Bagaimana kita diselamatkan?

Setelah kita melihat dengan jelas bahwa Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma oleh Allah  agar kita terima dengan keyakinan, bukan dengan sesuatu yang kita usahakan dengan perbuatan baik dan berharap bahwa imbalan yang didapat adalah Keselamatan; maka secara wajar muncullah empat pendapat yang keberatan dengan pemahaman tersebut dan biasanya diajukan oleh kelompok orang yang tidak percaya.


Keberatan 1:

Keselamatan kelihatannya seperti kesewenangan. ” Jika kamu percaya, kamu akan diselamatkan; tetapi jika kamu tidak percaya, kamu akan binasa.” Baris tersebut jelas dan diambil dari Kitab suci. Tetapi hal itu kesannya sewenang-wenang seperti seorang bapak yang berkata kepada anaknya: “Jika kamu percaya bahwa saya berumur 3.000 tahun, memiliki darah berwarna hijau, dan datang dari Mars, maka saya akan memberikan sepuluh mobil mewah.” Dari contoh itu kelihatan bahwa tidak ada lagi makna, alasan atau hubungan antara mempercayai kebenaran mengenai Yesus dengan memperoleh upah Kebahagiaan Kekal dibandingkan dengan mempercayai hal yang serupa mengenai ‘bapak’ dan mendapatkan sepuluh mobil tadi.

Jawaban: Argumen keberatan di atas gagal mengenali dua istilah penting dari formulasi “iman -> keselamatan”. Iman bukan hanya kepercayaan intelektual, dan Keselamatan bukan hanya upah yang akan diterima. Iman adalah membiarkan Allah masuk ke jiwa kita; dan Keselamatan, atau Kehidupan Kekal adalah memiliki Allah di dalam jiwa kita.

Itulah sebabnya mengapa Keselamatan bukan mengenai ukuran: kecukupan karya, kecukupan ketulusan, kecukupan kekonservatifan. Tidak ada takaran dengan suatu kesewenangan, seperti sistem penilaian ujian di sekolah. Keselamatan itu seperti pengalaman seorang ibu sedang mengandung; seorang ibu tidak bisa mengandung setengah-setengah. Yang ada hanya kita mengalami hidup baru atau tidak. Hanya satu hal yang dapat memungkinkan kita tidak menerima berkat Kehidupan Kekal ini adalah: penolakan kita. Iman bukan hanya saja percaya kepada Allah tetapi juga menerima Allah (Yoh 1:12). Iman bukan seperti menyetujui suatu perjanjian atau lulus dari suatu ujian, tetapi lebih mirip seperti sedang mengandung.


Keberatan 2:

Sepertinya tidak adil bahwa upah kekal dan hukuman kekal ditentukan berdasarkan pilihan-pilihan sementara (duniawi). Bagaimana bisa sesuatu sebab yang keberlangsungannya hanya sementara dapat mengakibatkan efek yang harus ditanggung untuk selamanya?

Jawaban A: Sama halnya seperti membuka sebuah keran dapat mengalirkan air, atau membuat sebuah retakan pada bendungan dapat menyebabkan banjir, atau membuka jendela menyebabkan udara segar masuk ke ruangan. Iman adalah hanya membiarkan Allah untuk masuk ke jiwa manusia, dimana Allah sebenarnya sudah hadir “di luar” jiwa (karena manusia belum beriman, manusia belum menerima Allah).

Jawaban B: Kita dapat menggunakan dua metafora untuk Keselamatan (selama kita memahami dan mengingat bahwa itu metafora): kita dapat berbicara mengenai “masuk ke” surga atau “memasuki” surga, atau juga kita dapat berbicara mengenai Surga (atau hidup kekal, atau kehidupan Allah) yang dapat dipahami serupa halnya seperti “memasuki” jiwa kita. Kitab Perjanjian Baru menggunakan dua pernyataan: kita ada “di dalam” Kristus dan Kristus ada “di dalam” kita. Tidak jarang pernyataan kedua (Kristus ada “di dalam” kita) adalah cara untuk menjelaskan pernyatan pertama (kita ada “di dalam” kita). Dan mungkin cara ini juga dapat membantu untuk menjelaskan dalam jawaban ini. Keselamatan bukan seperti memasuki suatu arena/ruangan dengan membeli sebuah tiket jika kita mempunyai uang yang cukup (= keadilan); Keselamatan lebih dipahami seperti kita mengijinkan (membiarkan) seorang tamu untuk masuk ke rumah dengan mempercayai dia orang baik-baik (= iman) dengan membukakan pintu.

