Ajaran Kitab Suci mengenai Keadilan

Biasanya tuntutan-tuntutan keadilan sosial dibicarakan berhubungan dengan firman ke-7, ke-8, dan ke-10 dari 10 Perintah Allah: Jangan mencuri, Jangan bersaksi dusta terhadap saudaramu! Jangan ingin akan milik sesamamu manusia secara tidak adil! Jelaslah bahwa larangan-larangan itu semua berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut hidup sosial. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa rumus ketiga firman ini (dan mungkin juga isinya) tidak tepat sama dengan rumus di dalam Kitab Suci. Ketiga firman itu mengalami perkembangan dalam rumusan maupun dalam maksud. Maka sebaiknya diperhatikan perkembangan itu agar maksudnya dapat dimengerti dengan tepat.

Rumus firman ke-7 memang secara harfiah sama seperti Kel 20:15 dan Ul 5:19, “Jangan mencuri”. Tetapi yang dimaksud dalam Kitab Suci barangkali: Jangan mencuri orang! Jangan menculik orang dan kemudian menjual dia sebagai budak, sebagaimana dengan jelas dikatakan dalam Kel 21:16, “Yang menculik seorang manusia, entah sudah menjualnya entah masih memilikinya, harus mati”. Menculik dianggap sama dengan membunuh. Merampas kebebasan seseorang sama dengan mengambil hidupnya. Kendati perbudakan cukup umum dalam masyarakat kuno, tradisi Israel mengecamnya: “Kalau seseorang kedapatan menculik salah seorang saudara, seorang Israel, dan memperbudak dia, maka harus matilah si penculik itu” (Ul 24:7). Orang Israel tidak boleh diperbudak sebab “mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari Mesir”, sabda Tuhan, “janganlah mereka itu dijual sebagai budak” (Im 25:42). Kalaupun untuk melunasi utangnya seorang Israel terpaksa menjual diri dan keluarganya, mereka harus dibebaskan pada tahun kelima puluh, pada tahun kesukaan Tuhan.

Dalam masyarakat kuno Timur Tengah, perbudakan pertama-tama berarti kerja paksa untuk melunasi utang. Selain itu, ada budak-budak tawanan perang atau “orang asing” dari luar negeri yang dijual di Israel. Orang yang lahir dari budak otomatis menjadi budak. Ada kalanya dalam masyarakat feodal, budak-budak diperlakukan sama seperti orang biasa; dalam masyarakat modern orang yakin perbudakan menginjak martabat manusia. Agama Kristen – kendati menegaskan bahwa semua orang anak Allah – tidak menentang praktik perbudakan di masyarakat Romawi kuno, tetapi mengajarkan sikap praktis yang “manusiawi” terhadap para budak. Dalam praktik, khususnya pada masa perang, ajaran human itu sering dilupakan. Dibutuhkan waktu amat lama, sampai keyakinan iman akan Allah yang menebus semua manusia, terwujud juga dalam usaha menghapus perbudakan. Bahkan pada waktu di Eropa Barat perbudakan mulai dihapus, di daerah jajahan Spanyol dan Portugis, Inggris dan Belanda malah dikembangkan. Protes dan aksi sosial para misionaris berdampak sangat kecil (dan kadang-kadang diakhiri dengan pengusiran para misionaris). Gerakan-gerakan revolusioner di abad ke-18 dan ke-19 berusaha supaya perbudakan dihapus secara radikal. Pada tahun 1948, dalam Deklarasi Hak-hak Asasi Manuela oleh PBB, “institusi” perbudakan secara resmi dilarang. Namun sampai sekarang tetap berlaku peringatan Paus Leo XIII: buruh jangan diperlakukan sebagai budak.

Firman ke-10 biasanya dihubungkan langsung dengan firman ke-7: “Jangan mencuri dan jangan ingin akan milik sesamamu manusia secara tidak adil.” Tetapi, sebagaimana perintah ke-7 dalam Perjanjian Lama mempunyai arti yang lebih khusus, begitu juga perintah ke-10. Pertama-tama perintah ini melarang orang “mengingini” rumah sesama (Kel 20:17), yakni memakai macam-macam siasat guna memperoleh pusaka sesama, tanahnya, rumah dan segala isinya, termasuk istrinya! “Menculik” adalah ketidakadilan terhadap pribadi sesama, “mengingini milik pusakanya” juga merupakan tindakan yang tidak adil karena merongrong hidup sesama, biarpun secara tidak langsung. Dalam Ul 5:21, dipakai dua kata yang senada: dilarang terlebih dahulu mengingini istri sesama dan selanjutnya menghasratkan rumah, ladang dan semuanya yang lain; dan begitulah mulai dibedakan larangan mengingini istri sesama (yang dekat dengan perintah ke-6) dan larangan menghasratkan milik sesama (yang dekat dengan perintah ke-7). Selanjutnya ditekankan, bahwa “dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan” (Mrk 7:21-22). Keadilan mulai dalam pikiran dan hasrat hati dan tidak hanya menyangkut kebebasan sesama atau harta-pusakanya, tetapi juga nama baiknya dan kepastian hukum.

