Agama Budha

Agama Budha berasal dari Gautama Sidharta Cakyamuni (554-478 SM), seorang pangeran yang dibesarkan dan dididik dalam lingkungan agama Hindu di India Utara. Pertemuannya dengan kenyataan hidup yang penuh kepahitan (penderitaan, penyakit, kemiskinan, dan kematian yang diderita rakyat jelata) yang begitu bertolak belakang dengan kemewahan kehidupan istana yang dinikmatinya, mendorong dia untuk meninggalkan semua kemewahan tersebut dan mengundurkan diri untuk bertapa di hutan di bawah sebuah pohon yang kemudian diberi nama pohon bodhi. Berkat pemusatan cipta dan pikiran, akhirnya dia memperoleh pencerahan, penerangan (bodhi). Sebagai seorang budha (yakni seorang yang telah memperoleh bodhi, pencerahan, penerangan) dia mengkhotbahkan jalan baru tersebut guna memperoleh kebebasan dari lingkaran hukum karmasamsara (lingkaran reinkarnasi yang ditentukan oleh perbuatan atau karma masing-masing orang selama hidupnya). Ternyata dengan usaha sendiri, seseorang dapat terbebas dari karmasamsara; dan hal ini tidak ditentukan oleh kedudukannya dalam kasta tertentu sebagaimana diajarkan oleh agama Hindu.

Inti ajaran Budha mengenai hidup manusia tercantum dalam Catur Arya Satya, yang berarti Empat Kasunyatan atau Kebenaran Mulia, yaitu: 1. Dukha-Satya: hidup dalam segala bentuk adalah penderitaan; 2. Samudaya-Satya: sebab penderitaan ialah karena manusia memiliki keinginan dan nafsu; 3. Nirodha-Satya: penderitaan itu dapat dilenyapkan (moksha) dan orang mencapai nirvana (kebahagiaan), dengan membuang segala keinginan dan nafsu; dan 4. Marga-Satya: jalan untuk mencapai pelenyapan penderitaan sehingga dapat masuk ke dalam Nirvana adalah Delapan Jalan Utama (asta-arya-marga), yaitu keyakinan yang benar; pikiran yang benar, perkataan yang benar, perbuatan yang benar, penghidupan yang benar, daya upaya yang benar, perhatian yang benar, dan semedi yang benar.

Dalam hukum karmasamsara, manusia terikat oleh perbuatannya (karma) pada roda kehidupannya (cakra). Itulah sebabnya lambang budhisme sekarang adalah sebuah lingkaran dengan delapan sudut mata angin, yang juga menjadi denah candi Borobudur. Orang Budha percaya bahwa setiap kurun waktu tertentu Budha menjelma sebagai Bodhisatwa di delapan penjuru mata angin. Dari lahir hingga kematiannya manusia berpindah-pindah tempat pada pelbagai alam (loka) dan ruang (gati), yakni kamaloka (alam indera dan nafsu), rupaloka (alam tanggapan), dan arupaloka (alam bebas dari keinginan, nafsu, dan pikiran). Tingkat-tingkat perjalanan dunia kehidupan manusia ini dicerminkan pada susunan candi Borobudur dalam cara bagaimana Budha dipatungkan. Di tingkat yang paling bawah (kamaloka) tidak ada patung Budha. Yang ada hanya kehidupan yang dipenuhi dengan keinginan dan nafsu. Bagian candi yang menggambarkan hal ini sebagian besar tertutup oleh tanah. Tingkat di atasnya adalah rupaloka: di sana Budha dipatungkan duduk tanpa penutup stupa. Tingkat di atasnya lagi Budha dipatungkan dengan penutup stupa tetapi masih berlubang-lubang, yang menggambarkan bahwa pengasingannya dari keinginan dan nafsu belum sempurna. Tingkat kesempurnaan dicapai bila manusia dapat membebaskan diri dari segala keinginan dan nafsu, dan telah mencapai nirvana. Ini digambarkan dengan patung Budha dalam stupa tunggal yang masif dan besar di puncak candi.

Dengan menjalani Marga-Satya, orang dapat mencapai penerangan tertinggi (bodhi), yakni bila jiwa, batin, atau diri manusia secara sempurna dibebaskan dari segala ikatan ketiga ilusi besar tentang adanya roh, diri, dan dunia, karena ketiga-tiganya sebenarnya adalah maya atau ilusi belaka. Dengan demikian, orang mencapai kebahagiaan (suka), keamanan (abhaya) dan kedamaian (shanti) yang olehnya ketiga ilusi besar tadi diganti dengan tiga kebenaran, yakni: tanpa diri (anatman), tiada apa-apa (anitya), dan kekosongan sempurna (sunya). Inilah yang dinamakan nirvana: kelenyapan diri yang total. Inilah jati segala-galanya dan merupakan kebahagiaan sempurna.

