Allah Bapa Mahakuasa

Manusia selalu berusaha mengenal Allah secara lebih baik, tidak puas memiliki gambaran Allah yang samar-samar. Khususnya filsafat ketuhanan mencoba menggali lebih dalam dan mengembangkan pengetahuan spontan tentang Allah. Lalu Tuhan yang telah dikenal itu digambarkan dalam bentuk simbol-simbol. Salah satu simbol yang paling biasa ialah “Bapa” dalam pengertian yang paling sempurna. Dalam banyak kepercayaan asli Allah disimbolkan dengan Bapa dan Ibu sekaligus. Dalam agama Kristen Allah sering disapa sebagai Bapa.

Yesus mengajar para murid-Nya berdoa “Bapa kami yang ada di surga”. Pewahyuan Allah sebagai “Abba”, Bapa tercinta, menyatakan hubungan timbal balik antara Yesus dengan Allah. Dengan kata “Bapa” dimaksudkan “Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm 15:6). Dan dalam kesatuan dengan Yesus kita pun boleh menyebut Allah “Bapa kita” (Rm 1:7; 1Kor 1:3 dst.; Yoh 20:17). Pewahyuan Allah sebagai Bapa sekaligus menawarkan hubungan timbal balik antara Allah dengan manusia. Allah Bapa dekat dan merangkum, menyelenggarakan hidup kita ..

Dengan sebutan “Bapa” terungkap perhatian Allah bagi manusia, sekarang ini sampai akhir zaman. (St. Agustinus) Tuhan adalah Allah dan Bapa. Allah karena kekuasaan-Nya, Bapa Karena kebaikan-Nya, Dan St. Klemens Romanus (abad I-II) mengatakan bahwa justru sebagai Pencipta, Allah disebut “Bapa”: Bapa dan Pencipta semesta alam “Mahakuasa” berarti penyelenggara dan pengatur segala-galanya.

Paham Yesus mengenai Allah sama dengan orang Yahudi se-zaman-Nya, dan sama dengan Perjanjian Lama. Bagi Yesus juga hanya ada satu Allah, yang satu dan tunggal, yaitu Bapa-Nya di surga. Dia adalah “Bapa yang hidup” (Yoh 6:57), “satu-satunya yang tidak takluk kepada maut” (1Tim 6:16). Sebagai Allah yang hidup (lih. Mat 16:16) Ia tidak hanya mempunyai hidup dan kekuatan pribadi, tetapi juga terbedakan secara total dengan manusia dan semua makhluk fana yang lain. Namun Dialah Allah Perjanjian, yang mengikat manusia secara khusus pada diri-Nya. Dialah Allah keselamatan yang bertindak di dunia ini semata-mata demi keselamatan manusia. Dia adalah “Allah yang hidup dan yang benar” (1Tes 1:9), “yang telah berfirman: Dari dalam gelap akan terbit terang, dan yang juga membuat terang-Nya bercahaya dalam hati kita” (2Kor 4:6).

Di atas segalanya Dialah Allah Kasih, yang “begitu besar kasih-Nya akan dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Hidup ilahi-Nya dinyatakan dalam Anak-Nya itu: “Seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yoh 5:26). Tugas pengutusan Yesus ialah menyatakan Allah kepada dunia. “Yang melihat Aku, ia melihat Bapa” (Yoh 14:9). Kekhasan pengalaman Yesus akan Allah ialah kesadaran bahwa Allah adalah Bapa-Nya, yang disapa dengan sebutan “Abba” (lih. Mrk 14:36; juga Rm 8:15; Gal 4:6). “Bapa tercinta” itulah nama yang dipakai Yesus bagi Allah.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama juga ditemukan penggambaran Allah sebagai Ibu. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15). Karena itu simbol Allah sebagai Ibu, yang melahirkan alam semesta, akhir-akhir ini juga mulai dipakai di kalangan tertentu. Sebab sebutan “Ibu” menekankan iman akan Allah sebagai sumber kehidupan, yang memberi makan, memelihara, merawat dengan penuh kebaikan hati.

Allah memang mahabaik dan penuh perhatian terhadap ciptaan-Nya, Dengan demikian sekaligus terungkap keagungan dan keluhuran-Nya: Allah itu pencipta langit dan bumi, yang kelihatan dan tak kelihatan, Agung dan berkuasa, dan sekaligus penuh rasa kebapaan dan keibuan terhadap makhluk ciptaan-Nya, Pada dasarnya iman akan Allah berarti kepercayaan akan kebaikan-Nya, Dalam kepercayaan itu manusia berani menerima hidupnya, dan segala-sesuatu yang ada di sekitarnya. Karena itu iman membawa rasa aman, Orang beriman sadar bahwa hidup manusia ditampung oleh Allah. Karena “Allah lebih besar daripada hati kita” (1Yoh 3:20), maka kita berani menerima segala ketidak-pastian yang membingungkan hati kita. Dalam iman akan Bapa yang mahakuasa manusia berani menerima ketidakberdayaanya sendiri.