Sifat-Sifat Allah


Perkembangan pengetahuan mengenai Allah itu tidak bertujuan menambah pengetahuan saja. Mzm 27 menyatakan, “Wajah-Mu kucari, ya Tuhan; jangan menyembunyikan wajah-Mu kepadaku” (ay. 8-9). Yang dicari bukan pengetahuan yang lebih luas, melainkan pengenalan yang lebih mendalam. Dalam pertemuan dengan Allah, yang pertama-tama mengesan ialah bahwa Tuhan jauh di atas segala yang lain. Kalaupun Allah bisa disebut baik, adil, bijaksana, mulia, dan apa saja, selalu harus dikatakan bahwa sifat-sifat-Nya itu tak mengenal batas. Maka dikatakan bahwa Tuhan itu mahabaik, mahaadil, dan seterusnya. Allah itu mahasempurna dalam segala hal. Artinya, Tuhan mempunyai semua sifat yang baik tanpa batas, yang tidak bisa dibayangkan.

Kata “maha” itu sebetulnya mengungkapkan perbedaan Allah dengan makhluk-Nya, Allah bukanlah seperti makhluk. Tetapi dengan mengatakan bahwa Allah itu baik, dan adil, dan bijaksana, dan seterusnya, maka dinyatakan bahwa segala kebaikan dan keadilan dan kebijaksanaan yang ada di dunia bersumber pada Allah. Kata maha mengungkapkan perbedaannya, tetapi dengan kata sifat di belakangnya dinyatakan kesatuan Allah dengan makhluk-Nya. Hal itu paling kentara pada kata “hidup”. Allah hidup dan manusia hidup. Tetapi hidup manusia terbatas, hidup Allah tak terbatas, kekal atau abadi. Lagi pula, hidup Allah tidak dapat dibayangkan. Allah.dan manusia sama-sama hidup, tetapi mempunyai hidup yang sama sekali saling berlainan.

Namun dengan segala sifat yang berbeda itu Allah tidak menjadi kabur atau tak jelas, sebab Allah yang berbeda itu menyapa manusia secara pribadi. Maka dari satu pihak Allah itu jauh, tak terjangkau; tetapi dari pihak yang lain Ia mempunyai hubungan langsung, sebagai pribadi dengan pribadi. Seperti yang dikatakan Yesus pada perjamuan terakhir, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia” (Yoh 17 :6). Allah mempunyai nama dan nama itu adalah Bapa. Sebab “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8.16). Kasih itu bukan sifat Allah. Kasih itu jatidiri-Nya, Maka Allah menyatakan diri sebagai Bapa, dalam Anak-Nya Yesus Kristus.

Sebelumnya tidak demikian: “Oleh Musa diberikan hukum Taurat, tetapi kasih-karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:17). Gambaran dan pengetahuan Perjanjian Lama lain, maka nama Allah juga lain: Yahweh, nama yang tidak boleh diucapkan oleh manusia. Perjanjian Lama masih menekankan perbedaan dan jarak. Yesus mengajarkan orang supaya menyapa Allah dengan “Bapa kami yang ada di surga”. Siapa pun nama-Nya, Allah diakui dan dihormati sebagai pribadi, bukan hanya sebagai suatu daya-kekuatan. Maka juga dikatakan bahwa Tuhan itu di satu pihak marah, menyesal, dan kecewa, namun di pihak lain melihat yang baik, berkenan kepada manusia, mencintai dunia. Sering kali dipakai kata yang sangat manusiawi, seperti “cemburu”, “benci’ atau “kesal”. Yang mau dinyatakan dengan kata-kata itu bukanlah bahwa Allah sama atau serupa dengan manusia, melainkan bahwa manusia mengimani Allah sebagai pribadi, yang mempunyai “hati” bagi manusia, yang merupakan sumber dan arah hidup manusia, dan bahwa berpaling dari-Nya berarti kehancuran dan kematian.

Transenden dan Imanen

Dua kata secara khusus harus diperhatikan, karena kedua kata itu mencoba mengungkapkan sifat-sifat khas Allah, yakni kata transenden dan imanen. Kata “transenden” sebetulnya berarti melampaui, unggul dan mau mengungkapkan bahwa Tuhan mengatasi segala-sesuatu (seperti juga dikatakan dengan sebutan maha-). Maka dengan kata “transenden” lebih ditekankan perbedaan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya, “Dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes 40:18).

