Akulah Allah, Tuhanmu

Dekalog dimulai dengan menarik seluruh perhatian manusia kepada Tuhan: “Akulah Allah, Tuhanmu”. Tetapi hendaknya segera diingat, bahwa Tuhan menciptakan manusia, agar manusia dapat dikasihi-Nya, dan supaya di tengah-tengah penciptaan bergemalah pujian bagi Pencipta, Tuhan itu Allah bagi manusia.

Ketuhanan Puncak Semua Sila

Tuhan dan karya-Nya merupakan dasar bagi hidup dan pandangan hidup manusia. Hal itu tampak juga dalam Pancasila yang mengungkapkan pandangan hidup orang Indonesia. Puncak semua sila adalah sila ketuhanan. Hormat terhadap martabat pribadi manusia, cinta akan tanah air, dan usaha akan keadilan hendaknya dijiwai oleh kepercayaan akan Allah dan oleh tanggung jawab kita di hadapan Pencipta. Pembangunan negara juga kita usahakan karena terdorong oleh kehendak Allah. Oleh sebab itu, agama diberi tempat luhur dalam hidup bernegara. Bahkan sila pertama menjamin kebebasan setiap orang untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya sendiri (UUD 1945, pasal 29, ayat 2). Negara kita tidak teokratis, tetapi juga tidak sekularistik. Artinya, negara kita bukanlah negara agama yang melandaskan diri pada ajaran suatu agama, tetapi juga bukan negara sekularistik yang acuh-tak-acuh terhadap agama atau bahkan menghalang-halangi atau merendahkan agama. Negara kita menghormati dan mengakui keyakinan dasar bahwa hidup dan pandangan hidup manusia terarah kepada yang mengatasi hidup di dunia ini. Maka dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dikatakan bahwa “manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Cintailah Aku lebih daripada Segala Sesuatu

Firman yang pertama sebetulnya lebih daripada perintah atau larangan. Firman itu mengungkapkan bahwa Tuhan itu “Allah yang cemburu” (Kel 20:5 = Ul 5:9). Hal itu juga ditandaskan lagi dalam keterangan pada firman yang kedua. Allah tidak acuh tak acuh terhadap manusia maupun sikapnya. Ikatan Allah dengan manusia adalah kasih, oleh karena itu Tuhan juga menuntut perhatian penuh dari pihak manusia. Maka sebelum disampaikan Dasafirman, Tuhan mengingatkan umat-Nya akan hubungan kasih itu: “Akulah Yahwe, Allahmu, yang telah membawa engkau ke luar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, Janganlah ada padamu ilah-ilah lain di hadapan-Ku” (Kel 20:2-3 = Ul 5:6-7). Dan pada saat Tuhan mengadakan perjanjian dengan umat-Nya, pernyataan itu diulangi lagi (Kel 34:14). Orang dituntut tidak “bercabang hati” (1Raj 18:21). Maka jelas Dasafirman bukanlah uraian teoretis, melainkan penegasan yang amat praktis, Firman pertama bukanlah ajaran teoretis mengenai monoteisme, melainkan tuntutan kesetiaan mutlak terhadap Allah yang Tunggal penuh kasih,

Monoteisme adalah kepercayaan akan Allah tunggal: hanya ada satu Allah saja dan tidak ada lain. Monoteisme berbeda dengan henoteisme, yang tidak mempersoalkan apakah ada hanya satu Allah atau lebih, tetapi memilih berbakti kepada satu saja. Pada awal sejarahnya kepercayaan Israel lebih bersifat henoteisme (lih. Ul 6:13-15). Baru para nabi dengan jelas mengajarkan bahwa dewa-dewa para bangsa lain “sebenarnya bukan allah” (Yer 2:11; lih, 5:7; 16:19-20; Yes 40:21-28; 41:29; dst.). Ketika sudah diajarkan monoteisme penuh, tekanan tetap ada pada sikap praktis dan bukan pada masalah teoretis. Tuhan Yesus juga mengajarkan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama” (Mat 22:37).

