ada tiga upacara kecil (sakramentali), yang secara simbolis menunjuk pada arti pembaptisan: Pengurapan berarti bahwa baptisan baru diserupakan dengan Kristus, yang diurapi oleh Roh Kudus (lih. Kis 10:38) menjadi imam, nabi dan raja, pakaian putih juga menandakan Kristus, dan menunjuk kepada Gal 3:27, “mengenakan Kristus”, Begitu juga lilin, yang dinyalakan dari lilin Paska, merupakan lambang Kristus: Karena telah bersatu dengan Kristus, cahaya dunia, maka baptisan baru harus hidup sebagai putra-putri cahaya dan menghayati iman dengan setia. Adapun pembaptisan sendiri, yang tetap dapat dilakukan dengan cara menenggelamkan, biasanya dilakukan dengan menuangkan air atas kepala orang. Kedua cara itu sejak dahulu dipraktikkan dalam Gereja.

Ada sebuah dokumen dari zaman para rasul sendiri, yang disebut Didahke atau “Pengajaran Kedua Belas Rasul”. Di dalamnya dikatakan mengenai pembaptisan: “Ada pun baptisan, kamu harus membaptis sebagai berikut:
Setelah segala sesuatu itu tadi (yakni instruksi mengenai kehidupan Kristen) diberitahukan, maka kamu harus melakukan pembaptisan demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di dalam air yang hidup. Seandainya air yang hidup tidak ada padamu, lakukanlah pembaptisan dalam air yang lain; jikalau tidak bisa dalam air dingin, boleh juga di dalam air panas. Kalau juga air panas tidak ada, tuangkanlah air ke atas kepalanya tiga kali, demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Sebaiknya sebelum upacara pembaptisan baik yang membaptis maupun yang akan dibaptis, berpuasa. Tetapi calon baptis harus berpuasa selama satu-dua hari sebelumnya”.

Pada dasarnya upacara pembaptisan sekarang masih sama dengan zaman Tuhan Yesus sendiri. Hanya sekarang pembaptisan ditempatkan dalam kerangka inisiasi, dan untuk itu ditambahkan beberapa upacara kecil yang menjelaskan arti sakramen.

Mengenai arti pembaptisan, Konsili Vatikan II berkata:

“Melalui pembaptisan orang dimasukkan ke dalam misteri Kristus: Mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia; mereka menerima Roh pengangkatan menjadi anak, dan dalam Roh itu berseru: Abba, Bapa; demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa” (SC 6).

Mereka menjadi “penyembah sejati” dalam Gereja, sebab “dengan pembaptisan kaum beriman dimasukkan ke dalam tubuh Gereja dan ditugaskan untuk menyelenggarakan ibadat agama Kristen” (LG 11).

Pembaptisan Kanak-Kanak

Dalam Kitab Suci tidak ada berita mengenai pembaptisan kanak-kanak. Memang dalam Kis 16:33 dikatakan bahwa kepala penjara Filipi “memberi diri dibaptis, ia dan keluarganya” (bdk. Kis 16:15; 18:8). Mungkin di antaranya juga ada anak-anak, mungkin tidak. Dari Kitab Suci hal ini tidak jelas, dan tetap tidak jelas sampai akhir abad ke-2. Tetapi sekitar tahun 250 membaptis anak sudah menjadi kebiasaan di Afrika Utara, dalam arti bahwa bersama dengan orang dewasa juga anak-anak mereka ikut dibaptis. Namun kemudian ada juga orang yang menunda pembaptisan anak-anak sampai mereka dewasa. Pada zaman St. Agustinus (354-430) baptis bayi sudah menjadi kebiasaan umum di wilayah itu. Dan tidak lama kemudian menjadi praktik di mana-mana, karena waktu itu jarang ada orang dewasa yang dibaptis. Semua keluarga sudah menjadi Kristen. Yang penting di sini ialah bahwa ada berbagai motivasi membaptis kanak-kanak (dan juga untuk menunda baptis mereka). Pada zaman St. Agustinus ajaran mengenai dosa asal mempunyai pengaruh yang sangat besar: Kalau anak-anak tidak dibaptis, mereka semua ke neraka (biarpun hanya ke “pinggir” neraka saja).

Alasan yang sekarang dikemukakan dalam buku liturgi Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak ialah “mereka dibaptis dalam iman Gereja yang diakui oleh para orangtua dan wali baptis serta semua hadirin”. Mereka dibaptis sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa yang mandiri, melainkan sebagai anak yang dalam segala hal bergantung pada orangtua mereka. Maka buku liturgi juga menambahkan: “Sakramen ini baru mendapat arti sepenuhnya, kalau kanak-kanak yang dibaptis dalam iman Gereja, kemudian dididik pula dalam iman itu”.

