Bioetika

Etika medis terutama menjadi tanggungan kelompok profesional para dokter dan pelayan kesehatan lainnya, namun sewajarnya mendapat perhatian umum juga. Mereka memberikan pelayanan kesehatan atas nama semua orang, sebab semuanya wajib membantu dan mendampingi sesama yang sakit. Mereka terikat dengan sumpah kedokteran (yang paling terkenal, ialah sumpah Hipokrates dari abad ke-4 SM), tetapi etika profesi para dokter dan tenaga medis mewujudkan tanggung jawab seluruh masyarakat. Sekarang ini, kata etika medis (etika penyembuhan) sering diganti dengan istilah bioetika (etika hidup), karena tanggung jawab profesi medis tidak terbatas pada usaha-usaha mendukung dan menyembuhkan hidup orang sakit saja. Sepanjang sejarah, manusia sudah selalu mencampuri alam dan hidup, dan dengan demikian ikut membentuk alam dan mewujudkan hidupnya sendiri. Kini ilmu dan praksis kedok¬teran dapat “menciptakan” hidup. Jadi hidup yang tanpa campur tangan itu tidak pernah akan terjadi. Memang semua sependapat, bahwa tidak segala sesuatu yang dapat dibuat juga boleh dibuat. Namun, dari mana diperoleh pedoman untuk mencampuri, meng¬arahkan, dan bahkan menciptakan hidup?

Perkembangan ilmu dan praksis kedokteran sendiri sudah menimbulkan banyak soal, sebab kemajuan hanya mungkin kalau diadakan percobaan-percobaan; yang tidak hanya pada “kelinci percobaan” (kelinci pun perlu dilindungi terhadap penyiksaan dan percobaan sia-sia!). Kalau diadakan percobaan pada manusia yang hidup, masalah moral langsung tampak: bolehkah manusia, pribadi yang hidup, menjadi objek penelitian demi kepentingan orang lain? Dalam semua bentuk percobaan, harus diperoleh persetujuan yang benar-benar bebas dari mereka yang menjadi “objek”. Harus terjamin pula kesehatan mereka. Kalau ada risiko kesehatan, mereka harus tahu dengan jelas. Dan terutama, semua percobaan harus seimbang dengan hasil yang boleh diharapkan. Tak seorang pun wajib menjadi objek percobaan demi kepentingan bersama, namun sering kepentingan bersama dapat menantang kita untuk merelakan diri. Kini banyak obat baru dan terapi baru diuji-coba di negara-negara dunia ketiga. Juga kalau pengobatan yang belum mencapai standar dipakai terutama untuk menyembuhkan pasien, dituntut persetujuan pasien yang harus mengetahui keuntungan dan risikonya.

Banyak diskusi mengenai inseminasi buatan, bayi tabung, dan praktik medis yang berkaitan. Banyak ketidakjelasan juga, bagaimana semua usaha itu mesti dinilai. Ketika pada tahun 1978 lahir bayi tabung yang pertama, Paus mengirim telegram pujian. Beberapa tahun kemudian Kongregasi untuk Ajaran Iman melarang prosedur-prosedur seperti itu. Kesulitan pokok ialah bahwa dengan mencampuri proses alamiah, prokreasi anak terpisahkan dari persatuan kasih dalam hubungan orangtua (paling sedikit untuk sebagian). Apakah kelahiran hidup menjadi perkara teknik kesehatan?

Instruksi Donum Vitae oleh Kongregasi untuk Ajaran Iman (22 Februari 1987) mau menjawab “beberapa pertanyaan yang muncul zaman sekarang” (terutama masalah inseminasi buatan, bayi tabung dan ibu sewaan), demi “hormat akan hidup manusia pada awal kejadiannya dan keluhuran membuat keturunan”. Instruksi ini menilai usaha-usaha inseminasi buatan dan bayi tabung serta ibu pengganti sebagai “amat jahat” dan “tidak dapat diterima”. Namun baik di dunia medis maupun di kalangan teologi moral, pandangan Kongregasi untuk Ajaran Iman menimbulkan suatu diskusi hebat mengenai nilai teknik-teknik baru dalam prokreasi.

