Agama-agama Indonesia

Peta agama-agama di Indonesia menunjukkan adanya perjumpaan antara aneka bentuk keagamaan. Ada agama suku atau agama asli dan ada aneka agama internasional. Semua hidup bersama dalam harmoni toleransi dan dialog, dan semua – dalam bentuk bagaimana pun – mengalami pengaruh satu dari yang lain. Agama-agama di Indonesia hidup dan berkembang dalam hubungan (dan kadang-kadang dalam konfrontasi) satu dengan yang lain. Pengaruh itu biasanya tidak langsung, melainkan berjalan melalui bahasa dan kebudayaan bersama. Dengan demikian banyak istilah dan rumusan dari agama yang satu juga dipakai dalam agama yang lain, tetapi sering dengan arti yang berbeda. Oleh karena itu, orang perlu mengenal dan mengetahui agama-agama yang lain itu, bukan hanya demi dialog dan hubungan baik antar-agama, tetapi juga supaya dengan lebih tepat mengetahui dan menyadari kekhasan dan jatidiri agamanya sendiri.

Oleh Konsili Vatikan II dialog antara Gereja Katolik dan agama-agama lain sangat didorong dan dimajukan. Umat Katolik dinasihati “supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka” (NA 2). Konsili mengharapkan supaya “dialog yang terbuka mengajak semua untuk dengan setia menyambut dorongan-dorongan Roh serta mematuhinya dengan gembira” (GS 92). Oleh karena itu sesudah Konsili Vatikan II dialog antaragama diadakan di mana-mana. Dalam sebuah dokumen resmi dari 1991, Dialog dan Pewartaan, malah ditegaskan bahwa “Konsili Vatikan II dengan jelas mengakui nilai-nilai positif, tidak hanya dalam hidup religius orang beriman pribadi, yang menganut tradisi keagamaan yang lain, tetapi juga dalam tradisi religius itu sendiri”. Dengan tegas Konsili Vatikan II mengatakan bahwa “di luar persekutuan Gereja pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran” (LG 8). Maka dialog tidak hanya berarti hubungan baik antara agama. Dalam dialog semua orang, baik yang Kristiani maupun yang lain, diajak agar memperdalam sikap iman di hadapan Allah. Dalam pertemuan dengan agama lain, justru karena berbeda, orang digugah dari kelesuan rutin supaya menemukan arah yang sesungguhnya dari iman dan kepercayaan. Dialog yang benar berarti kesaksian iman, bukan perbandingan (atau konfrontasi) perumusan. Sebagaimana agama harus dimengerti “dari dalam”, dari pengalaman iman pribadi, begitu juga dialog antar-agama pertama-tama berarti penghayatan iman bersama. Oleh karena itu dialog antaragama, yang adalah dialog iman, tidak pernah dapat dilepaskan dari kasih dan pengharapan. Kasih sebagai tanda penyerahan kepada Tuhan; pengharapan sebagai keterbukaan untuk karya Roh, yang “bertiup ke mana ia mau” (Yoh 3:8). “Gereja, yang mengembara di dunia ini, dalam sakramen-sakramen serta lembaga-lembaganya yang termasuk dunia ini, mengemban citra zaman sekarang yang akan lalu” (LG 48). Apa yang dikatakan Konsili Vatikan II mengenai Gereja sendiri, berlaku untuk semua agama. Agama, sebagai pengungkapan iman dalam bahasa dan kebudayaan masyarakat, bersifat sementara. Justru karena ikatannya pada sejarah kebudayaan, maka agama tidak mutlak. Yang mutlak hanyalah Allah dan iman kepadanya. Segala yang lain bersifat sementara dan tidak mutlak.

Demi dialog antaragama – baik untuk mengenal agama-agama yang lain maupun untuk lebih menyadari pokok agamanya sendiri – selanjutnya akan dibicarakan (secara amat singkat) kekhasan masing-masing agama yang ada di Indonesia. Dengan mengikuti perkembangan sejarah, akan dibicarakan dahulu agama-agama asli, khususnya sejauh berkembang menjadi Kepercayaan akan Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya agama Hindu, Budha dan Islam. Kerangka pembicaraan mengikuti “ciri-ciri” agama umum, yang telah disebut di atas, yakni umat, tradisi, ibadat, tempat ibadat dan pemimpin ibadat. Sebab apa yang dialami dalam persekutuan, bersumber pada tradisi, dan kemudian disadari serta dirasakan lebih intensif dalam praktik ibadat, yang terarah kepada penghayatan dalam hidup sehari-hari.

Apa yang anda pikirkan?