Agama Asli

Dalam agama-agama asli sangat terasa adanya kepercayaan akan adanya kesatuan dunia ini dengan alam gaib. Sementara itu terasa pula bahwa di dunia ini manusia seolah-olah bergerak dalam ruangnya sendiri. Manusia seolah-olah menghayati hidupnya dalam dua arah, yang tidak disamakan biarpun terjalin satu sama lain. Pengalaman akan keburukan dan kejahatan memperingatkan manusia bahwa kedaulatannya di dunia ini tidak mutlak. Maka ia mengalami yang mengatasi dan mengarahkan semua itu, dan menyatakan ketakwaannya dalam upacara-upacara khusus, Kebanyakan agama asli mengenal upacara-upacara untuk mendamaikan dunia ini dengan alam baka, yang beraneka nama dan bentuknya.

Agama-agama asli umumnya agama suku. Oleh sebab itu umat-Nya terbatas pada suku itu. Atau mungkin dapat dikatakan agama-agama suku itu adalah bentuk masa kini agama-agama asli Indonesia yang saat ini ditemukan di antara suku-suku Batak, Nias, Mentawai, Dayak, Toraja dan di banyak bagian Indonesia Timur seperti Irian Jaya dan Nusa Tenggara Timur. Sampai batas tertentu agama Jawa (kejawen) dapat pula dikelompokkan dalam agama-agama suku ini, meskipun belakangan bercampur dengan unsur-unsur Hinduisme, Budhisme, dan Islam serta menunjukkan cirinya sendiri dalam pelbagai bentuk mistisisme. Ciri utama agama asli ini ialah upacara yang dilakukan pada berbagai kesempatan dalam hidup ini, karena agama asli berkaitan langsung dengan hidup yang biasa serta dunia sekelilingnya. Maka kebanyakan upacara berkaitan dengan hidup yang konkret, seperti upacara mulai panen padi, upacara membuat rumah, pemberkatan desa, dan lain sebagainya. Juga peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang; seperti kelahiran, inisiasi, perkawinan, kematian senantiasa diiringi dengan upacara khusus. Dalam upacara-upacara itu ada seorang pemimpin, yang biasanya memainkan peranan penting bukan hanya waktu upacara, tetapi dalam seluruh kehidupan. Hampir semua upacara, terlebih upacara kurban, selalu mempunyai dua maksud, yakni mencegah bahaya dan kesusahan, serta mendapatkan belas kasihan dari para dewata. Maka prinsip “do ut des” tampil jelas dalam upacara. Prinsip ini misalnya dapat dilihat jelas dalam upacara selamatan, yang dipraktikkan di antara suku Jawa. Kata selamatan berhubungan dengan selamat, artinya kesejahteraan, kebaikan, keamanan, kemakmuran, selamat dari bencana-bencana alam dan gangguan-gangguan adikodrati.

Ciri lain agama-agama asli ini ialah kepercayaannya akan roh-roh (roh nenek moyang atau lainnya), yang ada di gunung-gunung, sungai, sawah, pepohonan, dan lain-lain. Roh-roh ini dipercayai memiliki kekuatan yang berbahaya atau menguntungkan, tergantung pada sikap seseorang terhadapnya. Sering upacara-upacara kepada roh-roh ini jauh lebih dominan, sebab mungkin para dewa dianggap jauh (transenden) dan tidak mengganggu, dibandingkan dengan roh-roh itu. Dalam hubungan itu menurut kaca mata orang modern sering dirasakan adanya takhayul dalam kepercayaan dan upacara-upacara agama asli itu. Seluruh kekayaan agama asli ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi. Kebanyakan agama asli yang merupakan pula agama suku itu tidak memiliki kitab suci.