Banyak ahli bioetika dan ahli teologi moral Katolik menilai positif inseminasi homolog (inseminasi buatan dengan sperma dari suami sendiri). Demikian pula mereka kurang melihat keberatan mengenai pembuahan homolog di luar kandungan, asal dijalankan guna mengatasi kemandulan. Ada juga yang tidak menolak secara mutlak pembuahan buatan yang heterolog (dengan sperma atau sel telur dari seorang donor). Semua pihak menegaskan bahwa hubungan suami-istri, yang menurunkan anak, bukan hanya kesatuan fisik semata-mata, melainkan pertama-tama dan sedalam-dalamnya adalah hubungan pribadi yang meliputi hidup seluruhnya. Hubungan seksual dan prokreasi (biologis) harus dilihat dalam konteks keseluruhan hidup pribadi.

Dari situ Donum Vitae menarik kesimpulan, bahwa proses biologis tidak boleh (secara fisik) dipisahkan dari kesatuan kasih. Sebaliknya, banyak ahli teologi moral menarik kesimpulan, bahwa juga usaha yang (secara fisik) dibantu oleh teknik kedokteran mendapat kualitas moral dari hubungan pribadi suami-istri yang bersangkutan.

Karena alasan yang sama, usaha “ibu pengganti” dan “rahim kontrakan” mendapat penilaian negatif. Karena istri tidak dapat mengandung, seorang perempuan lain diminta mengandung seorang anak hasil pembuahan buatan. Dengan demikian kehamilan seolah-olah menjadi fungsi produksi biologis belaka, yang dapat diatur dengan “kontrak penyewaan rahim”. Usaha itu lebih menciptakan banyak masalah psikologis, sosial, dan yuridis daripada menyelesaikannya.

Sesungguhnya masalah yang kita hadapi ialah keluhuran hidup manusia pribadi. Janganlah, karena ilmu dan usaha kedokteran modern, hidup manusia dijadikan hasil rekayasa. Tanggapan Gereja mengingatkan, jangan sampai oleh teknik pembuahan buatan, anak makin di-”kuasai” oleh orangtuanya. Di sini bukan teknik kedokteran yang dipersoalkan, melainkan sikap dasar manusia, yang tidak mau lagi menerima hidup sebagai karunia dan menghormati setiap manusia sebagai sesama yang tidak terkuasai. Dalam rangka itu, ilmu kedokteran harus membantu orang menghargai hidup.

Tuntutan supaya kedokteran membantu hidup, berlaku juga untuk usaha-usaha genetik dan eugenetik. Teknik-teknik itu tampaknya juga menimbulkan banyak masalah. Dengan penyelidikan genetik kesehatan seseorang dan risiko hidup yang dihadapinya dapat diketahui lebih jelas. Tapi adilkah, bila pengetahuan genetik itu dipakai sebagai syarat untuk menerima orang itu dalam hubungan kerja? Dengan penyelidikan genetik penyakit-penyakit dapat diketahui jauh sebelum gejala-gejalanya dirasakan. Tetapi tidakkah pengetahuan semacam itu umumnya lebih menekan dari pada membantu? Masalah-masalah yang paling besar timbul kalau pemeriksaan sebelum kelahiran memastikan, bahwa anak akan lahir cacat berat. Pengetahuan itu sering mendesak dan menggoda orang menggugurkan kandungan. Adakah sterilisasi untuk menghindari keturunan yang sakit dapat dibenarkan?

Semua pertanyaan ini belum mendapat jawaban yang jelas dari teologi moral dan belum diatur juga oleh hukum negara. Dalam banyak hal (seperti operasi ganti kelamin atau operasi kecantikan) praktik kedokteran menjadi lebih hati-hati karena makin disadari bahwa wujud hidup tidak mungkin direkayasa dengan operasi dan kualitas hidup tidak dapat dibeli dengan obat. Pada umumnya dapat ditanyakan, sejauh mana soal-soal bioetika merupakan masalah riil di Indonesia? Cara-cara pengobatan eksperimental masih amat mahal, dan biarpun dipraktikkan di sana-sini, usaha-usaha itu bukan untuk orang kebanyakan. Sementara rawatan medis yang biasa sering tidak terjangkau oleh kebanyakan orang, bolehkah usaha medis dan dana yang tersedia dipakai untuk hal yang hanya bermanfaat untuk satu-dua orang saja? Dalam situasi sosial Indonesia, bioetika harus menjawab pertanyaan praktis: Apa yang paling dapat kita lakukan untuk menghormati dan membantu manusia hidup? Sebab setiap orang, juga mereka yang sakit jiwa atau yang mengidap penyakit yang menjijikkan seperti kusta atau AIDS, pantas mendapat perhatian sebagai sesama manusia oleh sesama manusia.