Anamnese

Dasar kepercayaan akan kebaikan Tuhan bukanlah khayalan atau teori, melainkan karya agung Tuhan sendiri, yang telah memperlihatkan keagungan dan belaskasihan-Nya. Maka puji-syukur selalu disertai dengan “pengenangan” atau anamnese. Anamnese tidak sama dengan peringatan akan peristiwa yang lampau. Sebaliknya dengan mengenangkan yang lampau, orang mampu menghayati kebaikan Tuhan sekarang (dan berani mengajukan permohonannya juga). Dengan mengenangkan kebaikan Tuhan, orang menempatkan diri dalam arus rahmat, yang tidak pernah berhenti. Kebaikan dan keagungan Tuhan sekarang sama dengan kebaikan dan keagungan yang dahulu pernah dinyatakan-Nya. Padahal bagi orang beriman Kristen, kasih-karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia menjadi nyata dalam Yesus Kristus (lih. Ef 2:7; Tit 2:11).

Maka pusat pengenangan Doa Syukur Agung adalah Yesus sendiri, khususnya wafat dan kebangkitan-Nya. Ini tidak hanya sesuai dengan perintah pengenangan, tetapi dengan iman Kristen sendiri. Puji-syukur Kristiani menyangkut “kuat-kuasa Allah, yang dikerjakan-Nya dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Ef 1:20). Dengan mengenangkan penyerahan Kristus kepada Bapa-Nya, orang Kristen ikut menghayati dan mengalami penyerahan itu sendiri, dalam kesatuan dengan Kristus, sebab penyerahan Kristus, yang “dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya” (Ibr 7:27), tidak pernah terhapus lagi. Oleh kebangkitan-Nya penyerahan-Nya kepada Bapa diabadikan, sehingga Yohanes melihat-Nya di surga sebagai “Anak Domba yang telah disembelih” (Why 5:6; 13:8). Penyerahan Kristus itu abadi dan mengenangkannya dalam rangka puji-syukur berarti mempersatukan diri dengan kurban Kristus itu.

Apa yang anda pikirkan?