Jika ada masalah ateisme yang menyangkut firman pertama, itu bukan ateisme teoretis, melainkan ateisme praktis, Ateisme praktis ialah sikap hidup yang berkeyakinan bahwa Tuhan sebenarnya tidak memainkan peranan yang paling penting dalam hidup manusia.

“Di luar Allah sesungguhnya tidak ada yang ilahi atau pantas disembah. Maka manusia memperbudak diri bila mengilahikan atau memutlakkan kekayaan, kekuasaan, negara, seks, kenikmatan, atau makhluk apa pun yang diciptakan Tuhan, termasuk dirinya sendiri atau rasio. Tuhan sendiri merupakan sumber pembebasan radikal dari segala bentuk penyembahan berhala. Sebab menyembah apa yang tidak boleh disembah dan memutlakkan apa yang tidak mutlak berarti memperkosa hidup batin manusia, yang pada pokoknya berarti hubungan dengan Allah dan pemenuhan pribadi. Jika manusia menjauhkan diri dari segala berhala, manusia menempatkan dirinya kembali ke dalam lingkup asasi kebebasan. Allah, yang bebas dalam arti sesungguhnya, ingin berdialog dengan makhluk-makhluk yang bebas, yang mampu mengambil keputusan sendiri dan dapat bertanggung jawab baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan” (Uskup-uskup Amerika Latin, Puebla, 1979). Ketuhanan berarti bahwa manusia hidup di hadirat Tuhan, mengakui Tuhan dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Ketuhanan menyangkut hidup manusia yang paling dalam dan paling pribadi. Memutlakkan masyarakat dan cita-cita perkembangan berarti memperbudakkan manusia kepada ekonomi dan pembangunan, kepada ilmu dan kehormatan. Dengan mengakui Tuhan sebagai satu-satunya yang mutlak, semua nilai manusiawi menjadi relatif dan tidak dapat dituntut atau diwajibkan secara absolut. Satu-satunya yang dituntut selalu dan di mana-mana ialah hormat terhadap setiap manusia, karena ia dicintai oleh Allah.

Jangan Membuat Patung atau Gambaran Apa pun

Dalam Kitab Suci rumus firman pertama cukup panjang (Kel 20:3-6 == Ul 5:7-10). Sesudah dikatakan “Jangan ada padamu ilah-ilah lain di hadapan-Ku”, masih ditambahkan: “Jangan membuat bagimu patung atau gambaran apa pun; jangan sujud menyembah mereka atau beribadah kepada mereka”.

Dalam rumus Dasafirman yang lazim di kalangan Katolik, semua ini dipandang sebagai satu perintah saja, dan urut-urutannya juga dibalik: “jangan memuja berhala” dahulu, kemudian “berbaktilah kepada-Ku saja”. Tidak lagi disebut patung atau gambaran. Semua itu dirangkum dengan kata “berhala”.

Tetapi ketika Israel menyembah anak lembu emas (Kel 32:1-6), maksud mereka barangkali bukanlah menyembah berhala, melainkan menyembah Tuhan yang digambarkan dalam rupa anak lembu. Namun perbuatan mereka membangkitkan murka Allah. Membuat patung sendiri sudah dosa. Seperti dikatakan dalam Ul 27:15, “Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi Tuhan”,

Dengan membuat patung, orang mencoba mengikat Tuhan pada tempat dan kebaktian tertentu, Padahal Tuhan adalah Yang Mahaagung, dan oleh karena itu tidak bisa dimanipulasikan oleh manusia dengan kebaktian apa pun (lih. Ul 4:15-19). Perbedaan antara ciptaan dan Pencipta amat ditekankan di dalam Kitab Suci. Tuhan adalah Yang Mahabebas. Ia menyatakan diri menurut kehendak-Nya sendiri, Ia menyatakan diri dalam sejarah secara dinamis, tidak secara statis dalam sebuah patung atau gambar. Tuhan menjadi dekat pada manusia dalam tindakan-Nya yang bebas dan berdaulat, bukan dalam simbol-simbol yang sebenarnya hanyalah ungkapan cita-cita manusia. Dalam rupa sebuah patung Tuhan akan sama saja dengan semua dewa dari bangsa sekeliling; tetapi dalam tindakan-Nya Ia membuktikan diri Allah Israel. Tuhan mewahyukan diri dalam sejarah manusia dan tidak dapat dimanipulasikan oleh apa pun. Kita hanya dapat berjumpa dengan Tuhan dalam kejujuran.