Sifat “transenden” itu perlu dilengkapi dengan sifat “imanen”, sebab seandainya Allah hanya transenden saja, seolah-olah Ia tidak berhubungan lagi dengan dunia. Padahal, dalam refleksi atas pengalaman hidup, Allah justru dikenal sebagai Yang-Memberi-Hidup. Memisahkan Allah secara total dari dunia, biarpun karena hormat kepada Allah, menutup segala kemungkinan berhubungan dengan Allah, bahkan mengenal Allah secara pribadi. Oleh sebab itu sifat transenden harus dilengkapi dari diimbangi dengan sifat imanen. Secara harfiah kata “imanen” berarti “yang tinggal di dalam”. Jadi mau menyatakan bahwa Allah tidak hanya mengatasi makhluk-makhluk-Nya, tetapi juga “tinggal di dalam” mereka. Bagaimana caranya? Lagi, manusia tidak dapat membayangkannya, sebagaimana sebetulnya juga tidak dapat digambarkan transendensi Allah.

Allah memang berbeda dengan dunia, tetapi tidak terpisah dari-Nya. Karena sifat-sifat Allah tidak mengenal batas, maka kehadiran-Nya tak terbatas. Allah hadir di mana-mana. Tuhan ada di surga, di bumi, dan di segala tempat. Dalam arti ini kita menerima panenteisme. Allah hadir dan berada dalam segala-galanya, tetapi bukan segala-galanya adalah Allah (panteisme). Allah tidak hadir seperti manusia atau makhluk lain. Tuhan hadir di mana-mana secara ilahi. Itu disebut “imanensi”. Maka “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28). Karena Allah hadir pada kita, maka kita hadir pada Allah. Karena Allah ada dalam diri kita, maka kita berada dalam Allah.

Yang Maha Esa

Sifat Allah yang disebut dalam Pancasila ialah “maha esa”. Apa artinya? “Esa” berarti satu, tunggal: Lalu apa arti “maha-satu” dan “maha-tunggal”? Mungkinkah lebih satu daripada satu, atau lebih tunggal daripada tunggal? Menurut GBHN 1978 kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa bukan merupakan agama. Oleh karena itu kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa juga tidak harus dimengerti menurut keterangan suatu agama tertentu. Dalam pidato kenegaraan tahun itu juga dijelaskan, bahwa kepercayaan kepada Tuhan yang mahaesa adalah “kenyataan budaya yang hidup dan dihayati oleh sebagian bangsa kita; warisan dan kekayaan rohaniah rakyat kita”. Maka sila pertama tidak berbicara mengenai ketuhanan yang mahaesa menurut perumusan atau pengertian agama, melainkan sebagai pengalaman manusia yang umum. Manusia mengalami Allah sebagai sumber hidup yang paling dasariah. Di dalam Allah ditemukan seluruh kekayaan hidup. Di luar Allah tidak ada hidup. Allah adalah satu-satunya yang menyelenggarakan seluruh kehidupan.

Iman Kristen mengakui “Allah itu esa”, tetapi “esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:4). “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Yesus tidak hanya memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia, melainkan juga “dalam Dia kita beroleh jalan masuk kepada Allah, oleh iman kepada-Nya” (Ef 3:12). Iman akan Allah yang mahaesa dihayati dalam Kristus dan oleh Roh Kudus. Sebagaimana Allah mendatangi kita dalam Kristus, begitu kita pun menghadap Allah dalam Kristus dan mengakui Dia sebagai “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2Kor 1:3). Maka bersama dengan Yesus Kristus kita mengakui bahwa “Tuhan itu esa” (Mrk 12:29). Sekaligus kita mengakui Yesus Kristus sebagai Dia “yang dikuduskan Bapa dan diutus ke dalam dunia” (Yoh 10:36). Orang yang percaya kepada Yesus sebetulnya tidak percaya kepada Yesus saja, melainkan juga kepada Dia yang mengutus Yesus (bdk. Yoh 12:44). Oleh karena anugerah Roh Kudus, dalam kesatuan dengan Kristus, orang beriman Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa.

