Agama Islam

1. Islam dan Umat Islam

Islam (bahasa Arab) berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, masuk ke dalam suasana damai, sejahtera, dan hubungan serasi, baik antarsesama manusia maupun antara manusia dan Allah. Pemeluk agama Islam pria disebut muslim (jamak: muslimin), sedangkan yang wanita disebut muslimah (jamak: muslimat). Mereka mengimani bahwa agama Islam seluruhnya secara lengkap, sebagai suatu sistem, berasal dari Allah sendiri yang mewahyukannya kepada Muhammad dengan perantaraan malaikat Jibril.

Orang-orang muslimin merupakan sebuah kelompok yang terjalin erat berkat iman pada agama yang sama. Persekutuan muslimin ini disebut ummah atau ummat. Ikatan berdasarkan agama yang sama ini disebut ukhuwah islamiyah yang berarti persaudaraan Islam. Dengan memeluk agama Islam, seorang muslim dihubungkan dengan orang muslim lain sebagai saudaranya sendiri, tanpa peduli dari suku dan bangsa apa pun asalnya. Ikatan ukhuwah islamiyah-lah yang merupakan kekuatan baru yang mampu menyatukan penduduk jazirah Arab yang terdiri atas beraneka ragam suku itu menjadi satu kekuatan dahsyat (sosial, politik, dill militer) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ikatan sosial yang berdasarkan persamaan darah (keturunan) diganti dengan ikatan yang berdasarkan persamaan agama. Kendati ummah ini sering dilanda oleh konflik-konflik internal yang parah, bila menghadapi tantangan dari musuh yang sama; mereka dapat dengan mudah melupakan perselisihan yang ada dan bersatu padu menghadapi musuh bersama tersebut.

Ummah ini seharusnya dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut khalifah, yang berarti wakil atau pengganti. Dia menggantikan kedudukan Muhammad, bukan sebagai nabi dan rasul, melainkan sebagai pemimpin dalam bidang sosial, politik, dan semua hal yang berkaitan dengannya. Sejak hancurnya ke-khalifah-an Abasiyah di Baghdad pada tahun 1256, karena dihancurleburkan oleh pasukan Mongol Hulagu, umat Islam mengalami kekosongan kepemimpinan sampai sekarang.

2. Tauhid, Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

Islam merupakan agama monoteis dengan tekanan yang amat kuat pada Allah yang Mahabesar (Allahu akbar menjadi seruan yang kerap digunakan di mana-mana). Monoteisme Islam (yang disebut tauhid) sedemikian ditekankan sehingga tak ada toleransi sedikit pun terhadap apa pun juga yang dapat mengaburkan keesaan Allah. Syirk atau “men-syarikat-kan Allah” berarti menempatkan sesuatu, betapapun kecilnya, di samping atau sejajar dengan Allah. Syirk merupakan dosa yang terbesar. Tekanan pada tauhid ini bisa dimengerti, mengingat masyarakat Mekah, tempat agama ini muncul dan berkembang, pada waktu itu menganut paham keagamaan politeis dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Mereka percaya pada ratusan dewa-dewi, yang masing-masing menguasai sektor-sektor kehidupan dan alam tertentu. Perikehidupan dewa-dewi itu sejajar saja dengan perikehidupan manusia, yaitu saling bersaing, kawin-mengawinkan, beranak dan diperanakkan. Muhammad mengajarkan dengan setandas-tandasnya bahwa Allah adalah esa, tidak memperanakkan dan tidak diperanakkan (Allah al wahid, lam yalid wa la yulad).

Allah yang diimani mempunyai 20 sifat, antara lain wujud (berada), baqa (kekal), alim (mahatahu), quddus (suci), adil (adil), akbar (mahabesar). Di samping 20 sifat, Allah mempunyai 100 nama yang indah (al asma al husna); yang pertama adalah Allah itu sendiri, yang lain misalnya al Wahid (Yang Maha Esa), al Rahman (Yang Maha Pengasih), al Qayyum (Yang Hidup dan Berdiri pada Dhat-Nya sendiri), al Qadir (Mahakuasa), al Khaliq (Sang Pencipta), al Mutakalim (Yang bersabda kepada manusia). Orang muslim yang saleh mencoba selalu mengucapkan keseratus nama Allah yang indah ini dengan pertolongan sebuah tasbih yang berupa sebuah untaian 100 butir-butiran.

3. Iman Islam

Kesaksian pokok iman Islam dirumuskan dalam kalimat syahadat yang terdiri atas dua kalimat (karena itu dinamakan juga “dua kalimat syahadat”). Yang pertama kesaksian atas Allah Yang Maha Esa, sedangkan yang kedua kesaksian atas Muhammad sebagai rasul Allah. “Saya bersaksi bahwa hanya ada Satu Allah dan saya pun bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah” (ashhadu anna la illaha illa allah, wa ashhadu anna muhammad al rasul allah). Kalimat syahadat ini diucapkan pada waktu orang menjadi muslim (sebagai ucapan upacara inisiasi dari non-Islam ke Islam) dan waktu akad nikah.