Jawaban C: Keselamatan itu seperti pernikahan. Pernikahan adalah komitmen permanen, dengan tidak adanya suatu perjanjian sebelumnya yang menentukan kapan berakhirnya atau lamanya suatu pernikahan. Dimana Pernikahan itu dapat terjadi karena suatu pilihan yang dalam rentang waktu tertentu namun menjadikan komitmen untuk selamanya. Begitu juga halnya persatuan kita dengan Allah, kita menerima kehadiran Allah di hati dan jiwa kita juga berdasarkan pilihan untuk suatu Kebahagiaan Kekal, atau sebaliknya.

Jawaban D: Dengan waktu hidup kita yang terbatas, Allah yang kita terima dengan iman atau menolaknya dengan dosa adalah Allah yang abadi, yang tidak terbatas. Penerimaan kita akan kasih dan pengampunan yang tidak terbatas, akan mengarahkan kita ke kekayaan yang tidak terbatas (bukan kekayaan materi, tetapi kekayaan rohani). Sedangkan penolakan akan kasih dan pengampunan yang tidak terbatas akan mengakibatkan kerugian yang tidak terbatas.


Keberatan 3:

Mengapa Allah menuntut kita harus beriman dalam Yesus agar dapat diselamatkan? Hampir semua orang merasa bahwa cukup hanya dengan ketulusan agar dapat diselamatkan oleh Allah, tidak harus beriman dalam Yesus. Karena sangat tidak toleran bagi si A ‘orang yang tidak percaya akan Allah tapi memiliki ketulusan berbuat baik bagi sesama’ akan ditempatkan di neraka; sedangkan si B ‘orang yang percaya akan Allah tapi kurang tulus berbuat baik bagi sesama’ akan ditempatkan di surga. Apa yang Allah harapkan dari manusia selain ketulusan hati manusia itu? Seandainya dilihat dari sisi manusia, itulah yang diharapkan. Nah kenapa Allah mempunyai moralitas, keinginan, tuntutan yang berbeda jika dibandingkan dengan kita.

Jawaban: Tidak ada bidang kehidupan selain dari bidang keagamaan yang dapat menerima bahwa cukup hanya dengan ketulusan dari manusia. Ketulusan mungkin dibutuhkan, tetapi itu tidak mencukupi. Sebagai contoh: Bagi anda cukupkah dengan hanya bermodalkan ketulusan dari seorang dokter bedah akan menjadmin anda dapat sembuh/selamat? atau cukupkah dengan hanya ketulusan dari seorang agen perjalanan anda yakin dapat sampai ditempat tujuan dengan selamat? Apakah cukup dengan hanya ketulusan kita dapat sembuh dari penyakit kanker, kebangkrutan, kecelakaan, atau kematian? dan kiranya jawaban yang sewajarnya adalah Tidak. Dengan demikian mengapa kita dapat mengira bahwa cukup hanya dengan ketulusan dapat menyelamatkan kita dari neraka.

Pendapat keberatan ini bermula dari suatu perubahan pola pikir yang terjadi pada akhir abad ke 1900+. Hampir semua kepercayaan kuno (bukan hanya Kristen) bahwa agama merupakan kebenaran objektif (kebenaran atas suatu kepercayaan), sama halnya kebenaran objektif pada bidang medis atau ekonomi atau geografi. Kebenaran Objektif yang merupakan kebenaran atas suatu objek atas keberadaan objek tersebut. Namun pada perubahan pola pikir yang pada masa akhir abad 1900+ tersebut yaitu pada kelompok moderen tidak melihat bahwa agama merupakan kebenaran objektif, melainkan sebaliknya dan  jauh berbeda dengan kelompok sebelumnya.

Berikut adalah tipe dari kelompok yang memiliki 4 (empat) cara radikal yang berbeda jauh daripada kelompok sebelum moderen.

  1. Kelompok moderen melihat agama bersifat subjektif daripada subjektif, melihat lebih ke arah bahwa  agama merupakan sesuatu yang ada di dalam kita dan dibawah kesadaran kita; daripada melihat ke arah bahwa agama merupakan sesuatu yang menaungi (menjadi ruang) kita dimana keberadaan kita dan kesadaran kita berada di dalamnya. Pengajar keagamaan moderen lebih sedikit berbicara mengenai Allah, dan lebih banyak berbicara perilaku dan pengalaman kehidupan beragama.
  2. Kelompok moderen lebih melihat agama sebagai praktek daripada sebagai teori, hanya melihat ‘kebaikkan’ daripada ‘kebenaran’, hanya melihat sisi moral daripada teologika, hanya melihat ‘suatu cara menjalani hidup’ daripada ‘suatu peta fakta kenyataan’. Oleh karena itu bagi kelompok moderen, agama menjadi pragmatis dan relatif: ‘jika yang diajarkan agama itu berguna bagi kamu, gunakan itu’.
  3. Kelompok moderen lebih melihat agama sebagai hasil karya-manusia dariada hasil karya-Allah, lebih melihat agama sebagai ‘sesuatu yang kita ciptakan’ daripada ‘sesuatu yang kita temukan’, lebih melihat agama sebagai ‘jalan kita menuju kepada Allah’ daripada ‘Jalan Allah untuk menyelamatkan kita’.
  4. Kelompok moderen melihat agama sebagai pendukung keinginan manusia, bukan sebagai pengurang/pembatas keinginan manusia; lebih melihat agama sebagai pengembangan-diri (self-growth) daripada penyangkalan-diri (self-death); lebih melihat agama seperti ‘latihan’ untuk memyehatkan tubuh, bukan seperti ‘operasi/pengobatan’ untuk menyehatkan dari penyakit. Karena bagi kelompok moderen, tidak ada yang namanya penyakit (sesuatu yang buruk) di dalam diri manusia; yang disebut dosa.

