Analogi duniawi tentang Surga

Konsep Kekristenan mengenai kehidupan setelah kematian sangatlah berbeda dengan semua konsep alternatif yang telah dijelaskan pada halaman sebelumnya, karena konsep Kekristenan berasal dari Wahyu Ilahi, bukan spekulasi dari manusia, atau pengalaman dari manusia. Konsep Kekristenan mengenai kehidupan setelah kematian adalah “Kebangkitan Badan”. Setelah kematian, seluruh pribadi, termasuk roh/jiwa yang telah dimurnikan, disempurnakan, dan tubuh yang telah diperbaharui, dan menjadi kekal oleh kuasa Allah yang super natural, kebangkitan itu menjadi kehidupan yang kekal.

Tetapi bagaimanakah kehidupan baru itu?

Mungkin satu-satunya cara kita dapat mencerna hakikat surga yaitu dengan menganalogikan secara duniawi. Apa yang tidak (belum) tampak dalam pengalaman tidak dapat didefinisikan, hal-hal hanya berkaitan dengan apa yang muncul dalam pengalaman kita lah yang dapat didefinisikan secara analogi. Sebagai contoh kita akan menganalogikan kemacetan jalan raya. Kemacetan di jalan raya daerah Puncak Bogor pada hari libur adalah sama dengan kepadatan jalan raya di kota Jakarta pada setiap hari. Kemacetan jalan raya di kota Sorong (Papua Barat) belum pernah terjadi seperti di daerah Puncak Bogor. Dengan analogi ini bagi anda yang belum pernah tinggal di Kota Sorong dapat mengetahui bahwa jalan-jalan di kota Sorong sangatlah lenggang.

Permasalahannya adalah kita tidak mempunyai ukuran (proporsi) sesuai terhadap surga seperti yang kita lakukan dengan menakar kemacetan di kota Sorong. Yang perlu kita perhatikan dalam menganalogikan surga adalah prinsip transformasi, menjadikan prinsip transformasi menjadi faktor yang penting. Oleh karena itu lebih baik menganalogikan perbandingan surga terhadap bumi adalah seperti kupu-kupu terhadap ulat, atau manusia dewasa dengan janin (bayi yang masih di kandungan ibu).

Dalam menganalogikan surga terhadap hal-hal yang di dunia kita harus:

  1. memulainya dengan analogi yang duniawi, kemudian
  2. mengoreksi analogi tersebut, kemudian
  3. memberikan catatan mengenai alasan melakukan koreksi, dan sangkalan terhadap analogi duniawi tersebut yaitu bahwa bukanlah surga yang kekurangan akan sesuatu yang duniawi, tetapi karena surga jauh melebihi.

Ketiga pendekatan pemahaman ini mirip dengan tiga langkah tradisional dalam memikirkan tentang Tuhan, yang pendekatan tersebut dahulu diteruskan oleh Dionisius Areopagus dan menjadi standar sepanjang masa pertengahan:

  1. Teologi Positif,
  2. Teologi Negatif,
  3. Teologi Superlatif.

Teologi Positif memberikan analogi positif (contohnya: Allah adalah Bapa, Tuhan adalah baik). Jika kita ingin berbicara secara positif mengenai Tuhan atau mengenai surga, kita lebih baik menggunakan analogi daripada secara harfiah, istilah yang univokal. Setelah Teologi Positif kita harus mengoreksi interpretasi harfiah atas analogi yang dibentuk (pada Teologi Positif), inilah yang disebut Teologi Negatif; seperti yang tertulis pada kitab Yesaya 55:8-9: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” dan di 1Korintus 2:9: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Oleh karena itu jika kita ingin pembicaraan kita maju (secara positif) maka kita perlu menggunakan analogi; tetapi jika kita berbicara dengan istilah harfiah maka kita akan menghadapi banyak negosiasi, perdebatan membahas istilah-istilah yang digunakan. Dan pada tahap akhirnya yaitu Teologi Superlatif, dimana teologi ini menjelaskan bahwa semua negasi, sangkalan yang dibuat pada Teologi Negatif adalah batasan dari pikiran kita sebagai manusia, bukan batasan dari objek yang dibicarakan. Tuhan dan surga tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata bukan karena keduanya terlalu samar, kasat mata, dan tidak dapat dirasakan, tetapi karena keduanya haruslah tepat sekali, spesifik, terlalu nyata untuk dinyatakan dengan kata-kata. Bahasa dan konsep yang kita miliki sebagai manusia lah yang tidak memadai.

Dengan demikian, semua bahasa yang positif mengenai surga sudah seharusnya dalam analogi, mengapa demikian? apakah ada yang kita lakukan di bumi akan kita teruskan di surga, dengan bentuk yang lebih tinggi dan berbeda? Dan sepertinya di surga sana tidak diperlukan sama sekali uang, mobil, pengacara, dokter, teknisi, kunci, atau senjata. Lalu apa yang kita bawa dari bumi ketika di surga?

Jawaban terbaik yang kita punya untuk ini adalah seperti yang disarankan oleh Richard Purtill dalam bukunya Thinking about Religion (bab 10) dan dikembangkan oleh Peter Kreeft dalam buku Everthing You Ever Wanted to Know about Heaven (bab 3). Ada 6 (enam) aktivitas yang kita lanjutkan setelah di surga. Ke-6 hal tersebut adalah alasan kita hadir di dunia. Hal-hal tersebut adalah tugas paling mendasar, makna kehidupan. Dan hal-hal itu sangat jarang dapat diselesaikan secara sempurna selama kita di dunia, sehingga hal-hal tersebut harus diteruskan dan diselesaikan di surga. Mengapa harus ke-6 hal-hal tersebut? Karena diantara ke-6 hal-hal itu terdapat 2 (dua) aktivitas manusia yang sangat khas, yaitu mengetahui dan mengasihi, kedua aktivitas itu mengalir dari jiwa, bukan tubuh, dan kedua aktivitas itu membedakan manusia dengan binatang; dan ada tiga objek untuk setiap aktivitas yang sangat berharga dan abadi: Tuhan, sesama, dan diri sendiri. Aktivitas yang menjadi makna hidup kita sebagai manusia di atas bumi dan di dalam surga, adalah :

  1. Mengenal Tuhan;
  2. Mengasihi Tuhan;
  3. Memahami sesama;
  4. Mengasihi sesama;
  5. Memahami diri sendiri;
  6. Mengasihi diri sendiri.

Pemahaman dan kehendak mengasihi mungkin dapat terlaksana di surga maksudnya adalah segala ekspresi duniawi dalam memahami dan mengasihi masih terbatas, kurang nyata, atau samar-samar. Segala hal duniawi baik seni, cinta, puisi, filsafat, teologi, musik, liturgi, dan amal kasih mungkin akan berbuah di surga, layaknya benih semangka akan berbuah semangka.