Syahadat akan Allah yang Maha Esa ini merupakan salah satu dari enam rukun iman dalam Islam. Kelima rukun iman lainnya adalah percaya pada Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Kiamat, dan Takdir Ilahi.

Islam mengajarkan bahwa dalam kurun waktu tertentu Allah memberikan wahyu-Nya kepada manusia tertentu dengan perantaraan malaikat Jibril. Orang yang mendapat wahyu ini disebut nabi dan jumlahnya banyak sekali. Adam, Luth, Ibrahim, Daud, dan Isa misalnya adalah para nabi. Bila nabi itu diutus mewartakan wahyu yang diterimanya itu kepada orang-orang lain, ia disebut rasul, yang berarti utusan (Allah). Jadi, tidak semua nabi itu rasul, tetapi semua rasul adalah nabi.

Wahyu yang diberikan kepada para nabi itu berupa sebuah Kitab Suci yang merupakan kutipan langsung dari induk Kitab Suci (umm al kitab) yang tersimpan di surga (al lauh al mahfudz). Kitab Suci yang diberikan kepada Musa disebut Taurat. Daud memperoleh kitab Zabur dan Isa mendapat Kitab Injil. Karena semuanya berasal dari satu sumber yang sama, isi kesemuanya itu seharusnya sama, tetapi ternyata saling berbeda, karena umat yang bersangkutan telah menyelewengkannya. Karena itu, Allah memberikan Al-Qur’an kepada segenap umat manusia melalui Muhammad, dalam bahasa Arab dan merupakan Kitab Suci terakhir dan tersempurna dari segala kitab yang pernah ada, dengan maksud meluruskan petunjuk-petunjuk yang pernah diwahyukan. Islam merupakan petunjuk Allah yang terakhir dan tersempurna.

Kedudukan Al-Qur’an dalam kehidupan umat Islam sangatlah sentral, melebihi kedudukan Muhammad sendiri. Di dalam Al-Qur’an termuat wahyu ilahi sendiri secara sempurna, tanpa cacat sedikit pun. Termuat di dalamnya segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupannya, baik yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan (hal ini disebut ibadah) maupun yang mengatur perikehidupan antarmanusia yang disebut mu’amalat. Bidang mu’amalat ini tidak terbatas pada yang bersifat keagamaan belaka, melainkan juga ekonomi, sosial, politik, budaya, militer, dan lain-lain, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Bahkan, dikatakan bahwa ilmu pengetahuan modern seperti iptek dengan hasilnya berupa satelit, pesawat terbang, dan sebagainya sudah termuat dalam Al-Qur’an. Karena itu, AI-Qur’an sangat dihormati. Membacanya pun merupakan suatu ibadat yang sangat mendatangkan pahala, tidak hanya bagi yang membacanya melainkan juga bagi yang mendengarkannya. Karena itu, muncullah berbagai seni membaca Al-Qur’an yang sekarang dipertandingkan dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) yang berarti pertandingan pembacaan Al-Qur’an. Supaya sebanyak mungkin orang dapat memperoleh pahala, pembacaan Al-Qur’an tidak hanya di dalam hati, tetapi dengan suara yang dapat didengarkan juga oleh orang lain. Bahkan dewasa ini dipergunakan secara luas alat komunikasi massa seperti radio, TV, atau pengeras suara biasa.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan juga berbagai tokoh dari Perjanjian Lama, tetapi cerita yang ada hanyalah sepotong-sepotong, tidak merupakan suatu cerita yang utuh. Isa Ibn Maryam (sebutan untuk Yesus dari Nazaret) dengan panjang lebar dikemukakan sebagai seorang nabi yang istimewa, lahir melalui mukjizat (tanpa ayah), mengajar dan membuat banyak mukjizat. Ia pun terberkati, kudus, murni, rasul Allah, jalan orang saleh, pengantara, bahkan disebut sebagai Kalimat Allah dan Roh Allah. Akan tetapi dia bukanlah Allah. Maria diceritakan berkaitan dengan Isa al Masih Ibn Maryam ini. Bagian Al-Qur’an yang memuat hal ini dinamakan Surah al Maryam.