Pengakuan akan Allah Tritunggal sudah ada sejak Gereja perdana. Dan secara khusus Gereja berpegang pada perintah Tuhan untuk membaptis orang “atas nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Tetapi sekaligus Gereja juga berpegang pada ajaran Yesus, yang menyapa Allah sebagai “Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Mat 11:25). Maka St. Ignatius dari Antiokhia († thn 100) mengajarkan: “Ada satu Allah, yang mewahyukan diri oleh Yesus Kristus Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya” (ad Magn. 8,2). Seorang pengarang lain, juga dari awal abad ke-2, berkata: “Pertama-tama kita percaya bahwa ada satu Allah, yang telah menciptakan dan mengatur segala sesuatu, dan yang membuat yang tidak ada menjadi ada, yang mencakup segala-galanya, namun hanya Dia yang tidak dicakup oleh apa-apa” (Pastor Hermas, Mand, I, 26). Pada dasarnya hal itu sama dengan ajaran Kitab Suci: “Penguasa satu-satunya, yang penuh bahagia, Raja segala raja dan Tuan segala tuan; satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, yang tak pernah dilihat seorang manusia dan yang juga tidak dapat dilihat” (1Tim 6:15-16). Ajaran mengenai Allah yang satu, mahakuasa dan mahamulia, tidak pernah terasa bersaing dengan iman akan Allah Tritunggal Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Simbol-Simbol mengenai Allah


Allah “bersemayam Dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (lih Im 6:16). Namun “Tuhan, Allah kita, telah berfirman kepada kita” (Ul 1:6). Tuhan telah menyatakan diri kepada manusia, baik dengan sabda maupun melalui karya. “Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai terbenamnya” (Mzm 50:1). Kita boleh mengenal Allah, namun selalu secara terbatas dan melalui simbol-simbol.

Dilihat dari sudut manusia, hubungan Allah dengan manusia digambarkan dalam dua tahap, yakni karya penciptaan dan karya penyelamatan. Sesuai dengan itu terdapat dua simbol utama bagi Allah, yakni Allah Pencipta dan Allah Penyelamat . Sesungguhnya kedua karya itu satu, Dalam penciptaan, Allah sudah mewahyukan diri; dan dalam penyelamatan, Allah semakin memberikan hidup kepada manusia. Namun, demi mudahnya, yakni supaya lebih jelas pemikirannya, biasanya kedua itu dibedakan, Kita tidak mungkin berbicara mengenai karya penciptaan Allah, lepas dari wahyu dan iman, dan mustahil pula berbicara mengenai wahyu tanpa sekaligus . mengakui Allah sebagai Pencipta. Allah dikenal sebagai Allah karena ciptaan-Nya:

“Engkau layak, ya Tuhan dan Allah kami, menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan karena kehendak-Mu mereka berada dan diciptakan” (Why 4:11).

Dalam kitab nabi Yesaya dikatakan,

“Beginilah firman Tuhan, Penebusmu,
yang membentuk engkau sejak dari kandungan:
Akulah Tuhan, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit,
yang menghamparkan bumi,
siapakah yang mendampingi Aku?” (Yes 44:2~).

Akan tetapi, manusia tidak puas dengan gambaran Allah yang samar-samar. Dicarinya pengertian yang lebih terinci. Bukan gambaran saja, melainkan pengetahuan. Filsafat ketuhanan mencoba menggali lebih dalam dan mengembangkan pengetahuan spontan mengenai Allah. Orang beriman pun berusaha mencari pengetahuan yang lebih lengkap dan lebih utuh mengenai Allah. Bukan karena imannya kurang, tetapi karena ia ingin mengenal Allah sebaik mungkin. Memang ada orang yang menekankan perbedaan Allah dengan manusia, Bagi mereka segala pengetahuan mengenai Allah bersifat negatif: Allah lain daripada yang lain. Orang lain justru menekankan Allah sebagai sumber segala yang ada. Oleh karena itu, mereka berkata bahwa apa saja yang ada di dunia ada juga pada Allah, tetapi dalam keadaan yang sempurna. Malah dikatakan bahwa dalam diri Allah semua itu begitu sempurna, sehingga akhirnya toh tidak dapat dibayangkan lagi bagaimana kesempurnaan Allah itu. Memang tidak mungkin membuat suatu gambaran. lengkap mengenai Allah. Bahkan pengetahuan yang 100% tepat pun kiranya juga tidak mungkin. Namun manusia dapat mencoba menegaskan secara lebih khusus dan lebih jelas apa yang dimaksudkan dengan kata “Allah”. Kecuali melalui simbol-simbol Pencipta dan Penyelamat – dan banyak simbol lain – Allah dapat digambarkan juga melalui kata-kata sifat yang dikenakan pada Allah.

Allah Bapa Mahakuasa


Manusia selalu berusaha mengenal Allah secara lebih baik, tidak puas memiliki gambaran Allah yang samar-samar. Khususnya filsafat ketuhanan mencoba menggali lebih dalam dan mengembangkan pengetahuan spontan tentang Allah. Lalu Tuhan yang telah dikenal itu digambarkan dalam bentuk simbol-simbol. Salah satu simbol yang paling biasa ialah “Bapa” dalam pengertian yang paling sempurna. Dalam banyak kepercayaan asli Allah disimbolkan dengan Bapa dan Ibu sekaligus. Dalam agama Kristen Allah sering disapa sebagai Bapa.