Dari ke-4 (empat) cara radikal di atas, sebagian besar kelompok moderen berpendapat bahwa cukup hanya dengan ‘ketulusan’, manusia dapat selamat. Tetapi ada beberapa hal yang bertentangan dengan pendapat dari kelompok moderen ini yaitu:

  1. Ketulusan subjektif belaka dari seseorang tidak cukup bagi orang tersebut apabila berhadapan dengan sesuatu kenyataan secara objektif. Misalnya ketulusan dari seorang dokter ahli bedah tidaklah cukup untuk mengobati pasiennya, dokter tersebut harus benar-benar melakukan operasi bedah yang diperlukan agar pasien tersebut dapat sembuh. Dua hal yang kita butuhkan dalam menghadapi kenyataan secara objektif adalah: kita perlu ketulusan kehendak dalam pencarian, dan benar-benar menjalaninya, melakukan usaha menemukannya.
  2. Dengan hanya berlandaskan Ketulusan juga tidak mencukupi untuk mengajarkan jalan menuju keselamatan, dan seandainya jalan yang diajarkan itu tidak benar, tidak berguna juga.
  3. Dengan hanya berlandaskan Ketulusan tidak dapat menemukan jalan yang telah dirintis oleh seseorang, namun dengan ketulusan itu dapat mengingatkan jalan apa yang telah ditempuh.
  4. Dan Ketulusan belaka tidak cukup untuk menghapus dosa, sama halnya ketulusan tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit kanker. Sebagai contoh: Kita memerlukan seorang dokter yang benar-benar dokter. Kita tidak dapat melakukannya sendiri. Tangan kita gemetar; bagaimana kita dapat membedah tangan kita sendiri? Atau seadainya kita terjatuh ke lumpur hidup yang menyedot kita tenggelam, tidak ada batu pijakan yang dapat membantu kita dapat menyelamatkan diri. Atau seandainya diri kita dijual sebagai budak dan kita tidak mempunyai uang untuk membayar pembebasan kita sendiri. Kita memerlukan lebih dari Ketulusan; kita memerlukan Penolong, Penyelamat. Ketulusan tetap diperlukan agar dapat selamat – karena hanya merekah yang tulus mencari akan menemukan – tetapi Ketulusan tidaklah mencukupi.

Keberatan 4:

Kelihatannya tidak adil bagi seorang penganut pagan untuk dapat Keselamatan, dia harus mengimani Yesus Kristus. Seharusnya seorang pagan yg baik seperti Socrates lebih pantas masuk Surga daripada orang kristen awam yang belum tentu baik.

Jawaban A: Bagaimana kita dapat mengetahui siapa yang masuk surga dan siapa yang tidak masuk? Apakah kita Tuhan? Apakah Surga adalah hadiah yang dapat kita berikan kepada orang lain? Apakah hidup adalah suatu permainan yang peraturannya kita tentukan sendiri?

Jawaban B: Bagaimana kita tahu bahwa si Socrates tidak di dalam Surga? atau mengetahui bahwa orang kristen itu tidak di dalam Surga?

Jawaban C: Keberatan ini menolak data berdasarkan teori, menolak yang telah diketahui berdasarkan ketidaktahuan. Kita tidak tahu siapa yang pantas diselamatkan – kita tidak diberitahu mengenai ini – tetapi kita tahu bagaiman supaya diselamatkan – kita diberitahu mengenai ini, Kita juga mengatahui bahwa Allah tidak bermula. Kita mungkin tidak bisa mengenai Allah secara jelas, terang benerang, kita mengenal Allah sebatas kemampuan kita (karena kita terbatas). Kebijaksanaan Allah juga tampak samar-samar oleh kita karena kita dibatasi waktu dan melihat “melalui kacamata yang buram”. Hanya dari tempat maha tinggi dan sucilah yang dapat melihat keseluruhan dengan jelas.

(sekian)

Apa yang anda pikirkan?