4. Arkan al-Islam

Seperti diterangkan di atas, Islam berarti penyerahan diri secara total kepada Allah. Sebagai orang muslim (yakni: orang yang menyerahkan diri secara total kepada Allah), sikap yang tepat bagi seseorang di hadapan Allah ialah takwa dan takut kepada Allah, taat pada segala perintah-Nya, sebagaimana dituliskan dalam Al Qur’an. Manusia adalah hamba dan abdi Allah. Kewajiban-kewajiban pokok yang harus dijalankan oleh setiap orang muslim terangkum dalam lima rukun Islam atau pilar penyangga keislaman (arkan al Islam), yakni: syahadat, shalat lima waktu, saum (puasa dalam bulan Ramadhan), zakat, dan hajj (naik haji ke Mekah).

5. Al Ahham al Khamsa: Lima Hukum Islam

Tujuan hidup manusia ialah mencari ridha ilahi, mencari perkenanan Allah, hidup sedemikian rupa sehingga Allah tidak marah, melainkan berkenan. Perbuatan-perbuatan yang berkenan pada Allah (disebut halal) mendatangkan pahala bagi pelakunya. Sebaliknya, perbuatan yang menimbulkan kemarahan Allah (disebut haram) menimpakan hukuman pada pelakunya. Semua hal di dunia ini (benda dan kelakuan manusia) masuk dalam salah satu dari lima kategori hukum Islam (dinamakan al ahkam al khamsa, yang berarti ‘lima hukum’):

  1. Wajib atau fardh: sesuatu yang harus dilakukan.
  2. Sunnah atau mustahabb: sesuatu yang sebaiknya dilakukan.
  3. Mubah atau jaiz: sesuatu: yang diperbolehkan.
  4. Makruh: sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan.
  5. Haram: hal yang dilarang.

Adakah sesuatu hal itu halal atau haram, tidak ditentukan oleh nilai intrisiknya, melainkan oleh keputusan Allah sendiri. Halal haramnya sesuatu dapat diketahui dari Al-Qur’an sendiri. Bila tidak ada di dalam Al-Qur’an, diaculah sumber yang kedua yakni Sunnah Nabi, yakni perkataan, tingkah laku dan perbuatan nabi Muhammad sendiri. Sunnah Nabi dikumpulkan dalam kitab-kitab yang disebut Kitab Hadis. Hadis berarti tradisi, tetapi di sini hanyalah tradisi atau adat kebiasaan Muhammad itu sendiri. Bila baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi sesuatu tidak dapat dipecahkan, para ulama Islam menyelidiki dan menyimpulkannya (ijtihad) dengan jalan qiyas (persamaan, kemiripan masalah dengan yang terdapat dalam Al-Qur’an atau Sunnah Nabi), secara ijma (kesepakatan di antara para ulama). Keempat hal tadi (Al-Qur’an, Sunnah Nabi, ijma, dan qiyas) dinamakan usul al fiqh dalam sistem hukum Islam.

Dalam penafsiran dan penyusunan hukum Islam ini muncul pelbagai aliran atau madzhab. Yang terpenting sekarang ini ialah: madzhab Hanfi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Pada prinsipnya setiap orang muslim boleh memilih untuk dirinya sendiri madzhab mana yang dianut. Indonesia menganut madzhab Syafi’i.

6. Tasawwuf: Mistik dalam Islam

Dalam sejarah perkembangan umat Islam, ilmu Fiqh (hukum Islam) menempati peranan yang utama. Karena terlalu menekankan hukum, muncullah penghayatan keagamaan yang sangat legalistis. Hubungan dengan Allah menjadi kering, sehingga tidak memuaskan mereka yang ingin mencari Tuhan terdorong oleh cinta rindu terhadap-Nya, dan tidak hanya sekadar memenuhi peraturan-peraturan. Muncullah gerakan mistik dalam umat Islam dan cara penghayatan keagamaan ini terkenal dengan nama tasawwuf, sedangkan orang yang menjalankan cara hidup ini disebut sufi. Kendati tidak disukai oleh kelompok lain, tasawwuf ini berkembang dalam Islam sampai hari ini dan telah menghasilkan banyak sufi kenamaan seperti al Hallaj dan ar Rabi’a (putri) yang dihukum mati oleh kelompok muslim lain karena tuduhan menghujat Allah. Hampir semua wali dari Wali Sanga (khususnya Faletehan) yang menyebarkan Islam di pulau Jawa adalah orang-orang sufi (mistik).

7. Gereja Katolik dan Islam

Dalam Dekrit Konsili Vatikan II, tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan Kristen (NA 3), sikap Gereja Katolik terhadap Islam dirumuskan sebagai berikut:

“Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belas kasihan, mahakuasa; Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham – iman Islam dengan suka rela mengacu kepadanya – telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormati-Nya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan Hari Pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit. Maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah, dan berpuasa.

Memang benar, di sepanjang zaman cukup sering telah timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristen dan Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua supaya melupakan yang sudah-sudah dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral, maupun perdamaian dan kebebasan.”