Dalam firman ke-8 dikatakan, “Jangan bersaksi dusta”. Kitab Suci tidak berkata “saksi dusta terhadap sesamamu”, melainkan “saksi dusta tentang sesamamu”, sebab semula perintah ini menyangkut kesaksian di pengadilan. Dengan kesaksian palsu orang dicelakakan, karena ia dihukum tidak adil (mungkin malah dihukum mati) dan tata keadilan dijungkirbalikkan. Sebetulnya masalahnya bukan “bohong”, melainkan tidak adanya lagi kepastian hukum yang dapat diandalkan. Maka, dikatakan dalam Kel 23:1-3.6-8:

“Jangan menyebarkan kabar bohong!
Jangan memihak si jahat dengan memberi kesaksian salah!
Jangan membiarkan diri diseret ke dalam kejahatan oleh massa!
Jangan, kalau memberi kesaksian dalam pengadilan,
bersekongkol dengan orang kebanyakan untuk membelokkan keadilan!
Jangan berat-sebelah terhadap orang kecil dalam pengadilan!
Jangan merampas hak orang miskin di pengadilan!
Jauhilah penipuan!
Jangan membunuh orang baik dan benar! Jangan menerima suap!”

Semua itu diringkas dalam Ul 16:19, “Jangan memutar-balikkan hukum; jangan memandang bulu; dan jangan menerima suap”. Inilah maksud firman ke-8. Di muka pengadilan orang menyatakan kesetiaannya baik terhadap si terdakwa, sesama manusia, maupun terhadap masyarakat, umat Allah. Sebab dalam umat Allah, “pengadilan adalah kepunyaan Allah” (Ul 1:17), yakni kepunyaan “Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar” (Ul 32:4).

Dalam umat Allah, keadilan itu bersifat sosial dan religius sekaligus, karena dalam umat Allah hidup adil diatur sesuai dengan hukum dan dengan hidup adil diwujudkan perjanjian Allah dengan umat-Nya. Hukum macam itu diberikan Tuhan dengan perantaraan Musa. Tuhan sendiri disebut “adil”, karena Ia setia dan bertindak sesuai dengan perjanjian. Demi kesetiaan yang sama dan menurut kehendak Allah, umat Allah harus hidup adil dalam paguyuban manusia, sebagaimana diungkapkan dalam hukum, Orang harus “bersumpah dalam kesetiaan, dalam keadilan dan dalam kebenaran” (Yer 4:2). Dengan menjaga hak dan keadilan antarsesama, orang menyatakan kesetiaannya kepada Tuhan dan perjanjian-Nya. Maka bagi umat Allah, keadilan bukan hanya keseimbangan sosial dan tata-tertib hukum; di hadapan Allah, keadilan menyangkut sikap hati yang setia terhadap Allah. Keadilan Allah terhadap manusia adalah kesetiaan-Nya; kesetiaan umat terhadap Allah terwujud dalam keadilan di ruang pengadilan dan dalam seluruh hidup masyarakat.

Tuhan memperlihatkan keadilan-Nya bukan hanya dengan menghukum, melainkan terutama dengan memberi ampun: “Tuhan adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang” (Mzm 116:5). Tuhan itu setia, bukan pertama-tama kepada perjanjian melainkan kepada manusia yang dikasihi-Nya. Keadilan Allah yang setia berwujud cinta dan belas kasihan; maka dalam umat yang setia pada Allah, keadilan tidak dapat dibatasi pada keseimbangan hak dan kewajiban. Di hadapan Allah yang adil dalam belas kasih-Nya, keadilan sosial mesti berwujud cinta dan belas kasihan. “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm 85:11), walaupun tempatnya yang utama adalah ruang pengadilan (lih. Ul 16:18-20).

Perjanjian Baru dengan Allah mesti memperbarui juga keadilan antar manusia. Khotbah di bukit menuntut, agar jemaat Kristus menjalankan keadilan yang melebihi keadilan para ahli Taurat dan mengatasi prinsip “mata ganti mata, gigi ganti gigi”: “Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Mat 5:40). Dengan melawan dan membalas, kejahatan tak pernah akan diatasi. Guna membangun keadilan, di tengah-tengah kecurigaan dan kecurangan perlu awal baru: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian terlebih dahulu kepada mereka, itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 7:12). Menurut Yesus, “seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” tergantung pada dua hukum kasih yang oleh Yesus dipersatukan: kasih yang mengerjakan keadilan pada sesama dan kasih setia pada Allah yang demi kesetiaan-Nya membenarkan manusia (Mrk 12:29-31).

Apa yang anda pikirkan?