Ajaran Alkitab tentang “jangan Membunuh”

Dalam Perjanjian Lama terdapat empat kata dengan arti “membunuh”, yang masing-masing memiliki maksud sendiri. Kata yang dipakai dalam firman kelima (Kel 20:13 dan Ul 5:17) tidak pernah dipakai untuk pembunuhan dalam perang atau untuk hukuman mati; juga tidak dipakai dalam pernyataan yang mengatakan bahwa Tuhan “mengambil hidup”. Firman kelima melarang merampas kehidupan dengan sengaja, dari seseorang yang tidak bersalah dan yang tidak memberi perlawanan: “Jika seseorang memukul orang dengan benda besi (atau dengan sebuah batu atau dengan benda kayu) supaya mati dan orang itu mati, maka ia adalah seorang pembunuh. Pembunuh itu akan dimatikan” (Bil 35:16-18). Bahkan dikatakan: “jika ia dengan rasa permusuhan memukul dia dengan tangannya, dan orang itu mati, maka ia adalah seorang pembunuh; penebus (goel) darah harus mematikan pembunuh itu” (ay. 21).

Yang disebut “penebus” atau “penuntut darah” (dalam bahasa Ibrani goel) adalah seseorang yang bertugas melindungi keluarga saudaranya serta milik, kesejahteraan dan nama baik mereka. Dan bila saudaranya dibunuh, ia berhak, bahkan wajib membalas dendam (Bil 35:19; Ul 19:6-10). Tindakan balas dendam ini tidak disebut “membunuh”, karena memang ada alasannya.

Kalau seseorang dengan tidak sengaja membunuh orang lain, ia memang disebut “pembunuh”, tetapi ia dapat melarikan diri ke tempat perlindungan, agar ia bebas dari balas dendam. Dalam Ul 4:41-42 dikatakan, bahwa “Musa mengkhususkan tiga kota, supaya seorang pembunuh yang membunuh temannya dengan tidak sengaja dan tanpa memusuhinya lebih dahulu, dapat melarikan diri ke sana” (lih. juga 19:3-4; Bil 35:6.11-12; Yos 20:2-3). Pembunuhan benar-benar terjadi bila ada unsur kesengajaan.

Selain karena kesengajaan, orang dapat juga menjadi pembunuh karena ketidakberdayaan korbannya. Ahab disebut seorang pembunuh, karena dengan pengadilan yang curang ia menghukum mati Nabot dan merampas ladangnya (1Raj 21:19). Dalam pembunuhan selalu ada unsur ketidakadilan (lih. 2Raj 6:32 mengenai raja Ahazia yang mengancam hidup Elisa). Oleh karena itu, membunuh dihitung di antara dosa yang paling berat (lih. Ayb 24:14; Mzm 62:4; 94:6; Yer 7:9; Hos 4:2; 6:9).

Sikap Perjanjian Baru terhadap pembunuhan kurang lebih sama seperti Perjanjian Lama: firman yang kelima dikutip beberapa kali (Mat 5:21; 19:18 dsj., Rm 13:9 dan Yak 2:11). Barabas disebut “pembunuh”. Petrus mendakwa orang Yahudi, bahwa mereka “menolak Yang Kudus dan Benar (yaitu Yesus), serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu” (Kis 3:14). Pembunuhan dipandang sebagai puncak kejahatan, karena merupakan puncak ketidakadilan. Maka surat Yakobus (5:5-6) memperingatkan dengan keras orang-orang yang “hidup dalam kemewahan … dan berfoya-foya di bumi … yang menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan.” Mereka itu dituduh karena merampas milik, termasuk milik yang paling asasi, yakni hidup orang-orang yang tidak bersalah dan yang tidak dapat membela diri. Firman “jangan membunuh” membela hak manusia yang paling dasariah, yaitu hak atas hidup.

Apa yang anda pikirkan?