Agama Hindu Dharma

Dalam agama Hindu terdapat banyak aliran dan kelompok. Salah satunya yang ada di Indonesia, sejak Mahasabha Parishada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tahun 1993, disebut agama Hindu Dharma. Semula agama ini dikenal dengan nama agama Hindu Bali, karena di dalamnya terdapat banyak unsur agama Bali asli. Proses hinduisasi pulau Bali, yang mulai sebelum tahun 1000, merupakan proses integrasi agama Hindu ke dalam kebudayaan Bali, yang bersatu padu dengan agama asli Bali. Sesudah zaman Majapahit (abad ke-13) Hindu Jawa berkembang di Bali. Sejak tahun 1930-an mulai suatu transformasi agama di Bali sehingga pada tahun 1959 agama ini diakui oleh Pemerintah Pusat sebagai salah satu agama resmi di Indonesia yang berdasarkan monoteisme.

Sejak tahun 1950 ada usaha “memurnikan” agama “Hindu Bali” dari unsur-unsur yang sebenarnya tidak sungguh Hindu. Dalam rangka itu pada tahun 1959 didirikan Dewan Agama Hindu Bali yang namanya kemudian diganti menjadi Parishada Dharma Hindu Bali dan sejak 1964 menjadi Parishada Hindu Dharma. Semula organisasi agama Hindu Dharma ini bernama Parishada Hindu Dharma Pusat (PHDP), kemudian sejak Mahasabha PHDP tahun 1993 diubah menjadi Parishada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Seperti dalam agama Hindu pada umumnya, unsur pokok penghayatan agama Hindu Dharma muncul dalam bentuk ibadat, khususnya berupa upacara-upacara harian yang dilaksanakan di tempat-tempat dan pada saat-saat yang berkaitan erat dengan irama hidup manusia setiap hari, seperti di sekitar rumah tinggal, sumber-sumber air, persawahan, pada waktu matahari terbit, dan matahari terbenam serta waktu-waktu panting lainnya. Tradisi Bali sangat mementingkan keseimbangan antara roh baik (dharma) dan roh jahat (adharma). Upacara-upacara ini terutama terdiri atas pemberian sesajen, yang dilakukan oleh kaum wanita.

Langsung berhubungan dengan ibadat adalah bangunan-bangunan pura, yang tidak hanya merupakan tempat di upacara ibadah dilaksanakan, tetapi juga menjadi pusat kebudayaan dan hidup sosial.

Para Pedanda (sulinggih) di Bali jarang muncul di pura-pura untuk upacara. Fungsi utama para pendanda (yang hanya berjumlah 500 orang) adalah upacara harian pada pamrajan (pura rumah tangga) di tempat kediaman. Upacara ini untuk penahbisan Tirta (air suci) dan disebut surya sewana atau maweda. Upacara di pura-pura umum dipimpin oleh pemangku yang jumlahnya ribuan. Yang dapat menjadi pedanda hanyalah orang yang berasal dari kasta brahmana.

Dalam upacara dan perayaan itu kelihatan bahwa banyak dewa dan dewi menentukan hidup orang Bali. Kendati demikian, dasar agama adalah Kitab-kitab suci agama Hindu yang sudah mulai ditulis sejak tahun 2000 SM., yang kemudian dikembangkan dan diperkaya dengan tradisi asli Bali. Dalam Hindu Dharma terkenal kitab-kitab Weda, Usana Bali, dan juga Upanisad. Isi tulisan suci ini beraneka ragam, tetapi bagian yang terbesar berupa doa dan himne, juga ajaran mengenai Allah (Brahman), dewa-dewa, alam, dan manusia. Ajaran-ajaran tersebut tidak mengikat secara ketat dogmatis, sehingga ada beraneka aliran dan pandangan dalam ajaran Hindu.

Yang menjadi tujuan pokok hidup manusia menurut Hindu Dharma (dan Hindu pada umumnya) adalah moksha, yaitu pembebasan dari lingkaran reinkarnasi yang tak habis-habisnya (samsara). Pembebasan ataupun moksha ini dapat dicapai melalui tiga jalan (trimarga): yaitu karma-marga, jnana-marga, dan bhakti-marga. Dengan karma-marga orang ingin mencapai moksha dengan melakukan karya, askese badani, yoga, tapa, ketaatan pada aturan-aturan kasta. Karya-karya yang paling berharga dalam karma-marga adalah samskara, yakni kedua belas upacara liturgis yang berkaitan dengan tahap-tahap kehidupan seseorang. Dengan Jnana-marga, penyucian diri guna mencapai moksha dilakukan dengan jalan askese budi, mengheningkan cipta dalam meditasi, dengan. tujuan semakin menyadari kesatuan dirinya dengan Sang Brahman. Sedangkan dengan Bhakti-marga orang menyucikan diri dengan penyerahan diri seutuhnya menuju pertemuan dalam cinta-kasih dengan Tuhan.

Kendati dalam trimarga tersebut kelihatannya pusat perhatian adalah pribadi seseorang dan bukan umat, namun dalam kehidupan bermasyarakat di dalam masyarakat Bali, yang amat dipentingkan adalah kepentingan umum sedemikian sehingga kepentingan pribadi (walaupun berkaitan dengan hak asasi manusia) perlu dikorbankan demi kepentingan umum atau kepentingan desa (adat).

Agama Hindu (di India) memang mengenal pembagian masyarakat menjadi empat kasta (caturwarna): brahmana, ksatria (keduanya adalah kasta bangsawan, rajawi), waiseya (petani, prajurit, dan pedagang) dan sudra / Jaba (rakyat jelata). Sebenarnya di luar yang empat ini masih ada kelompok kelima yang disebut paria, yakni mereka yang tersisih, tak mempunyai tempat sosial, marginal dan terbuang. Sistem caturwarna ini disertai dengan peraturan-peraturan yang terasa diskriminatif (varnacramadharma). Namun demikian, dalam agama Hindu Dharma pembagian tersebut hanya tinggal sisa-sisanya yang tak begitu berarti lagi.

Hari raya Nyepi merupakan hari besar keagamaan yang dirayakan sebagai hari libur nasional. Kendati hari Nyepi ini jatuh pada pergantian tahun baru Saka, hari tersebut bukanlah hari mengadakan perayaan pesta, melainkan hari untuk menyucikan dan memperkuat diri terhadap pengaruh roh-roh jahat. Pada hari ini umat Hindu dilarang menyalakan api, melakukan pekerjaan, bepergian, dan melangsungkan hubungan seks, Selain itu masih banyak hari raya lain. Galungan misalnya, yang jatuh pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan, setiap 210 hari sekali. Tujuannya memohon ke hadapan Ida Sanghyang Widhi, Bhatara-Bhatari, dan para leluhur agar pemujanya dianugerahi keselamatan dan kesejahteraan.

Apa yang anda pikirkan?