Pembaptisan kanak-kanak sebetulnya berarti menerima seluruh keluarga, termasuk anak-anak, ke dalam lingkungan Gereja. Hal itu kentara dalam Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak sendiri, “Dalam upacara pembaptisan kanak-kanak, orangtua lebih dipentingkan daripada tugas wali baptis”.

“Wali baptis” sebetulnya lebih berfungsi dalam kerangka pembaptisan orang dewasa. Dalam buku Inisiasi Kristen (untuk pembaptisan orang dewasa) ditunjuk dua “pembantu” calon baptis: penjamin dan wali baptis. “Penjamin harus mengetahui watak dan kelakuan, iman dan niat simpatisan atau katekumen; ia ikut memberi jaminan kepada Gereja bahwa calonnya itu pantas dilantik menjadi katekumen dan dipilih sebagai calon baptis. Fungsi penjamin itu selesai sebelum upacara ‘pemilihan’”, Penjamin sedikit banyak berfungsi sebagai “sponsor” atau “penanggung jawab”. Terutama pada zaman penganiayaan, fungsi itu tidak hanya amat penting, tetapi sering kali sulit juga dan berbahaya. Penjamin mengawasi si calon seolah-olah “dari luar” (dan zaman dahulu ia tidak dikenal oleh si calon), untuk kemudian memberi laporan kepada pimpinan Gereja. Sebaliknya wali baptis “mendampingi katekumen pada hari ‘pemilihan’, dalam perayaan sakramen-sakramen inisiasi dan masa ‘mistagogi‘, artinya ia menunjukkan jalan kepada katekumen supaya menerapkan Injil dalam hidupnya sendiri dan dalam hubungannya dengan masyarakat. Ia harus menolong dalam keragu-raguan dan kebimbangannya. Ia harus memberi kesaksian dan menjaga perkembangan hidup Kristianinya.” Untuk pembaptisan seorang anak, fungsi “penjamin” tidak perlu, dan fungsi “wali baptis” lebih dipegang oleh orangtuanya.

Oleh karena itu, pada saat “penolakan setan dan pengakuan iman” pemimpin upacara menyapa para orangtua (dan wali baptis). Pada saat anak mau dibaptis, orangtua (dan wali baptis) ditanyai lagi: “Maukah saudara supaya anak ini dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diterima sebagai anggota umat Allah?”. Yang ditanyai bukan anak itu sendiri (yang belum tahu apa-apa). Wali juga tidak menjawab atas nama anak itu (seperti dahulu dilakukan). Yang ditanyai dan yang menjawab adalah orangtua sendiri, bersama dengan wali baptis, Pembaptisan kanak-kanak, khususnya bayi, tidak dapat dilepaskan dari iman serta tanggung jawab orangtuanya.

Tiga Tahap Inisiasi Kristen


Menjadi orang Kristen merupakan suatu proses, tahap demi tahap. Langkah pertama ialah katekumenat, yakni masa persiapan dengan pelajaran-pelajaran dan upacara-upacara kecil yang bersifat sakramentali. Pada zaman dahulu para katekumen tidak diperbolehkan ikut perayaan Ekaristi. Baru sesudah dibaptis mereka boleh ikut perayaan Ekaristi. Maka pembaptisan pun dipandang sebagai suatu langkah yang amat penting dalam proses inisiasi itu. Sesudah pembaptisan mereka dihadapkan pada bapa uskup, yang meletakkan tangan atas mereka dan mengurapi mereka. Karena mereka diurapi dengan krisma, yakni “minyak zaitun atau minyak lain yang diperas dari tetumbuhan” (KHK kan. 847), upacara ini kemudian disebut “krisma”. Sesudah itu mereka baru diperbolehkan mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, yang dipandang sebagai langkah terakhir dalam proses inisiasi itu.

Dengan demikian ada tiga sakramen dalam proses menjadi orang Kristen, yakni Pembaptisan, Krisma dan Ekaristi, yang karenanya disebut “sakramen-sakramen inisiasi”. Dalam arti yang sesungguhnya Ekaristi tidak termasuk inisiasi, selain bila diikuti untuk pertama kalinya. Bila selanjutnya orang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi lagi, itu sudah bukan “inisiasi” lagi, sebab Ekaristi adalah tujuan dan sekaligus langkah terakhir dari seluruh proses inisiasi Kristen.