Kitab Suci agama Budha terdapat dalam Tripitaka (berarti tiga keranjang) yang merupakan kumpulan dari Sutra (yang berisi khotbah-khotbah Sang Budha), Vinaya (peraturan biara) dan Abhidharma (uraian kanon kitab suci Budhisme). Ketiga keranjang ini tidak tertutup, melainkan terbuka bagi perkembangan dan penafsiran lanjut yang beraneka ragam.

Oleh karena itu, berkembanglah kemudian tiga aliran pokok dalam Budhisme yang disebut Tryana, yaitu Theravada (yang disebut juga sebagai Hinayana), Mahayana, dan Wajrayan (yang disebut juga sebagai Tantrayana). Dalam Theravada, penganut-penganutnya mencari keselamatan secara individual. Hanya sedikit yang dapat mencapainya, karena itu dinamakan Hinayana. Sedangkan dalam Mahayana, orang yang sudah memperoleh penerangan tertinggi menunda saat mencapai nirvana guna menolong orang lain mencapai tingkat ini. Karena banyak orang yang dapat mencapainya, aliran ini disebut Mahayana. Dalam Mahayana, diri Budha diberi kedudukan transenden dan disembah sebagai dewa yang dapat dimintai perantaraannya. Inilah juga yang berkembang di Indonesia sehingga tanpa banyak kesulitan dapat memasukkan diri dalam agama-agama monoteis. Sedangkan dalam Wajrayana (yang berarti kendaraan intan) Budha dipandang sebagai dhat pribadi “yang gemilang” bagaikan intan, yang menjadi asal dan tujuan hidup manusia. Kesatuan dengannya diusahakan melalui upacara, mantera, perbuatan sakti, gnostik, dan magi.

Agama Budha (aliran Mahayana) sempat berkembang pesat dan menjadi besar di Indonesia. Dua kerajaan besar yang terkenal ialah Sriwijaya (660 – 1385) di Sumatra Selatan dan dinasti Cailendra di Jawa Tengah/Timur bagian Selatan. Candi Borobudur merupakan monumen Budhis yang terbesar di dunia. Dalam kurun waktu sesudahnya agama Budha merosot di Indonesia, lalu digantikan dengan para penganut Budha yang berasal dari daratan Tiongkok yang sudah banyak dipengaruhi oleh budaya dan agama asli Tiongkok.

Kebangkitan Budhisme di Indonesia tidak bersumber langsung pada periode Budhis klasik, melainkan terjadi akibat pemurnian Sam Kauw atau Tridharma. Sam Kauw merupakan sinkretisme tradisional antara Hud Kauw (Budhisme Mahayana), To Kauw (Taoisme), dan Khong Kauw (Konfusianisme). Mulai 1956 unsur Hud Kauw dipisahkan dari kedua unsur lain dan dipelihara sebagai agama tersendiri dalam kontak dengan kebangkitan Budhisme internasional. Usaha ini sudah mulai sejak tahun 1953. Pada tahun 1955 didirikan Sangha Suci Indonesia, yang pada tahun 1974 dinamakan Sangha Agung Indonesia. Sangha adalah lembaga kebiaraan untuk para bhikshu yang harus taat kepada ratusan sila atau peraturan. Berbicara mengenai peraturan, maka semua umat Budha, baik yang bhikshu, upasaka (semi-biarawan), maupun awam biasa terikat pada lima larangan (yang disebut pancasila): jangan membunuh, mencuri, berdusta, mabuk, dan cabul. Selain Budha dan Sangha, masih ada Dharma yang berarti hukum abadi. Ketiganya merupakan Triratna yang merupakan ajaran lengkap budhisme.

Di samping itu, pada tahun 1954 didirikan PUUI (Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia), dan empat tahun kemudian menjadi BUDHI (Budha Dharma Indonesia). Selain itu, sejak tahun 1958 juga didirikan PERBUDHI (Perhimpunan Buddhis Indonesia). Melalui berbagai langkah yang tidak mudah, akhirnya pada Kongres Umat Budha Indonesia yang diselenggarakan pada tahun 1979 di Yogyakarta dibentuklah organisasi yang merupakan gabungan sembilan organisasi agama Budha Indonesia, dengan nama Perwalian Umat Budha Indonesia (WALUBI). Hari Raya umat Budha yang terpenting dan menjadi hari raya nasional di Indonesia ialah Waisak yang memperingati dan merayakan sekaligus tiga peristiwa besar dari Sang Budha Gautama, yaitu (1) saat kelahiran Pangeran Sidharta di Taman Lumbini; (2) saat pencapaian penerangan sempurna di hutan Uruvela di bawah pohon boddhi; dan (3) saat mangkat-nya (parinibbana) Budha Gautama di Kusinara. Sekarang hari raya Waisak dirayakan secara meriah dan besar-besaran dari kompleks candi Mendut hingga mencapai puncaknya di candi Borobudur.