Aneka Bentuk Doa

Karena isi doa begitu luas, tidak mengherankan bahwa orang menghadap Tuhan dengan aneka cara dan kata. Di dalam kebiasaan Gereja dibedakan dua bentuk doa yang pokok, yakni puji-syukur dan permohonan. Puji-syukur, yang dalam bahasa kuno disebut eukharistia, merupakan tanggapan manusia atas segala anugerah Tuhan. Puji-syukur itu tidak sama dengan “terima kasih”. Puji-syukur pertama-tama mengungkapkan rasa heran dan kagum atas kebaikan Tuhan. Maka dalam “Kemuliaan” Gereja juga dapat berdoa: “Kami bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang besar”. Gereja bersyukur karena kemuliaan Tuhan, bukan karena anugerah yang telah diterimanya. Puji-syukur merupakan kegembiraan bahwa ada Tuhan: Syukur, ada Tuhan! Tentu saja, kebaikan Tuhan diketahui manusia terutama karena anugerah-anugerah, yang telah diberikan oleh-Nya, mulai dengan penciptaan dan kemudian dalam seluruh sejarah keselamatan. Anugerah Allah yang paling besar adalah Putra-Nya, Yesus Kristus, serta Roh yang diutus-Nya dari Bapa. Atas semua anugerah itu orang Kristiani memuji dan memuliakan Tuhan.

Tetapi ternyata manusia berbalik dan jatuh kepada kemalangannya sendiri, dan memohon kepada Allah, supaya “memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:48), sebab Allah itu “tempat perlindungan bagi orang lemah, tempat pengungsian bagi orang miskin dalam kesesakannya” (Yes 25:4). Doa permohonan bukanlah minta-minta. Puji-syukur berarti memuliakan kebaikan dan keluhuran Allah; dalam permohonan diakui dan dinyatakan kelemahan dan kemiskinan manusia. Maka yang pertama-tama dimohon adalah pengampunan dan belas kasihan Tuhan, sebab dosa manusia merupakan sumber kemalangan yang terbesar. Tetapi tidak hanya itu. Sering juga manusia ditimpa malapetaka, yang membuat hidupnya gelap dan membingungkan. Ia mengetahui bahwa semua itu termasuk struktur dunia sebagaimana ada. Maka ia juga tidak minta supaya Tuhan menciptakan dunia yang lain, melainkan supaya Tuhan memberikan kekuatan untuk berjuang terus dalam dunia yang malang ini. Itu berarti ia mohon pengharapan. Manusia memohon kekuatan untuk menerima hidup seadanya, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Berdoa untuk orang lain berarti mengambil bagian dalam perjuangan orang lain di hadapan Allah. Doa tidak lain daripada berjuang di dunia ini, yang tetap diterima dan diakui sebagai anugerah Allah. Permohonan dan puji-syukur tidak bertentangan, melainkan merupakan dua segi dari satu kenyataan hidup. Maka tepatlah nasihat ini: “Bertekunlah dalam doa dan berjaga-jagalah sambil mengucap syukur” (Kol 4:2).

Berdoa berarti dengan jujur menyatakan isi hati, hati orang beriman, di hadapan Tuhan. Tidak penting apakah orang berdoa sendiri atau bersama orang lain, diucapkan dengan mulut atau direnungkan dalam hati. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pkh 3:1). Bisa dengan cara begini, bisa dengan bentuk begitu. Dalam Tradisi Kristen, khususnya dalam tradisi kebiaraan, ditentukan waktu untuk kehidupan doa. Itu baik dan teruji dalam praktik, Tetapi dalam sejarah doa juga timbul kebiasaan merenungkan sabda Tuhan dalam hati, seorang diri. Itu pun baik, dan terbukti berguna. Dalam doa batin malah dibedakan renungan dengan mengutamakan pikiran budi (yang disebut meditasi) dan renungan yang mau memandang dengan hati dan diam di muka rahasia Tuhan (yang disebut kontemplasi). Semua itu baik, dan merupakan hasil perjuangan orang. Gereja mempunyai pengalaman doa berabad-abad. Aneka bentuk dan cara bermunculan dan itu semua dipakai. Semua itu baik sejauh menolong guna menemukan Tuhan. Cara-cara itu dapat dipakai sejauh menolong, dan dibiarkan sejauh merupakan rintangan. Doa ialah pertemuan dengan Tuhan. Kalau orang mencari Tuhan, ia juga akan menemukan Dia (lih. Yer 29:13). Yang pokok, harus mencari. “Ujilah segala sesuatu, dan peganglah yang baik” (1Tes 5:21). Bentuknya tidak mengikat, tetapi isinya, puji-syukur dan permohonan, itu yang harus ada.

Apa yang anda pikirkan?