Sakramentali


Bidang liturgi Gereja tidak terbatas pada sakramen dan Ibadat Harian saja. “Selain itu, Bunda Gereja telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan sakramen-sakramen. Sakramentali juga menandakan karunia-karunia, khususnya yang bersifat rohani, yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja” (SC 60). Perbedaan antara sakramen dan sakramentali, ialah bahwa sakramen menyangkut Gereja seluruhnya dan merupakan pelaksanaan diri Gereja dalam bidang perayaan; sedangkan sakramentali selalu bersifat khusus, merupakan perwujudan doa Gereja bagi orang tertentu, entah pribadi entah secara kelompok. Oleh karena itu sakramentali bukanlah perwujudan kehadiran Kristus di dalam Gereja dalam arti sesungguhnya, melainkan bentuk doa permohonan Gereja yang konkret.

Maka ada banyak sekali upacara atau simbol-simbol yang disebut sakramentali, misalnya doa-doa tertentu, tanda salib, jalan salib, segala macam berkat, pengusiran setan, juga patung, khususnya salib, medali, air suci, abu (pada Rabu Abu), palma (pada Minggu Palma). Beberapa sakramentali berhubungan langsung dengan perayaan sakramen, mis. pemberkatan air baptis, juga pemberian lilin baptis dan pakaian putih, malahan pengurapan sesudah permandian; dalam sakramen perkawinan: doa atas cincin perkawinan dan pemberkatan kedua mempelai. Tetapi juga ada yang mempunyai arti khusus dalam hidup orang seperti kaul kebiaraan, pemberkatan busana kebiaraan, pemberkatan ladang dan panen. Pendeknya, untuk segala situasi kehidupan yang penting, yang pantas disertai doa permohonan Gereja, kiranya ada sakramentali. Sebab “bila manusia menggunakan benda-benda dengan pantas, boleh dikatakan tidak ada satu pun yang tak dapat dimanfaatkan untuk menguduskan manusia dan memuliakan Allah” (SC 61). Tentang peraturan mengenai hak dan wewenang mengadakan sakramentali lihat KHK kan. 1166-1172.

Sakramentali harus dipahami dalam kerangka hidup liturgis Gereja, bukan sebagai tindakan lepas, yang mempunyai arti dalam dirinya sendiri. Ada yang dengan jelas termasuk bidang liturgis, karena kaitannya dengan sakramen atau dengan perayaan gerejawi. Tetapi segala macam sakramentali dalam lingkungan keluarga juga harus dihubungkan dengan doa Gereja. Sakramentali tidak mempunyai daya ilahi dari dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh merupakan perwujudan sikap doa Gereja. Karena itu sakramentali janganlah dipandang hanya sebagai sarana untuk memperoleh rahmat, tetapi juga dan terutama sebagai upacara keagamaan yang mau menghormati dan meluhurkan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s