Arti dan Makna Cinta kepada Sesama

Dalam ajaran Kristen, kasih kepada sesama mempunyai warna yang khas. Ketika ditanyai oleh seorang ahli Taurat, manakah hukum yang paling utama, Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; itulah hukum yang pertama dan utama.” Yesus langsung menyambung, “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39). Mengasihi Allah dengan sepenuh-penuhnya, itu memang hukum yang pertama. Tetapi kasih kepada sesama oleh Yesus disederajatkan dengan itu. St. Yohanes malah berkata: “Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya; jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta” (1Yoh 4:20). Dalam kasih kepada sesama kasih kepada Allah menjadi nyata. Oleh sebab itu pada akhir zaman orang akan diadili menurut apa yang dibuat bagi sesamanya: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku” (Mat 25:40). Tidak ditanyakan bagaimana orang menyatakan kasihnya kepada Allah. Kasih kepada sesama merupakan pengejawantahan kasih kepada Tuhan. “Barangsiapa mengasihi sesama manusia, ia sudah memenuhi hukum; kasih adalah kepenuhan hukum” (Rm 13:8.10). “Seluruh hukum terpenuhi dalam satu firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Gal 5:14).

Semua agama mengajarkan kasih kepada Allah dan menyatakannya dalam ibadat dan upacara keagamaan. Kekhasan Yesus ialah, bahwa Ia mewujudkan kasih kepada Allah dalam kasih kepada manusia. Ini ciri khas Yesus dan agama Kristen: “Di sini semua orang akan tahu bahwa kamu murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:35). Kekhasan Yesus ialah bahwa Ia berpaling kepada manusia. Dengan demikian iman Kristen tidak hanya ditandai oleh perikemanusiaan, tetapi juga seluruhnya diakarkan dalam kehidupan yang nyata. Manusia baru menjadi diri sendiri dengan sepenuhnya, kalau berhadapan dengan pribadi yang lain. Allah tidak pernah dapat ditangkap selain dalam diri Yesus Kristus, di dalamnya Allah menampilkan diri dalam rupa seorang manusia. Allah selalu nyata bagi orang beriman. Allah baginya menjadi nyata dalam diri sesamanya. Maka di situ manusia ditantang dengan seluruh kehidupannya. Kasih kepada sesama bukan hanya hubungan baik dan manis. Manusia senantiasa menyadari keterbatasan dan kelemahannya sendiri. Dari pengalaman pribadi ia mengetahui bahwa hidupnya merupakan suatu misteri, yang tak mungkin dipahami dengan sepenuhnya. Ia mengetahui pula, bahwa tidak pernah penuh dan sempurna. Dalam kasih ia mau menerima dan mengakui semua itu juga dalam sesamanya. Kasih pertama-tama berarti hormat akan pribadi manusia. Konsili Vatikan II merinci sikap itu sebagai berikut: “Memandang sesama, tanpa kecuali, sebagai dirinya yang lain, terutama dengan mengindahkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan untuk hidup yang layak” (GS 27). Dalam arti inilah hidup Kristen boleh disebut suatu “humanisme”. Allah dan manusia tidak bersaing. Sebaliknya, “kemuliaan Allah adalah hidup manusia” (St. Ireneus). Allah menghendaki perkembangan hidup manusia secara utuh dan penuh.