Ave Maria

Sebutan “Bunda Allah” dan “Perawan” sangat erat berhubungan satu dengan yang lain. Kedua sebutan itu mengungkapkan keluhuran Yesus, sekaligus kesucian Maria. Maka di samping kedua gelar tersebut Gereja juga menyatakan bahwa Maria secara total bebas dari dosa dan karena itu juga dari kehancuran maut. Ada empat dogma atau pernyataan iman Gereja yang menyangkut Maria.

  1. Maria adalah Bunda Allah.
  2. Maria adalah Perawan.
  3. Maria terkandung tanpa noda.
  4. Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badannya.

Dogma pertama, bahwa Maria adalah Bunda Allah, sudah dinyatakan oleh Konsili Efesus (431) melawan ajaran Nestorius. Yang kedua, mengenai keperawanan, sejak abad ke-3 diakui dalam syahadat-syahadat dan secara khusus ditegaskan kembali oleh Konsili Konstantinopel II (553). Yang ketiga, bahwa Maria bebas dari dosa sejak kandungan ibunya St. Anna, baru dinyatakan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX. Dan yang terakhir, mengenai pengangkatan ke surga, dimaklumkan oleh Paus Pius XII pada tahun 1950. Hal itu tidak berarti bahwa kedua dogma mengenai kebebasan dari dosa dan kehancuran dunia baru “ditemukan” dalam dua abad terakhir ini. Kebenaran yang secara resmi dirumuskan oleh Pius IX dan Pius XII sudah sejak semula diimani dan dihayati oleh Gereja, hanya belum dinyatakan sebagai dogma atau ajaran resmi. Malahan harus dikatakan bahwa keempat kebenaran itu berkaitan, yang satu tidak lengkap tanpa yang lain.

Dasar segalanya adalah kebenaran iman bahwa Maria itu Bunda Allah: “Bunda Putra Allah, maka putri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus” (LG 53), dan “sebagai Bunda Allah yang tersuci, pantas dihormati oleh Gereja dengan kebaktian yang istimewa” (LG 66). Keperawanan Maria tidak langsung berhubungan dengan panggilannya sebagai Bunda Allah. Konsili Vatikan II menghubungkannya dengan imannya, “Dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putra Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, karena percaya akan utusan Allah, dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan” (LG 63).

Iman berarti penyerahan kepada Allah, dan penyerahan Maria yang total terungkap dalam keperawanannya. Dalam keperawanan Maria tampak bahwa Kristus dan kelahiran-Nya merupakan misteri iman. Oleh karena itu Gereja menegaskan, bahwa Maria itu “pola teladan Gereja yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih” (LG 53 dan 63). Keperawanan Maria berhubungan dengan keibuan-Nya, sejauh ia melahirkan Anak Allah sebab “ia percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Kesucian Maria berhubungan langsung baik dengan keperawanannya maupun dengan keibuannya. Maka dalam Gereja “menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus” (LG 56). Keibuannya terjadi karena naungan Roh Kudus, yang adalah Roh kesucian, dan Maria dengan sepenuhnya menyerahkan diri kepada karya Roh itu, dengan menjawab kepada malaikat, “Jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Iman akan karya Allah membuatnya suci secara total. Itu berarti “tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal” (LG 59). Sejak kandungan ibunya Maria sudah menjadi “kekasih Allah”.

Dari rahmat istimewa ini Gereja langsung menarik kesimpulan bahwa Maria, “sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya” (LG 59). Karena kesuciannya Maria tidak terkena oleh hukuman yang dijatuhkan atas dunia. Menurut hukuman itu, dunia harus dihancurkan dahulu dan kemudian akan diciptakan kembali pada akhir zaman. Bagi Maria tidak ada alasan untuk menantikan kebangkitan dunia seperti yang lain. Sekarang ini ia sudah diperbolehkan mengambil bagian dalam kemuliaan Anaknya. Maria lebih bersatu dengan Kristus, Anaknya, daripada dengan dunia berdosa. “Karena pahala Putranya ia ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan”. Maka “karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul daripada semua makhluk lainnya, baik di surga maupun di bumi” (LG 53). Sekaligus Maria adalah “citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang” (LG 68). Maria itu teladan iman, dasar pengharapan, dan sumber cinta bagi Gereja.

Oleh sebab itu “Konsili (Vatikan II) mendorong semua putra Gereja, supaya mereka dengan rela hati mendukung kebaktian kepada Santa Perawan, terutama yang bersifat liturgis. Juga supaya mereka sungguh menghargai praktik-praktik dan pengamalan bakti kepadanya, yang di sepanjang zaman telah dianjurkan oleh pimpinan Gereja” (LG 67). Anjuran itu juga dilakukan oleh Gereja.