Yesus mengajar para murid-Nya berdoa “Bapa kami yang ada di surga”. Pewahyuan Allah sebagai “Abba”, Bapa tercinta, menyatakan hubungan timbal balik antara Yesus dengan Allah. Dengan kata “Bapa” dimaksudkan “Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm 15:6). Dan dalam kesatuan dengan Yesus kita pun boleh menyebut Allah “Bapa kita” (Rm 1:7; 1Kor 1:3 dst.; Yoh 20:17). Pewahyuan Allah sebagai Bapa sekaligus menawarkan hubungan timbal balik antara Allah dengan manusia. Allah Bapa dekat dan merangkum, menyelenggarakan hidup kita ..

Dengan sebutan “Bapa” terungkap perhatian Allah bagi manusia, sekarang ini sampai akhir zaman. (St. Agustinus) Tuhan adalah Allah dan Bapa. Allah karena kekuasaan-Nya, Bapa Karena kebaikan-Nya, Dan St. Klemens Romanus (abad I-II) mengatakan bahwa justru sebagai Pencipta, Allah disebut “Bapa”: Bapa dan Pencipta semesta alam “Mahakuasa” berarti penyelenggara dan pengatur segala-galanya.

Paham Yesus mengenai Allah sama dengan orang Yahudi se-zaman-Nya, dan sama dengan Perjanjian Lama. Bagi Yesus juga hanya ada satu Allah, yang satu dan tunggal, yaitu Bapa-Nya di surga. Dia adalah “Bapa yang hidup” (Yoh 6:57), “satu-satunya yang tidak takluk kepada maut” (1Tim 6:16). Sebagai Allah yang hidup (lih. Mat 16:16) Ia tidak hanya mempunyai hidup dan kekuatan pribadi, tetapi juga terbedakan secara total dengan manusia dan semua makhluk fana yang lain. Namun Dialah Allah Perjanjian, yang mengikat manusia secara khusus pada diri-Nya. Dialah Allah keselamatan yang bertindak di dunia ini semata-mata demi keselamatan manusia. Dia adalah “Allah yang hidup dan yang benar” (1Tes 1:9), “yang telah berfirman: Dari dalam gelap akan terbit terang, dan yang juga membuat terang-Nya bercahaya dalam hati kita” (2Kor 4:6).

Di atas segalanya Dialah Allah Kasih, yang “begitu besar kasih-Nya akan dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Hidup ilahi-Nya dinyatakan dalam Anak-Nya itu: “Seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yoh 5:26). Tugas pengutusan Yesus ialah menyatakan Allah kepada dunia. “Yang melihat Aku, ia melihat Bapa” (Yoh 14:9). Kekhasan pengalaman Yesus akan Allah ialah kesadaran bahwa Allah adalah Bapa-Nya, yang disapa dengan sebutan “Abba” (lih. Mrk 14:36; juga Rm 8:15; Gal 4:6). “Bapa tercinta” itulah nama yang dipakai Yesus bagi Allah.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama juga ditemukan penggambaran Allah sebagai Ibu. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15). Karena itu simbol Allah sebagai Ibu, yang melahirkan alam semesta, akhir-akhir ini juga mulai dipakai di kalangan tertentu. Sebab sebutan “Ibu” menekankan iman akan Allah sebagai sumber kehidupan, yang memberi makan, memelihara, merawat dengan penuh kebaikan hati.

Allah memang mahabaik dan penuh perhatian terhadap ciptaan-Nya, Dengan demikian sekaligus terungkap keagungan dan keluhuran-Nya: Allah itu pencipta langit dan bumi, yang kelihatan dan tak kelihatan, Agung dan berkuasa, dan sekaligus penuh rasa kebapaan dan keibuan terhadap makhluk ciptaan-Nya, Pada dasarnya iman akan Allah berarti kepercayaan akan kebaikan-Nya, Dalam kepercayaan itu manusia berani menerima hidupnya, dan segala-sesuatu yang ada di sekitarnya. Karena itu iman membawa rasa aman, Orang beriman sadar bahwa hidup manusia ditampung oleh Allah. Karena “Allah lebih besar daripada hati kita” (1Yoh 3:20), maka kita berani menerima segala ketidak-pastian yang membingungkan hati kita. Dalam iman akan Bapa yang mahakuasa manusia berani menerima ketidakberdayaanya sendiri.