Dalam perjumpaan itu, yang penting bukan penampilan dan penampakan Tuhan, melainkan sabda-Nya yang menyapa manusia dan kasih-Nya yang mencurahkan hidup, Di mana-mana orang senang mengartikan secara gaib hal-hal yang tidak dapat mereka jelaskan sendiri. Yang gaib tidak berarti “ilahi” dan tidak pantas di-agamakan. Orang beriman harus waspada, jangan sampai berkhayal dan bertakhayul; jangan sampai ganti sabda Allah yang menyapa, fantasi kita mengenai Allah menjadi penting; jangan sampai orang sibuk dengan ramalan dan perhitungan, menggantikan kasih Allah yang harus kita andalkan dan yang harus kita teruskan. Orang bertakhayul kalau dengan berfantasi mengenai hal-hal yang misterius ia menghindari tanggung jawabnya. Namun kita tidak boleh menganggap rendah kerinduan manusia akan Allah, yang tidak jarang terungkap dalam kata-kata atau perbuatan yang tidak kita mengerti.

Tuhan mengatasi segala-galanya, Ia tidak seperti dewa-dewa para bangsa. Justru dalam perbandingan dengan kepercayaan bangsa- bangsa lain tampak ciri khas iman Israel. Bangsa-bangsa lain menggambarkan dewa-dewa mereka serupa dengan raja dan para penguasa. Bahkan di Mesir dan di Kanaan, raja dilihat sebagai titisan dewa. Oleh karena itu para dewa pada dasarnya sama dengan manusia: makan dan minum, nikah dan dinikahkan, saling berperang, bahkan kadang-kadang terpaksa harus tunduk kepada maut juga. Lain dengan Tuhan, Allah Israel. Ia mengatasi segala-galanya dan tidak membutuhkan seorang manusia sebagai wakilnya, Ia tidak menampakkan diri dalam seorang raja, apalagi dalam sebuah patung. Semula Israel sendiri sebenarnya tidak mengenal raja, Dalam perkembangan sejarah, atas desakan rakyat, Samuel terpaksa mengurapi Saul menjadi raja (1Sam 9:1-10:16). Tetapi kemudian segala malapetaka yang menimpa Israel selalu dihubungkan dengan ketidaktaatan raja, yang kadang-kadang dilihat sebagai saingan dengan Tuhan (lih. 1Sam 8:5-7). Maka ditegaskan, bahwa raja tidak mempunyai kuasa ilahi. Ia hanya pemimpin rakyat, yang bertugas membimbing mereka dalam ketaatan kepada Tuhan.