Ada lima belas pesta liturgis yang berhubungan dengan St. Maria:

Santa Perawan Bunda Allah (1 Januari)
Yesus dipersembahkan di Kenisah (2 Februari)
Bunda Maria di Lourdes (11 Februari)
Kabar Sukacita kepada Maria (25 Maret)
Maria mengunjungi Elisabet (31 Mei)
Hati Maria tak bernoda (Sabtu ketiga sesudah Pentekosta)
Bunda Maria di gunung Karmel (16 Juli)
Pemberkatan gereja basilik St. Maria (5 Agustus)
Bunda Maria diangkat ke surga (15 Agustus)
Maria Ratu (22 Agustus)
Kelahiran Santa Perawan Maria (8 September)
Maria berduka cita (15 September)
Maria Ratu Rosario (7 Oktober)
Maria dipersembahkan di kenisah (21 November)
Maria terkandung tanpa noda (8 Desember)

Devosi atau kebaktian kepada Maria yang paling pokok adalah doa “Salam Maria”, yang pada dasarnya terdiri atas dua kutipan dari Kitab Suci (Luk 1:28: “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu”; dan Luk 1:42: “Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus”), ditambah dengan suatu doa permohonan (“Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”).

Kebiasaan mendoakan dua ayat itu bersama sudah ada di dalam Gereja sejak abad ke-6. Satu abad kemudian sudah mulai ditambahkan beberapa kata lain, tetapi doa permohonan itu lama sekali didoakan dalam bentuk yang “bebas”. Baru dalam abad ke-16 doa ini mendapat bentuknya yang sekarang lazim di dalam Gereja. Sejak tahun 1318 juga ada kebiasaan mendoakan Angelus (“Malaikat Tuhan”) dengan lonceng dibunyikan tiga kali sehari, semula dengan maksud mendoakan perdamaian dunia.

Dalam doa rosario “Salam Maria” didoakan 150 kali, yakni 15 kali 10 kali Salam Maria. Setiap puluhan didahului oleh Bapa Kami dan ditutup dengan “Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus” serta “Terpujilah Yesus, Maria, dan Yusuf”. Jumlah 150 berasal dari jumlah mazmur. Mereka yang tidak dapat mendoakan 150 mazmur (karena tidak dapat membaca) diberi kesempatan mendoakan “Salam Maria” 150 kali. Supaya dapat dihitung dengan lebih mudah, maka dipakai tali-sembahyang atau tasbih. Sejak abad ke-13, khususnya karena kerasulan Ordo Dominikan, timbul kebiasaan merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus sambil mendoakan rosario. Peristiwa-peristiwa itu dibagi tiga: peristiwa gembira, peristiwa sedih, dan peristiwa mulia. Dengan demikian, muncul kebiasaan mendoakan rosario dalam tiga tahap, masing-masing terdiri dari 50 Salam Maria.

Karena pesta “Maria Ratu Rosario” dirayakan pada 7 Oktober (sejak 1573 oleh Paus Gregorius XIII); lama-kelamaan seluruh bulan Oktober menjadi bulan Rosario (sejak 1884: Paus Leo XIII). Di Spanyol bulan Mei sudah sejak abad ke-13 dibaktikan secara khusus kepada Maria (kebiasaan ini diambil alih dari Gereja Timur). Sejak abad ke-16 devosi bulan Mei semakin dipropagandakan, khususnya oleh pater-pater Yesuit, dam mulai abad ke-19 menjadi kebiasaan umum di seluruh Gereja. Karena sejak abad ke-10 ada kebiasaan di biara-biara mendoakan ofisi (doa harian) khusus bagi Maria pada hari Sabtu, maka juga hari Sabtu dibaktikan secara khusus kepada Maria.

Dengan demikian, devosi atau kebaktian kepada Maria amat berkembang di dalam Gereja. Bahkan, dapat terjadi bahwa Maria seolah-olah menjadi lebih penting daripada Anaknya sendiri dalam pandangan umat beriman. Oleh sebab itu Konsili Vatikan II “menganjurkan dengan sangat, supaya dalam memandang martabat Bunda Allah yang Istimewa dengan sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan yang palsu, seperti juga kepicikan sikap batin. Hendaklah kaum beriman mengingat, bahwa bakti yang sejati tidak terdiri dari perasaan yang mandul dan yang bersifat sementara, tidak pula dari sikap mudah percaya tanpa dasar. Bakti itu bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak kita mengakui keunggulan, Bunda Allah, dan mendorong kita sebagai putra-putranya mencintai “Bunda kita dan meneladan keutamaan-keutamaannya” (LG 67).

Apa yang anda pikirkan?