Allah Pencipta

Umumnya semua yang percaya kepada Allah melihat-Nya sebagai sumber segala sesuatu yang baik di alam ini. Maka Ia disebut Pencipta. Jelas orang Kristen percaya akan Allah sebagai Pencipta.

Rumusan “Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi” terdapat pada permulaan syahadat, baik yang pendek maupun yang panjang. Tetapi yang panjang menambahkan “satu Allah”, dan sesudah “bumi dan langit” masih dikatakan “dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan”, Tambahan ini bukanlah suatu perbedaan yang besar, melainkan memperlihatkan bahwa rumusan syahadat mengalami perkembangan.

Syahadat Pendek
Aku percaya akan Allah, Bapa mahakuasa, Pencipta langit dan bumi.

Syahadat Panjang
Aku percaya akan satu. Allah, Bapa mahakuasa,
Pembuat langit dan bumi, segala yang kelihatan dan tak kelihatan.

Yang lazim disebut “syahadat pendek” secara resmi bernama Syahadat Para Rasul. Ini tidak berarti bahwa para rasul lah yang menulis syahadat ini, meskipun St. Ambrosius mengatakan demikian. Bahkan ada dongeng dari zaman itu juga bahwa masing-masing rasul menyumbangkan satu kalimat, sehingga akhirnya syahadat terdiri dari 12 pernyataan. Yang benar, teks sebagaimana ada sekarang baru berasal dari awal abad ke-8 (710-724). Tetapi ada rumusan yang hampir sama yang berasal dari periode yang lebih awal, mulai abad ke-4. Dan pasti terdapat teks-teks yang lebih kuno lagi. Bahkan syahadat semula tidak ditulis, karena merupakan rahasia orang Kristen. Sebelum pembaptisan, syahadat secara resmi diberikan oleh uskup, lalu harus dihafalkan. Maka kemungkinan besar syahadat berasal dari liturgi, khususnya dari liturgi baptis. Dalam konteks itu syahadat tentu juga dipakai dalam katekese. Dari abad ke-3 ada kesaksian yang merumuskan syahadat dalam bentuk pertanyaan. Orang yang akan dibaptis ditanya, “Percayakah engkau akan Allah Bapa yang Mahakuasa?” Lalu ia menjawab “Ya” dan ditenggelamkan ke dalam air. Begitu juga dengan bagian lain syahadat, sampai tiga kali ia dimasukkan ke dalam air. Sejak abad ke-4 terdapat banyak naskah, baik di Barat maupun di Timur. Tetapi teks yang paling awal tidak diketahui dan tidak jelas tempat asalnya. Namun, karena teks syahadat ditemukan di tempat yang begitu berbeda-beda, para ahli berpendapat bahwa teks asli berasal dari abad ke-2 atau ke-3 dan kemudian tersebar. ke mana-mana. Jadi, teks itu berkembang dalam jemaat-jemaat lokal dan kemudian tersebar ke seluruh Gereja,

Nama resmi untuk syahadat panjang adalah Syahadat Nisea-Konstantinopel, artinya syahadat yang diresmikan pada Konsili Konstantinopel I (381), yang – di samping beberapa perubahan yang lain – menambahkan bagian terakhir syahadat itu (yakni kata-kata sesudah Roh Kudus) pada syahadat yang diresmikan pada Konsili Nisea (325). Sebetulnya tidak seluruhnya jelas apakah syahadat itu dirumuskan kembali pada Konsili Konstantinopel I atau sudah ada sebelumnya. Bagaimanapun juga, Konsili Kalsedon (451) selanjutnya mempergunakan syahadat ini sebagai dasar pembicaraannya. Juga di Barat syahadat ini diterima dan sejak tahun 589 dipakai dalam liturgi. Perbedaan pokok antara syahadat pendek dan syahadat panjang ialah, bahwa yang pertama berasal dari liturgi baptis, sedangkan yang panjang dirumuskan guna membela ajaran Gereja terhadap ajaran-ajaran yang dianggap sesat atau tidak tepat (bidaah).

