Bagian Ekaristi yang Lain

20130603144701861_0001Pokok perayaan Ekaristi adalah Doa Syukur Agung dan komuni, sebagai partisipasi pada doa yang dibawakan oleh imam. Di samping itu berkembanglah banyak doa dan upacara yang lain, yang mendukung dan memeriahkan perayaan. Yang pertama adalah liturgi sabda, yang juga diambil alih dari ibadat Yahudi. Doa Syukur dan komuni berasal dari kebaktian di rumah, khususnya dari doa sebelum dan sesudah makan, sedangkan liturgi sabda berasal dari kebaktian di sinagoga atau pertemuan jemaat lokal. Dalam perayaan Ekaristi kedua hal itu tidak hanya menjadi satu, tetapi biasanya juga tidak lagi dirayakan dalam keluarga, melainkan dalam ibadat bersama.

Mulai abad ke-4 diadakan doa umat antara liturgi sabda dan Doa Syukur Agung. Tidak lama kemudian Doa Syukur Agung, yang sampai waktu itu selalu dibawakan dengan bebas, mulai diseragamkan. “Tuhan, kasihanilah kami” dan “Bapa kami” masuk pada zaman Paus Gregorius Agung (540-604), yang juga menambahkan banyak nyanyian. Seratus tahun kemudian dimasukkan “Anak Domba Allah” (yang sebetulnya sangat mirip dengan “Tuhan, kasihanilah kami”). Doa-doa pada persembahan dan komuni, dan kebanyakan doa kecil yang lain, baru ada sejak tahun 900, dan baru pada tahun 1570 ada buku “missale“, yang empat ratus tahun kemudian (1970) diganti dengan buku misa yang dipakai sekarang. Secara liturgis semua itu bersama merupakan perayaan Ekaristi. Di dalamnya dapat dibedakan apa yang dalam arti sesungguhnya merupakan sakramen, yaitu Doa Syukur Agung dan komuni, dan doa-doa serta upacara lain yang mendukung yang pokok itu.

Sejak Konsili Vatikan II “upacara-upacara disederhanakan, dengan tetap mempertahankan yang pokok. Dihilangkan semua pengulangan dan tambahan yang kurang berguna, yang muncul dalam perjalanan sejarah. Dengan demikian umat beriman lebih mudah ikut-serta dengan khidmat dan aktif’ (SC 50).

Pada masa lampau sering kali “persembahan” juga dilihat sebagai unsur pokok Ekaristi. Tetapi “persembahan” sebetulnya merupakan persiapan roti dan anggur. Dalam Gereja kuno persembahan itu tidak merupakan upacara khusus, melainkan dilakukan oleh koster atau seorang diakon. Baru di kemudian hari persiapan ini dibuat menjadi acara tersendiri, sering kali dengan sebuah arak-arakan. Karena menjadi upacara sendiri, lalu mendapat arti sendiri. Persembahan dilihat sebagai kurban umat, yang kemudian diubah menjadi kurban Kristus. Kristus tidak dikurbankan lagi dan umat hanya ikut serta dengan kurban Kristus, yang dikenangkan secara sakramental dan secara sakramental pula dipartisipasi oleh umat.

Alhasil, perayaan Ekaristi sekarang terdiri dari dua bagian pokok: liturgi sabda dan liturgi ekaristi. Yang utama tentu liturgi ekaristi, yakni Doa syukur Agung dan komuni. Dalam Doa Syukur Agung dimuliakan karya keselamatan Tuhan, sedangkan dalam liturgi sabda disadari kembali karya agung Allah yang kemudian akan disyukuri.

Liturgi sabda didahului dengan “pembukaan” untuk mempersiapkan hati bagi perayaan Ekaristi. Tekanan ada pada kesadaran diri sebagai orang berdosa yang lemah (terungkap dalam “pernyataan tobat” dan “Tuhan kasihanilah kami”). Sementara itu, sikap puji-syukur juga sudah dipersiapkan (“Kemuliaan”).

Walaupun Doa Syukur Agung dan komuni sebetulnya merupakan satu kesatuan, namun banyak doa sekitarnya menyebabkan komuni tampak seolah-olah suatu upacara yang berdiri sendiri. “Bapa Kami” dan “Salam Damai” menegaskan bahwa komuni berarti persekutuan (communio) antarumat. “Anak Domba Allah”, yang menegaskan lagi kelemahan dan kerapuhan orang, memusatkan perhatian pada komuni sebagai kesatuan dengan Tuhan. Doa-doa penutup dengan berkat mengantar orang kembali kepada hidup sehari-hari.