Ateisme

Sebetulnya tidak ada masalah mengenai hubungan antara iman dan rasio. Yang ada ialah masalah mengenai hubungan rasio dan gambaran serta rumusan iman. Selama iman masih dihayati sebagai hubungan pribadi dengan Allah, tidak ada masalah. Konsili Vatikan II menyatakan:

“Penyelidikan metodis di semua bidang ilmu, bila dijalankan secara sungguh ilmiah dan menurut kaidah-kaidah kesusilaan, tidak pernah akan sungguh bertentangan dengan iman, karena hal-hal profan dan pokok-pokok iman berasal dari Allah yang sama” (GS 36).

Tetapi kalau orang mulai berbicara mengenai iman, khususnya kalau mulai berusaha mengungkapkan iman dalam bahasa ilmiah, timbullah banyak pertanyaan. Dan karena pertanyaan-pertanyaan itu, bisa terjadi bahwa orang tidak hanya meninggalkan imannya, tetapi juga kepercayaan akan Tuhan sebagai dasar hidup, sampai menjadi ateis.

“Istilah ‘ateisme’ menunjuk kepada gejala-gejala yang sangat berbeda satu dengan lainnya. Sebab ada sekelompok orang yang jelas-jelas mengingkari Allah; ada juga yang beranggapan bahwa manusia sama sekali tidak dapat mengatakan apa-apa tentang Dia; ada pula yang menyelidiki persoalan tentang Allah dengan metode sedemikian rupa, sehingga masalah itu nampak kehilangan makna. Banyak orang secara tidak wajar melampaui batas-batas ilmu-ilmu positif, dengan atau berusaha keras menjelaskan segala sesuatu dengan cara yang melulu ilmiah itu, atau sebaliknya sudah sama sekali tidak menerima adanya kebenaran yang mutlak lagi. Ada yang menjunjung tinggi manusia sedemikian rupa, sehingga iman akan Allah seolah-olah lemah, tak berdaya; agaknya mereka sebetulnya hanya mau mengukuhkan kedudukan manusia dan tidak mengingkari Allah. Ada juga yang menggambarkan Allah sedemikian rupa, sehingga hasil khayalan yang mereka tolak itu memang sama sekali bukan Allah menurut Injil. Orang-orang lain bahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah pun tidak. Sebab rupa-rupanya mereka tidak dapat merasakan soal-soal keagamaan, atau juga tidak melihat mengapa masih perlu mempedulikan agama. Selain itu ateisme tidak jarang timbul atau dari sikap memprotes keras kejahatan yang berkecamuk di dunia, atau karena secara tidak masuk akal mengklaim sifat mutlak dikenakan pada nilai-nilai manusiawi tertentu, sehingga nilai-nilai itu sudah dianggap menggantikan Allah. Peradaban zaman sekarang pun, bukannya dari diri sendiri, melainkan karena terlalu erat terjalin dengan hal-hal duniawi, acap kali dapat lebih mempersulit orang untuk mendekati Allah” (GS 19).

Dalam keprihatinan pastoralnya “Gereja berusaha menggali sebab musababnya yang terselubung, mengapa Dalam pemikiran kaum ateis Allah diingkari. Karena menyadari beratnya masalah yang ditimbulkan oleh ateisme, dan karena terdorong oleh cinta kasih terhadap semua orang, Gereja berpandangan, bahwa soal-soal itu perlu diselidiki secara serius dan lebih mendalam”. Ateisme bukan pertama-tama masalah politik, melainkan soal hati-nurani dan pengalaman hidup. Maka “Gereja juga menyesalkan diskriminasi antara kaum beriman dan kaum tak beriman, yang secara tidak adil diberlakukan oleh beberapa pemimpin negara, yang tidak mengakui hak-hak asasi pribadi manusia”. Gereja yakin bahwa:

” … setiap orang bagi dirinya sendiri tetap menjadi masalah yang tak terselesaikan, ditangkap samar-samar. Sebab pad a saat-saat tertentu, terutama pada peristiwa-peristiwa hidup yang agak penting, tidak seorang pun mampu menghindari sama sekali pertanyaan semacam itu. Persoalan itu hanya Allah saja yang dapat menjawab sepenuhnya dan dengan sepasti-pastinya, Dia yang memanggil manusia ke arah pemikiran yang lebih mendalam dan penyelidikan yang lebih rendah hati.”

Gereja membedakan antara ajaran ateis dan orang ateis, “Gereja, sungguh pun sama sekali menolak ateisme, dengan tulus hati menyatakan, bahwa semua orang, beriman maupun tidak, harus menyumbangkan jasa untuk membangun dengan baik dunia ini, yang merupakan tempat kediaman bersama” (GS 21). Karena membela kebebasan beragama, Gereja juga harus membela mereka yang memilih tidak menganut agama. Iman bersifat bebas, maka mungkin ada orang yang tidak sampai beriman. Gereja mau berusaha mengesampingkan segala sesuatu yang merupakan halangan untuk bertemu dengan Tuhan. Tetapi iman sendiri adalah rahmat Allah yang tidak dapat dipaksakan.

Apa yang anda pikirkan?