Gambar yang Membantu Berdoa

Pandangan Katolik terhadap gambar dan patung pada umumnya dirumuskan dengan cukup jelas oleh Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostoliknya Duodecimum Saeculum (Desember 1987), dalam rangka memperingati 1200 tahun Konsili Nisea II (787). Paus berkata antara lain, “Tanpa menyangkal kemungkinan bahwa praktik penyembahan berhala dari agama kafir dapat timbul lagi, Gereja mengizinkan bahwa Tuhan Yesus, Santa Perawan Maria, para martir, santo dan santa diperlihatkan dalam bentuk gambar atau patung guna mendukung doa dan kebaktian kaum beriman.” Dalam masa yang lampau pernah ada gerakan membuang dan menghancurkan patung (ikonoklasme), karena orang berpendapat bahwa Kristus sebagai Putra Allah tidak mungkin digambarkan. Menggambarkan kemanusiaan tanpa keallahan akan memberikan gambaran palsu mengenai Kristus. Paus Yohanes Paulus II menjawab, “Kesenian dapat memperlihatkan bentuk atau lukisan wajah insani Allah dan mengantar orang yang memandangnya ke dalam misteri yang tak terperikan bahwa Allah menjadi manusia demi keselamatan kita”. Dengan mengutip pernyataan Konsili Nisea II, Paus selanjutnya menegaskan bahwa “selalu dibedakan antara sungguh menyembah dan memberi hormat, Menurut keyakinan kita, menyembah hanya boleh dilakukan terhadap Allah. Sedangkan memberi hormat boleh dilakukan untuk gambar dan patung, karena menghormati patung sebenarnya menghormati diri yang digambarkan dalam patung itu”, “Oleh karena itu,” kata Paus, “menggambarkan Kristus menyangkut seluruh iman akan kenyataan inkarnasi (penjelmaan). Alasan Gereja menggambarkan Kristus ialah keyakinan Gereja sendiri, yakni, bahwa Allah, yang mewahyukan diri dalam Yesus Kristus, sungguh menebus dan menguduskan manusia dengan kelima inderanya. Kesenian Kristen sejati membangkitkan pengertian melalui penangkapan inderawi bahwa Tuhan hadir di dalam Gereja-Nya”. .

Banyak orang Protestan mempunyai keberatan terhadap pandangan ini. Dikatakan bahwa perbedaan antara menyembah dan menghormati sering kali tidak atau kurang tampak. Tambahan lagi, perhatian untuk misteri dan untuk pewahyuan misteri dalam Kitab Suci serta pewartaan kurang mendapat perhatian karena patung-patung dan bentuk-bentuk jasmani yang lain. Amat ditekankan bahwa “Allah adalah roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:24). Janganlah kebaktian dipikat oleh bentuk-bentuk lahiriah, sehingga berhenti di situ saja. Kita harus mendengarkan sabda Tuhan dan tidak menggantikannya dengan simbol-simbol pemikiran kita sendiri. Mudah sekali patung, gambar, dan sarana-sarana devosi yang lain bukan lagi bantuan untuk iman, melainkan menjadi sasaran dan titik terakhir kebaktian.

Secara umum boleh dikatakan bahwa iman bukan pertama-tama mencari ungkapan dalam bentuk-bentuk keagamaan, melainkan berusaha mewujudkan diri dalam kehidupan yang nyata. Semua upacara ibadat dan semua barang kebaktian hanya dapat merupakan tanda yang mengarahkan manusia kepada kenyataan hidup yang mengatasi segala keterbatasan. Dalam iman orang harus melepaskan diri ke dalam tangan Tuhan, dan tidak mencoba mengikat Tuhan pada kebaktian manusia. Oleh karena itu, Rasul Paulus menganjurkan “supaya menghunjukkan diri sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah”; dan ditambahkannya: “Itulah ibadah yang tepat” (Rm 12:1). Melaksanakan tugas kemasyarakatan dalam semangat iman itulah yang disebut ibadah yang sejati, luhur, dan manusiawi. Sebab dalam menghadapi tuntutan hidup, orang sungguh ditantang terus-menerus melepaskan diri dan tidak mencari diri sendiri. Dalam pengabdian kepada sesama manusia, orang menyatakan secara konkret penyerahannya kepada Allah. Di situ tidak ada bahaya bahwa ia melekat pada kebaktian buatan tangannya sendiri. Gereja Katolik ingin mempertahankan “praktik untuk menempatkan gambar atau arca suci dalam gereja-gereja, supaya kaum beriman dapat melakukan penghormatan. Akan tetapi hal itu hendaknya dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan serta menurut tata-susunan yang wajar, jadi jangan sampai hal itu membangkitkan keheranan umat Kristen atau memberikan peluang untuk devosi yang kurang sehat” (KHK kan. 1188).

Apa yang anda pikirkan?