Dalam perkembangan lebih lanjut ketiga sakramen inisiasi dipisahkan satu dari yang lain. Banyak orang dibaptis beberapa hari sesudah lahir (baptis bayi). Sakramen Krisma baru diterima bila sudah menjadi remaja. Pada waktu itu orang biasanya sudah menerima “komuni pertama” dan telah lama ikut perayaan Ekaristi. Dengan demikian bukan hanya urut-urutannya diubah, tetapi juga sudah tidak terasa adanya hubungan antara ketiga sakramen itu. Dan karena orang sudah diterima ke dalam Gereja sebagai seorang bayi, maka Ekaristi dan Krisma, tidak lagi dialami sebagai “sakramen inisiasi”.

Tata cara perayaan inisiasi Kristen sekarang ditetapkan dalam buku resmi liturgi “Inisiasi Kristen” untuk Gereja Indonesia dari tahun 1977, sebagai berikut:

“Inisiasi Kristen mengikuti suatu pola yang kurang lebih sama, di mana dapat dibedakan tahap-tahap berikut:
Tahap 1 : Dari “simpatisan” menjadi “katekumen”;
Tahap 2 : Dari “katekumen” menjadi “calon baptis”;
Tahap 3 : Dari “calon baptis” menjadi “baptisan baru”.
Maka hampir dengan sendirinya inisiasi Kristen mendapat susunan sebagai berikut:
(a) Masa pra-katekumenat untuk para simpatisan.

(1) Tahap pertama: Upacara pelantikan menjadi katekumen.

(b) Masa katekumenat untuk para katekumen.

(2) Tahap kedua: Upacara pemilihan sebagai calon baptis.

(c) Masa persiapan terakhir untuk para calon baptis yang terpilih.

(3) Tahap ketiga: Upacara sakramen-sakramen inisiasi.

(d) Masa pendalaman iman (mistagogi) untuk para baptisan baru.”

Selanjutnya diberikan keterangan sebagai berikut:

“Tahap pertama ialah, bila seorang simpatisan sungguh mulai bertobat dan beriman, sehingga ia dapat diterima oleh umat setempat dalam katekumenat. Dalam suatu upacara ia dilantik menjadi katekumen.

Tahap kedua ialah, bila iman seorang katekumen sudah berkembang sedemikian, sehingga ia diizinkan menyiapkan diri akan sakramen-sakramen inisiasi.

Tahap ketiga ialah, bila persiapan terakhir sudah selesai dan calon itu diperkenankan menerima sakramen-sakramen inisiasi (Pembaptisan, Krisma, dan Ekaristi pertama), sehingga ia menjadi anggota penuh dalam Gereja.”

Khususnya mengenai “sakramen-sakramen inisiasi” dikatakan:

“Perayaan sakramen-sakramen inisiasi merupakan tahap ketiga dan terakhir dalam proses inisiasi Kristen. Dalam sakramen-sakramen itu para “pilihan” diikutsertakan dalam misteri Paska Kristus, mereka mati terhadap dosa, sehingga manusia lama dikuburkan, dan mereka bangkit bersama Kristus sebagai manusia baru, dilahirkan kembali dan diangkat sebagai anak Allah. Mereka dilengkapi dengan kekuatan Roh Kudus dan digabungkan pada umat beriman yang bersama-sama menuju kerajaan Allah yang abadi.”

Ulasan di bawah ini akan terbatas pada “tahap ketiga”, ialah sakramen-sakramen inisiasi sendiri. “Ekaristi pertama” hanya berarti bahwa “baptisan baru” untuk pertama kalinya boleh ikut serta dengan perayaan Ekaristi, tidak merupakan suatu sakramen atau upacara tersendiri. Maka yang akan dibicarakan hanyalah kedua sakramen inisiasi yang lain, yakni Pembaptisan dan Krisma.

Sakramen Inisiasi Kristen


Sakramen pengurapan orang sakit boleh disebut kepenuhan partisipasi dalam Ekaristi, karena menghubungkan orang secara nyata dengan penyerahan Kristus kepada Bapa. Yang secara sakramental dirayakan dalam Ekaristi, menjadi kenyataan dalam sengsara dan kematian yang dihayati sungguh-sungguh dalam kesatuan dengan Kristus. Kesatuan dengan Kristus, khususnya dengan mengambil bagian dalam peralihan-Nya dari dunia ini kepada Bapa (Yoh 13:1), menurut ajaran St. Paulus sudah mulai dengan pembaptisan: “Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” (Rm 6:3).

Pembaptisan merupakan langkah pertama ke arah kesatuan hidup dan mati dengan Kristus. Kesatuan dengan Kristus itu dihayati dalam Gereja, maka sakramen pembaptisan juga berarti bahwa seseorang menjadi anggota Gereja. Oleh karena itu pembaptisan juga disebut “inisiasi Kristen“. Dengan pembaptisan orang diinisiasi atau diantar ke dalam Gereja sebagai anggotanya, Tetapi sebenarnya pembaptisan hanya merupakan satu langkah saja dari inisiasi Kristen.