Pemahaman Penciptaan

“Beginilah firman Tuhan semesta alam: Akulah yang menjadikan bumi, manusia dan hewan yang ada di atas muka bumi dengan kekuatan-Ku yang besar dan dengan lengan-Ku yang terentang” (Yer 27:5). Karya penciptaan itu karya Tuhan. Dan hanya Tuhan sajalah yang dapat menciptakan. Maka manusia sesungguhnya tidak dapat memahami arti penciptaan sebab segala pengetahuan berdasarkan pengalaman dan manusia tidak mempunyai pengalaman pernah sungguh menciptakan sesuatu. Tetapi manusia sadar bahwa Ia diciptakan dan seluruhnya tergantung pada Tuhan, sebagaimana dikatakan oleh Ayub, “Jikalau Ia menarik kembali roh-Nya dan mengembalikan nafas-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu” (Ayb 34:14- 15).

Bagi manusia memahami penciptaan berarti menyadari bahwa ia makhluk, yang seluruhnya bergantung pada Tuhan sebagai sumber hidupnya. Ia berbeda total dengan Dia yang memberikan hidup kepadanya. Sebab,

Semuanya akan binasa, tetapi Engkau tetap ada.
Semuanya akan menjadi usang seperti pakaian:
Seperti jubah Engkau akan mengubah mereka,
dan mereka akan terubah.
Tetapi Engkau tetap sama
dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan

(Mzm 102:27-28).

Penciptaan Itu Sesuatu yang Unik

Manusia terbatas dan Allah tidak terbatas. Maka dalam pertemuan dengan Allah yang tak terbatas, manusia tidak hanya mengalami perbedaan radikal dengan Tuhan, tetapi juga ketergantungan pada-Nya. Dengan berefleksi atas pengalaman dasar, manusia dapat berkata bahwa ciri khas penciptaan ialah bahwa manusia dan dunia seluruhnya diberi hidup oleh Allah. Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan membedakannya dari diri-Nya sendiri. Dengan demikian makhluk-makhluk mempunyai hidup sendiri, yang berbeda dengan Allah. Anehnya, semakin makhluk itu tergantung pada Allah, semakin ia mempunyai hidup sendiri. Sebab Allah justru menciptakannya berbeda dengan diri-Nya. Memang hal ini tidak dapat dibayangkan oleh manusia, sebab semakin manusia tergantung pada manusia yang lain, semakin ia tidak bebas dan berdikari. Tetapi ketergantungan seperti itu berbeda total dengan ketergantungan ciptaan pada Allah. Manusia dan semua makhluk yang lain sungguh dan dengan senyata-nyatanya ada dan terbedakan dari Allah, bukan kendatipun diadakan oleh Allah, melainkan justru karena diciptakan. Penciptaan itu sesuatu yang khas dan unik, yang tidak dapat dibayangkan atau dibandingkan dengan apa yang dialami manusia. Manusia 100% tergantung pada Allah namun sekaligus 100% bebas dan mandiri.

Penciptaan di dalam Kitab Suci

Kitab Suci, sebagaimana ada sekarang, mulai dengan kisah penciptaan: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Tetapi Kitab Suci tidak sekali jadi. Bagian-bagian awal malah ditulis lebih kemudian. Pengalaman iman umat Israel tidak mulai dengan penciptaan atau kemakhlukan, melainkan dengan panggilan Abraham. Kisah penciptaan merupakan refleksi atas misteri manusia yang dikasihi oleh Allah, seperti yang dikatakan dalam Mzm 8:

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama dengan Allah,
dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat

(Mzm 8:5-6).

Bagi orang beriman, penciptaan bukan hanya berarti kesadaran akan kemakhlukannya, melainkan pengakuan akan tindakan kasih dan perhatian Allah. Apa yang dikatakan kepada nabi Yeremia, dirasakan oleh semua orang: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau” (Yer 1:5). Kasih yang dialami sekarang, sebenarnya sudah ada dari semula. Itulah sebabnya Kitab Suci berkata: ”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Allah menciptakan dunia, khususnya manusia, untuk memulai sejarah penyelamatan-Nya. Penciptaan merupakan awal penyelamatan. Tidak hanya pada umumnya, melainkan bagi setiap orang penyelamatan mulai dengan penciptaan. Allah mengadakan manusia sebagai mitra dialog, menjadi sahabat-Nya. Dari kebebasan-Nya yang tak terbatas, Tuhan mengadakan manusia sebagai subjek yang bebas juga, yang otonom, berdikari. Menciptakan manusia sebagai subjek rahmat itulah tindakan Allah yang paling dasariah, Penciptaan merupakan awal dan dasar sejarah Allah dengan manusia, dengan setiap manusia.. Penciptaan bukan hanya awal sejarah keselamatan seluruhnya, melainkan dasar sejarah hidup setiap orang, bahkan dasar setiap saat sejarah manusia.